Hati yang Damai, Kembalilah Kepada Tuhan

Oleh : Dedi Ahimsa Riyadi

Setelah dua windu lebih, malam ini saya membaca lagi cerpen Kuntowijoyo, “Hati Yang Damai, Kembalilah Kepada Tuhan”. Cerpen itu terdapat dalam buku kumpulan cerpen “Persekongkolan Ahli Makrifat”. Baru satu cerpen itu saja yang saya baca dan tiba-tiba hati ini seperti diliputi kabut tipis mengembuskan hawa dingin.
Entah dari mana sumbernya. Embus dingin itu merayap pelan melewati pembuluh darah, mengalir ke pundak, punggung, lalu terus merambat ke bawah hingga ujung jari kaki. Lalu muncul semacam syahdu yang purba merayapi dada, menjadikannya hangat, lalu merayap melewati urat leher dan rasa yang asing tetapi dekat itu begitu saja memenuhi kepala.
Rasa serupa itu sangat jarang muncul. Kadang-kadang menyelinap memenuhi dada tanpa isyarat, tanpa tanda. Di lain waktu ia mendesak tak tertahan, hingga tak terasa kelopak diberati air mata. Kadang-kadang ia muncul memicu suka-cita luar biasa, suatu kenikmatan yang tak terkatakan dan tak bisa diungkapkan, tidak juga oleh tawa atau pancaran wajah yang ceria sehingga saat ia tiba, seakan-akan tak ada lagi jarak antara jiwa ini dan fana yang mutlak.
Tetapi kadang ia datang membawa kepedihan dan duka cita, yang juga tak terkatakan, tak terungkapkan sehingga saat ia bertahta di dada, seakan-akan kau berdiri di ujung gehana dan di hadapanmu hanya ada duka yang mahasiksa.

Entahlah, karena begitu purba, saya tak pernah bisa mengundangnya datang atau melakukan sesuatu agar ia muncl dan bertahta di dada. Ia begitu saja datang saat bacaan saya belum lagi purna. Dan entah kenapa juga, kali ini saya ingin menuliskannya.
Dari sisi cerita, bisa jadi cerpen ini tak berbeda dari cerpen-cerpen Kuntowijoyo lainnya, seperti yang dihimpun dalam buku “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” atau kumpulan “Anjing-Anjing Menyerbut Kuburan”. Ia selalu memadukan antara tradisi dan realitas hidup sehari-hari dengan “rasa”. Perpaduan itulah yang kemudian terasa menonjok uluhati dan membuat dada terasa sesak.

Cerpen “Hati Yang Damai Kembalilah Kepada Tuhan” bertutur tentang seorang tua yang sepanjang usia hidup terasing dari kebaikan. Sudjak namanya. Jejak-jejak usianya menorehkan catatan luka dan duka bagi dirinya, juga bagi orang-orang sekelilingnya. Lalu dalam keadaan tua, lemah, dan nyaris tanpa daya karena seluruh metabolisme tubuhnya disesaki racun arak dan tuak, ia terdampar dan terbaring tanpa daya di bawah sebatang pohon tanjung di halaman sebuah masjid tua. Semua orang yang melihatnya, tua, muda, hingga anak-anak menatapnya jijik laiknya orang yang tak sengaja melihat bangkai anjing atau babi. Mereka tak sudi menyapa, bertanya, apalagi menolong dan membantunya berdiri. Bagi mereka, lelaki tua penuh dosa itu adalah najis yang mesti dihindari. Hanya satu orang yang melihatnya sebagai manusia. Dialah Pak Hasan. Kyai Hasan. Bagi orang seperti Hasan, tidak ada manusia yang tahu, di ujung mana usianya berakhir.
Karenanya, tak ada yang bisa memastikan bahwa seseorang tidak akan pernah menjejaki jalan kebaikan. Tak patut bagi siapa pun menghakimi bahwa seseorang akan mati berujung sebagai durjana atau pandita.