headline

Bank Indonesia Dukung Festival Angklung, sebagai Pesona Budaya Kuningan

CiremaiNews.com, Kuningan – UNESCO telah memberikan hak paten pada tahun 2010, khususnya angklung diatonis Daeng Sutisna. Kadisporapar Kuningan menegaskan pentingnya melestarikan angklung sebagai budaya bangsa pada Festival Angklung Kuningan, yang digelar di Linggajati pada Sabtu malam (2/11/2023), sukses menarik perhatian para tokoh dan masyarakat Cirebon Raya.


Dihadiri oleh Sultan Kacirebonan, Pangeran Sultan Gani Diningrat, Forkopimda, budayawan, seniman, dan kepala daerah setempat, serta perwakilan Bank Indonesia Cirebon. Suguhan penampilan Tari Berokan – Indramayu, Sanggar Seni DnR, Kolaborasi Calung, Blentung, Karinding – Majalengka, REDI and Friends, Okestra Angklung, dan pentas seni angklung bungko, turut memeriahkan festival ini, yang berlangsung pada Sabtu, (2/12/2023) malam.

“Angklung dapat terus berkembang secara progresif dan terjaga kelestariannya karena bisa dikolaborasikan,” ungkapnya.
Dijelaskan Dr. Carlan, Kuningan memiliki history tentang Angklung, yakni adanya seniman ternama asal Kuningan, Daeng Soetisna (13 Mei 1908 – 8 April 1984) adalah seorang guru yang lebih terkenal sebagai pencipta angklung diatonis.


“Karya almarhum Daeng Sutisna inilah yang berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan musik-musik Internasional atau berkolaborasi dengan alat musik seperti gitar, sexophone. Dll,” jelasnya.


Dukungan dari APBD, Kementerian Pariwisata dan Ekraf, serta BI Cirebon, beserta sponsor, turut menciptakan kolaborasi yang memadai. Kuningan, yang memiliki sejarah panjang melalui seniman ternama Daeng Soetigna, pencipta angklung diatonis, kini berhasil memainkan musik internasional.


Pimpinan BI Cirebon, Hestu Wibowo menyatakan pentingnya kegiatan ini dalam mengembangkan pariwisata, khususnya di bidang seni dan budaya. “Festival angklung ini memberikan arti luar biasa untuk mengembangkan wisata budaya di Cirebon Raya,” ujarnya.


Dikatakan Hestu, Bank Indonesia sebagai bank sentral, sangat peduli terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah – daerah dan meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi baru yakni pariwisata.


“Jika dibandingkan dengan sektor industri diperlukan waktu yang signifikan untuk pertumbuhan ekonomi baru, yang membutuhkan berbagai proses hingga 2-3 tahun,” ujarnya.


Namun untuk sektor pariwisata, sambungnya, dengan kehadiran para wisatawan mancanegara tentunya bisa mengurangi defisit hingga Indonesia mempunya ekonomi yang kuat, Kami selalu mendukung dengan bersama – sama seluruh pihak. “Semoga ini menjadi moment yang baik untuk pelestarian budaya yakni seni angklung,” ujarnya.


Sementara itu, Bupati Kuningan, H Acep Purnama, menyampaikan harapannya bahwa angklung akan menjadi saksi sejarah pentatonis menjadi diatonis. “Semoga angklung ini menjadi pelestari budaya yang sangat berharga,” tambahnya.

Perlu diketahui, UNESCO secara resmi menetapkan angklung Indonesia sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia pada tanggal 16 November 2010. Alasan angklung diakui oleh UNESCO bukan tanpa alasan namun karena telah memenuhi kriteria-kriteria prasasti Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *