Lestarikan Leuweung Leutik sebagai Daerah Resapan Air

Kuningan, ciremainews – Menurut data Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, ada sekitar 14 komunitas adat yang hidup dan berkembang di Jawa Barat. Komunitas-komunitas adat itu berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai adat dan tradisinya di tengah masyarakat modern seperti saat ini. Komunitas adat merupakan komunitas yang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan berupaya mempertahankan kondisi lingkungan alamnya dengan tetap menaati aturan adat warisan para leluhur sehingga setiap komunitas adat tersebut memiliki ciri khas yang membedakannya dengan masyarakat lain. Para leluhur mereka mengembangkan aturan-aturan adat yang direalisasikan pada beberapa tabu/pamali/larangan/buyut.


Karenanya, salah satu karakter khas komunitas adat adalah kecintaan dan kedekatan mereka dengan lingkungan. Salah satu komunitas adat yang getol berupaya menjaga kelestarian lingkungan adalah komunitas Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan (AKUR) di Kuningan, Jawa Barat. Komunitas adat ini kerap mengampanyekan kelestarian lingkungan di antara para anggota komunitasnya dan masyarakat sekitar.


Pada hari Rabu (16/9) komunitas adat ini menggelar ritual ngaruwat bumi. Ritual ini dilakukan sebagai wujud keprihatinan terhadap kerusakan dan minimnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Ritual yag dipimpin langsung oleh pupuhu adat Pangeran Gumirat Barna Alam ini digelar di leuweung leutik, sebuah kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air oleh pemerintah Kab. Kuningan. Sekiyar 40 orang anggota komunitas dengan mengenakan pakaian khas orang Sunda berkumpul, duduk melingkar, dan memanjatkan permohonan kepada Penguasa semesta demi kelestarian dan keberkahan bumi. Secara khusus mereka memohon kepada Tuhan Yang Maha Pencipta untuk menyelematkan leuweung leutik sebagai daerah resapan air. Salah seorang sesepuh adat, Pak Kento, menyampaikan bahwa kawasan itu penting untuk dijaga kelestariannya karena akan berpengaruh terhadap konservasi dan ketersediaan air di kawasan Cigugur dan sekitarnya. Karena itulah ia mengajak masyarakat sekitar dan pemerintah untuk bersama-sama menjaga dan berupaya melestarikan kawasan itu sebagai daerah resapan air. Menurutnya, ketersediaan air merupakan masalah yang sangat krusial dan keberadaan leuweung leutik sangat penting bagi ketersediaan air di kawasan tersebut.
Di antara doa permohonan yang dipanjatkan, Pupuhu Adat mengungkapkan: “Gusti Anu Maha Tunggal … Mugia jirim jisim dikersakeun nampi samudaya karsa Gusti anu diolah Karsa Gusti. Nu ngolah karsa Pangersa Gusti. Duh Gusti Anu Maha Agung, salametkeun kahirupan jirim jisim tina sagala rupi musibah.

Kumargi kitu Nun Gusti Anu Maha Welas tur Maha Asih jirim jisim bade nyalametkeun Leuweung leutik nu tos reksak kieu kaayaan nana. Jirim jisim Neda Pangaping Pangjaring Karsa Pangersa Gusti, supanten Leuweung leutik ieu tiasa dipiara diropea diraksa deui ku jirim jisim masyarakat Cigugur sabudeureun nana.” Lantunan doa dalam bahasa Sunda itu kurang lebih berarti: “Wahai Tuhan Yang Mahatunggal, semoga kami semua diberi kekuatan untuk menerima semua kehendak-Mu, karena hanya Engkau yang berkehendak dan menunaikan kehendak-Mu. Wahai Tuhan Yang Maha Agung, selamatkanlah kehidupan kami dari segala bentuk musibah. Wahai Tuhan yang maha mengasihi, selamatkanlah Leuweung Leutik yang keadaannya kini rusak oleh perbuatan manusia. Sungguh kami memohon petunjuk dan panduan-Mu agar Leuweung Leutik ini bisa dipelihara, dilindungi, dan dilestarikan oleh masyarakat Cigugur dan sekitarnya.”


Di akhir acara, komunitas adat ini berfoto bersama dan membentangkan spanduk yang berisi tiga tuntutan, yaitu “Kami butuh air, kami akan menjaga hutan leuweung leutik sebagai kawasan resapan air, dan tindak tegas pengrusakan atas hutan leuweung leutik”.