Meneguhkan Tradisi Amaliah NU di Makam Kanjeng Syaikh Maulana Muhibbat Al Magrobi di Winduhaji.

Ciremai News

Kuningan, CiremaiNews- Ada dua hal yang tidak akan lepas dari warga Nahdltul Ulama yakni bersilaturahim, Menghormati kyai, menghidupkan tradisi dengan berziarah ke makam wali.

Dua hal Hal tersebut mewujud pada Majelis Burdah Kuningan. Majelis yang dipimpin oleh Ustad Eka Zakariya Azhar Karangtawang merutinkan pembacaan Burdah seminggu sekali setiap malam Senin di Makam Kanjeng Syaikh Maulana Muhibbat Al-Magrobi kelurahan Winduhaji Kecamatan Kuningan. Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ustad Eka sendiri merupakan alumni santri Lirboyo. Agenda Burdahan yang sudah berjalan selama tiga tahun ini adalah upaya meneguhkan tradisi Amaliah Ahlusunnah Waljamaah AnNahdliyyah serta sebagai jalan mengenalkan syair Pujian untuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW yakni dalam hal ini adalah Burdah karya Al-Imam Bushiri.

Burdah, Kitab Karangan Al Bushiri yang bernama asli Syarafudin Abu Abdullah Muhammad bin Sa’id Al Bushiri(1213-11297/608-696) kelahiran Mesir yang masyhur sebagai penyair sufi merupakan Syair Pujian bahasa Arab yang terpandang paling indah sebagai puisi Pujian untuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Hal ini diungkapkan oleh Ali Audah dalam tulisan Burdah dari Generasi ke Generasi. Bait Syair yang terdiri dari 160 Bait didapat Al Bushiri dari mimpi saat beliau betemu Kanjeng Nabi dalam keadaan mengalami kelumpuhan. Dari riwayat yang diceritakan oleh beliau sendiri bahwa dalam mimpi tersebut kanjeng Nabi Muhammad SAW memberikan mantel(Burdah) kepada Al Bushiri. seperti dulu yang diberikan pada Kaab. Al Bushiri terperanjat dari tempat tidur, terbangun dan kemudian mendapati dirinya sembuh.
Dari perasaan haru tersebut Al Bushiri yang dikenal juga sebagai Sufi yang mendalami Hadist kemudian membuat syair dikenal awal dengan judul Kawakib al Duriyyah namun syair pujian karya Al Bushiri pada perkembangannya dikenal sebagai Shalawat Burdah.
bagi masyarakat NU, burdah merupakan kitab yang sudah diyakini memiliki banyak keistimewaan. Bait-bait syair yang digubah oleh Imam Al-Bushiri itu, penuh dengan madah ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW, Qasidah sebanyak 160 bait itu tidak saja indah, tapi juga diyakini sebagai media tawassul yang dahsyat untuk mengunduh barakah Allah, demi memenuhi beragam hajat dan menghindari berbagai mudharat.

Hal inilah yang menjadi dasar majelis Burdah Kuningan pimpinan Ustad Eka Zakariya Azhari merutinkan dibaca di makam Syaikh Muhibbat Al Magrobi di winduhaji, wasilah beliau mendapatkan Burdah ini dari Sekumpul Martapura, Kiai Haji Zaini Abdul Ghani Al-Banjari yang masyhur dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul. Harapanya dengan berkumpul di Majelis Burdah, membaca Burdah di makam Kanjeng Syaikh Muhibbat kecintaan Masyarakat Kuningan pada Kanjeng Nabi Muhammad menjadi kuat, mencintai wali-wali Allah, Habaib lan Ulama NU.

“Di Zaman serba reaksoner ini mari memperbanyak Shalawat, agar selamat dunia-akhirat” pesan Ustad Eka.

Penulis : Afa