New Normal dan Bisnis Sosial Media

Ciremai News

Penulis : Husnul Khotimah, M.M (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang)

Akun instagram dengan foto perempuan cantik tidak dikenal seringkali melakukan follow secara random. Bagi sebagian pengguna instagram yang ke-geer-an, pasti langsung menyetujui permintaan follow tersebut seraya melakukan folback terhadap akun tersebut. Namun ketika dilihat profilnya, ternyata akun tersebut fake karena isinya malah berjualan obat kecantikan atau bahkan suplemen pria dewasa. Akun seperti ini seringkali disebut sebagai peternak karena tujuan utamanya adalah mendapatkan sebanyak mungkin follower untuk kemudian dijual kepada pihak lain. Selanjutnya, pembeli akun fake ini akan mengubah profil akunnya dengan akun bisnis tertentu. Tujuannya jelas, untuk berjualan segenap barang maupun jasa secara online. Ada yang berjualan dengan benar, tidak sedikit juga yang justru melakukan penipuan.

Berdasarkan fenomena ini saja, terdapat 2 value added yang diraih. Pertama adalah dari penjualan akun ‘peternak’ dan yang kedua yakni penjualan produk oleh akun fake yang telah diubah menjadi akun bisnis online. Transaksi-transaksi bisnis dalam media sosial seperti ini diperkirakan meningkat tajam selama pandemi Covid 19. Jika dikalkulasikan, transaksi jual beli atau bisnis melalui media sosial seperti ini pasti sudah sangat besar. Sayangnya, banyak sekali transaksi seperti ini yang cenderung sulit diukur sehingga tidak dapat dikenakan pajak. Begitupun halnya dengan besarnya potensi pendapatan para influencer yang sering sekali menerima endorse, cenderung masih sulit diestimasi sehingga relatif ‘kebal’ pajak.

Apabila pemerintah dapat menyusun regulasi yang tepat untuk mengatur aspek perpajakan transaksi bisnis media sosial, tentu dapat menjadi sumber penghasilan pajak baru yang luar biasa. Meskipun tentu saja, kebijakan memajaki transaksi bisnis lewat media sosial cenderung berpotensi mengundang banyak reaksi nyinyir. ‘Masa jualan online saja dipajakin’. Ungkapan seperti itu pasti akan bertebaran dari para netizen. Tetapi apabila mengacu pada teori daya pikul pajak, maka para influencer serta pebisnis media sosal juga perlu membayar pajaknya sesuai dengan daya pikul atau kemampuannya masing-masing. Teori daya pikul pajak ini juga diperlukan agar tidak menimbulkan kecemburuan dari para pelaku usaha offline.

Memasuki era new normal membuat pelaku bisnis online baik itu menjamur. Baik itu yang berbisnis lewat e-commerce ataupun media sosial. Konsekuensi dari menjamurnya beragam akun bisnis dalam media sosial membuat adanya kerentanan praktik penipuan. Meskipun disisi lain, persaingan bisnis melalui media sosial seperti ini semestinya membuat konsumen mendapatkan produk dengan harga dan kualitas yang sesuai meskipun tidak sedikit konsumen yang sudah merasa antipati pada akun bisnis media sosial karena pernah ‘tertipu’ atau misalnya pernah membeli barang yang tidak sesuai ekspektasi.

Konsumen harus cerdas dan cermat untuk meminimalisir terjadinya penipuan. Jangan hanya melihat jumlah follower akun bisnis, testimoni, atau pengiklannya saja, tetapi juga harus rasional melihat gambar produk dengan harga yang ditawarkan. Sebab, tidak sedikit akun bisnis ‘jahat’ yang juga menggunakan jasa endorse dari influencer. Artinya, konsumen harus bisa membedakan apakah foto produk yang ditampilkan benar-benar asli, dan apakah harga yang ditawarkan sesuai dengan produk. Jangan juga terlena oleh diskon ataupun cashback yang besar. Selidiki dulu reputasi akun bisnis yang akan dibeli produknya.

Sementara bagi para pebisnis online, perlu berinovasi dan menerapkan strategi yang tepat agar dapat bersaing. Dalam lingkup pemasaran, terdapat strategi pemasaran blue ocean yang berbasis pada inovasi dan teknik-teknik out of the box. Pebisnis online perlu meningkatkan kualitas produknya serta berinovasi secara terus-menerus. Inovasi tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan keunikan dalam produk yang ditawarkan. Perlu juga menjaga baik kredibilitas akun bisnis serta menampikan video-video promosi yang menarik. Bila perlu, gunakan jasa editing video karena konsumen merespon positif produk yang promosinya menggunakan visualisasi artistik.(*)