GUNUNG ES, KEKERASAN, dan PELECEHAN SEKSUAL

oleh Nida Nur Kholillah, S.H

Gunung es merupakan gunung yang terbuat dari es. Yaiyalaaah…. Namanya juga gunung es.
Ada yang pernah melihat gunung es? Bersyukurlah untuk siapapun yang pernah lihat digambar ataupun secara langsung. Hahaha eeiits tapi bukan gunung yang hanya puncaknya diselimuti salju seperti puncak cartenz pyramid di Jaya Wijaya, Gunung es ini betul-betul gunung yang keseluruhan tubuhnya dari es dan berdiam diri di lautan lepas.
Biar terlihat lebih ilmiah , berdasarkan hasil pencarian dari mesin pencarian terbesar dunia, gunung es adalah suatu bongkahan besar es air tawar yang telah terpecah dari gletser atau ice shelf dan mengambang di perairan terbuka. Karena densitas es (920 kg/m3) lebih rendah dari air laut (1025 kg/m3), umumnya sekitar 90% volume gunung es berada di bawah permukaan laut, dan bentuk bagian tersebut sulit diperkirakan hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan.
Ya memang sejauh yang kita lihat hanya puncak dari gunung es yang kita ketahui tanpa mengetahui dan tidak mencari tahu seberapa besar bongkahan es yang berada dibawah air. Untuk lebih jelasnya bisa dilakukan melalui penelitian secara empiris atau normative ya teman…
Tapi ada apa dengan gunung es?
Sudah menjadi rahasia umum jika puncak gunung es tak jarang dikaitkan dengan fenomena atau peristiwa atau kejadian atau kasus yang hanya terlihat dalam layar atau data atau yang sedang ramai diperbincangkan saja tanpa tahu atau tidak mencari tahu apa yang sedang terjadi dibahawahnya dalam artian dimasyarakat secara luas. Seperti pelecehan dan kekerasan seksual.
Ya begitulah nasib pelecehan dan kekerasan seksual. Yang kebanyakan orang tahu ternyata apa yang hanya terdata dilembaga terkait saja. Okeee baiklah dapat dimaklumi.
ya. Memang seperti gunung es. Jika digali lebih dalam kekerasan dan pelecehan seksual ini tidak hanya sebatas angka dalam puncak data saja.
Sepanjang tahun 2020 jumlah kasus kekerasan (seksual, fisik, dam psikis) yang tercatat dalam Simfoni KEMEN-PPA, Kabupaten Kuningan telah melaporkan 9 (sembilan) kasus kekerasan. Dalam kurun waktu tidak lebih dari satu bulan peristiwa kekerasan meningkat 6 kasus sejak akhir bulan Juli 2020. Bagaimana dengan waktu yang cukup lama??
Memang untuk membuka suatu peristiwa tidak bisa jika hanya dilakukan oleh suatu Lembaga, dalam hal ini kita sebut saja P2TP2A yang menjadi unit kesatuan yang menyelenggarakan fungsi pelayanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan, juga dibutuhkan kesadaran dan keberanian (lebihnya secara psikis) dari pihak korban baik keluarga atau kerabat untuk melakukan pengaduan kepada Lembaga tersebut atau NGO (Non Government Organization)  meskipun pada akhirnya tidak seluruh kasus yang dilaporkan dapat diteruskan ke ranah hukum.
Tapiii….. dari beberapa peristiwa yang diamati, pihak korban, keluarga atau kerabat kesulitan untuk mencari perlindungan dan pendampingan dikarenakan akses untuk menuju kesana kurang memadai. Tidak adanya kontak  darurat yang dapat dihubungi misalnya.
Meskipun gak sedikit juga siih para penyintas (atau yang mewakili) lebih memilih diam karena malu itu adalah sebuah aib dan bahkan ada beberapa yang menganggap hal ini adalah sebuah kelumrahan karena banyak orang juga yang mengalami, seperti kasus KBGO (kekerasan berbasis gender online).
Hhhhh panas dingin jadinya ya. Nama baik, kehormatan, kesabaran, keadilan, keberanian dan pembelajaran harus dikerahkan seluruh jiwa raga hanya karena masalah seksual.
Jadi mari kita satukan tekad dan niat untuk membongkar bagian bawah gunung es pelecehan dan kekerasan seksual, demi masa depan yang cerah dan aman untuk para penyintas.
Kamu tidak sendiri.