Penyuluh Agama Islam beri Biaya Pendidikan Kaum Marginal

Kuningan, Ciremainews – Setiap hari Sabtu di bulan Juni dan Juli  2020 pada masa pandemi Covid 19, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Selatan, Dzurrotun Ghola  yang didampingi Siti Asiyah warga binaan Penyuluhan lapak Pemulung Lebak Bulus melakukan blusukan kunjungan ke beberapa sekolah SMK dan sekolah kejar paket.

Kegiatan ini dalam rangka dakwah bil maal, membantu biaya pendidikan anak-anak remaja kaum marginal binaannya dengan menebus ijazah yang tertahan bertahun-tahun di sekolahnya. Mereka adalah Nahwawi (yatim piatu), Abdurahman (piatu), Kartina (dhuafa), Trisna (dhuafa), Zahra (yatim piatu), Ade Cahyani (yatim). Ketidakmampuan keluarga mereka tidak bisa membayar tungggakan SPP yang terlalu besar (Rp. 700ribu hingga Rp. 4,6juta), menyebabkan ijazah anak-anak remaja ini di tahan oleh pihak sekolah, sehingga anak anak yang kurang beruntung ini tidak bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.

Sebagian anak-anak iniada yang bersekolah di SMK lalu ijazah ditahan, membuat anak-anak ini tidak bisa kuliah dan tidak bisa kerja yang lebih layak (bagus), sehingga akhirnya anak-anak remaja ini menjadi pemulung, buruh kasar, tukang pembuang sampah, jualan barang rongsokan, pembantu rumah tangga.

Padahal anak anak remaja binaan Penyuluhan Ghola ini sebenarnya anak anak ini pintar nilai rapot dan ijazahnya di atas rata-rata, rajin sholat dan pandai baca Al-Qur’an. Bahkan ketika kegiatan penyuluhan ada di lapak pemulung tempat tinggal mereka, anak anak ini selalu hadir mengikutinya. Kondisi ketidakmampuan secara ekonomi inilah menyebabkan nasib mereka tinggal di rumah rumah kardus dan papan-papan yang beralaskan karung goni serba sederhana.

Melihat kondisi dan keprihatinan kehidupan sehari hari anak anak remaja ini, Ghola sebagai Penyuluh Agama Islam sangat tertarik bergerak ingin membantunya dan memberikan solusi untuk bisa menebus ijazah ijazah tersebut, Disinilah seorang Penyuluh Agama Islam dituntut menjalankan tidak hanya peran sebagai tenaga edukatif tapi peran Penyuluh juga harus bisa sebagai tenaga konsultatif dan tenaga advokatif bisa memberikan solusi dan bantuan dalam upaya menyelamatkan Umat. Ini yang sering dilakukan oleh  Ghola sebagai seorang Penyuluh Agama Islam di tempat tempat binaan Penyuluhannya yg mayoritas kaum marginal.

Mulailah Ghola berikhtiar mencari bantuan, selain sebagian dari kantong pribadi, Ghola juga meminta bantuan ke teman teman terdekat serta memasang status di medsos dengan menceritakan secara singkat kondisi anak anak kaum marginal ini.Setelah ikhtiar pasrah setinggi tingginya kepada takdir Allah.

Keyakinan yang tinggi tentang pasti bantuan Allah hadir ketika bergerak berjuang di jalan-Nya menjadi motivasi besar dan kuat untuk bergerak memberikan bantuan, solusi atas kesulitan dan masalah yang dihadapi saudara kita kaum fakir miskin.

Hasilnya pun ternyata benar, ikhtiar yang dilakukan Ghola membuahkan hasil dengan terkumpul donasi yang bisa menebus ijazah-ijazah anak anak remaja kaum marginal ini.

Dan sekarang anak-anak yang ijazahnya (SD dan SMP) sudah di tebus bisa kembali melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, mereka melanjutkan belajar di pesantren sambil sekolah, maupun tetap sekolah pulang pergi dari rumah. Sedangkan anak-anak remaja yang ditebus ijazahnya, bisa melanjutkan kuliah sambil bekerja yang lebih layak dan bagus.

Semoga kegiatan kegiatan seperti ini bisa menolong masa depan anak bangsa serta menjadi inspirasi dan bermanfaat. Aamiin.