Tanda Mata

Ciremai News

The soul, fortunately, has an interpreter
—often an unconscious but still a faithful—
in the eye.
(Jane Eyre, Charlotte Bronte)

Oleh : Dedi Ahimsa Riyadi

Penyebaran Corona Virus Disease-19 (COvid-19) atau sering disingkat menjadi C-19 secara global di seluruh pelosok bumi telah memaksa semua negara untuk menerapkan pembatasan sosial. Masing-masing menerapkan cara dan istilah  yang berbeda-beda. Ada negara yang menerapkan total lockdown untuk seluruh wilayah negara, ada yang menerapkan local lockdown untuk beberapa wilayah di sebuah negara, dan ada juga yang hanya menerapkan pembatasan sosial atau social distancing, seperti di Indonesia—meskipun dengan tafsir aplikasi yang terus berubah-ubah. Di Indonesia, konsep pembatasan sosial itu mengalami perubahan istilah yang cukup signifikan. Mulai dari social distancing, kemudian menjadi physical distancing, lalu menjadi facial distancing; dari karantina wilayah hingga menjadi karantina wajah (meminjam istilah gubernur DKI). Perubahan istilah berdampak pada perubahan makna. Perubahan makna yang diamini satu komunitas menunjukkan berubahnya sikap dan perilaku (standing point) komunitas tersebut.

Saat ini, jika Jakarta dijadikan sebagai barometer, sepertinya virus C-19 tak lagi menjadi momok yang ditakuti. Unik memang. Dulu, ketik jumlah orang yang terinfeksi masih di kisaran angka puluhan, masyarakat Indoensia dilanda rasa takut luar sehingga terjadi panic buying dan juga penimbunan. Masker langka di pasaran, begitu pula hand sanitizer, juga perangkat kesehatan lain seperti termometer dan juga cairan alkohol. Tetapi di saat jumlah orang yang terinfeksi mencapai puluhan ribu, masyarakat kita sepertinya tak lagi peduli terhadap penyebaran virus tersebut. Sepertinya, bangsa ini memang lebih takut pada kefakiran yang lebih jelas terlihat dan terasa ketimbang pada kematian yang gak jelas kapan akan tiba. Atau, bangsa ini begitu manut pada Jokowi ketimbang pada ujaran kalangan medis dan saintis. Saat Jokowi bilang, saatnya kita berdamai dengan Covid, kita pun berdamai. Damai tentu saja tidak sama dengan menang. Sebab, kemenangan meniscayakan adanya peperangan. Dan setiap peperangan mengharuskan adanya musuh. Bagaimana mungkin kita mengatakan telah “menang” sedangkan kita tak pernah berperang? Bagaimana bisa kita berperang, sedangkan kita telah membangun pikiran bahwa tak ada musuh? Tapi, saat dihadapkan dengan Covid-19, posisi bangsa ini pun tak bisa disebut dalam keadaan damai. Sebab, perdamaian adalah kata yang melibatkan dua atau lebih pihak yang bersepakat untuk tidak saling menyerang. Sementara, sekarang bangsa ini menyatakan berdamai terhadap Covid sedangkan si Covid tak pernah setuju untuk berdamai. Jadi, baiknya beberapa ungkapan Jokowi yang lain, perdamaian yang diserukannya itu adalah perdamaian semu yang sangat artifisial. Pikiran bangsa ini digiring dan dipaksa untuk meyakini bahwa musuh tidak ada. Kita tidak perlu takut terhadap serangannya, yang perlu kita lakukan hanyalah menjaga diri sendiri, diri masing-masing.

Akhirnya, karena kepala telah menyatakan berdamai, anggota tubuh yang lainnya pun digiring dan dipaksa untuk berdamai. Secara bertahap, pikiran bangsa ini dikondisikan pada keadaan seperti sebelumnya, ketika Covid-19 belum lagi muncul sebagai musuh bersama umat manusia. Dan uniknya, nyaris seluruh komponen bangsa ini mengikuti arahan dan penggiringan itu. Pasar-pasar kembali ramai, masjid-masjid kembali semarak, jalanan mulai dipadati kendaraan, dan seterusnya. Ya, bisa jadi memang bangsa ini bangsa yang sangat cinta damai. Lebih suka kompromi ketimbang bertikai dan bertarung,; lebih suka “berdamai” ketimbang ditilang; lebih nyaman berserah dan menerima kerja paksa ketimbang berperang. Maka, tak mengherankan jika banyak orang yang mulanya berteriak lantang, mengkritik dan mengecam, lalu diam dan tersenyum senang saat diberi jabatan dan kemuliaan.

Lalu, untuk menyiasati pikiran banyak orang, dimunculkanlah istilah new-normal. Frasa itu seakan-akan mengindikasikan bahwa kita harus selalu waspada, karena kebiasaan yang sehari-hari kita jalani berbeda dari kebiasaan di masa-masa sebelumnya. Frasa itu menggulirkan aturan-aturan baru tentang bagaimana seharusnya kita menghirup nafas dan melepaskannya, bagaimana kita makan dan mencari makan, bagaimana kita menyentuh dan melepaskan, juga tentang bagaimana kita membangun relasi dengan orang lain. Tetapi, lagi-lagi frasa itu pun tak pernah bisa memberikan makna yang jelas dan tegas. Sebab, kita tidak pernah dikasih pemahaman, apakah sebelumnya kita hidup dalam kenormalan? Apakah new-normal ini berbeda dari normal? Lalu, normal yang manakah yang kemudian diubah menjadi new? Apakah makna new ini mengindikasikan normal yang lebih baik, seperti ungkapan baju baru, atau sandal baru di hari raya? Atau justru kata new ini mengandikasikan makna sebaliknya, yakni abnormal?

Satu ayat yang membedakan new-normal dengan normal-normal lainnya adalah kewajiban menggunakan masker, selain keberjarakan fisikal—meskipun pada tataran praktis nyaris tidak ada jarak. Kewajiban bermasker itu memberi peluang kepada polisi dan satpol PP untuk menghukum push-up orang yang tertangkap tidak mengenakan masker. Kewajiban itu juga menuntut kita untuk memiliki kemampuan baca dan kecakapan tafsir yang lebih tinggi. Saat ini kita harus bisa menafsirkan keindahan, kedengkian, kejumudan, kesantunan, bahkan juga senyuman hanya dengan melihat sepasang bola mata. Kita harus merumuskan metodologi tafsir bola mata untuk menerapkan ungkapan Ali ibn Abu Thalib “Mata adalah jendela jiwa” ke dalam tataran aksiologis. Jika metodologi ini telah dirumuskan secara akurat, kita bisa membaca apakah seseorang tersenyum senang ataukah justru meringis sedih semata-mata dengan melihat gerak dan intensitas buka-tutup bola mata. Hanya dengan melihat sepasang mata seseorang bisa merumuskan kesimpulan: kau akan mendampingiku, selamanya.