Kurban di Zaman Penjajahan

Penulis Oleh : Kang Tendy Chaskey
Penelusur Sejarah Nusantara

Hari Raya Idul Adha adalah sebuah hari raya dalam agama Islam. Pada hari itu, diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan seekor domba. Peristiwa tersebut menjadi latar historis bagi ibadah kurban.

Ibadah kurban adalah penyembelihan hewan kurban, baik jenis sapi, kerbau maupun kambing demi meraih keridhoan Allah SWT. Sejak dahulu, ritus tersebut terus dilaksanakan oleh Umat Islam hingga sekarang. Bagi masyarakat muslim Indonesia, kurban adalah kelengkapan ibadah Idul Adha mereka. Oleh karena itu, kurban tetap dilaksanakan, meski suku bangsa Indonesia pernah berada dalam belenggu penjajahan.

Pada zaman awal kolonial Belanda, belum ada perhatian yang mendalam pada persoalan haji dan kurban. Oleh karena itu, pengelolaannya pun tampak asal-asalan. Untuk pengelolaan ibadah kurban saja, diberikan hanya kepada penghulu daerah yang diangkat oleh pemerintah kolonial. Bahkan, para ulama terkadang tidak dilibatkan sama sekali dalam persoalan kurban tersebut.

Mengenai sosok penghulu dan ibadah kurban masyarakat muslim itu, Algemen Verslag Regenstchaap Sumenep over 1811, mengungkapkan bahwa kurban menjadi salah satu hal yang didapatkan oleh penghulu dari Umat Islam. Menutur ketentuan itu, orang yang mendapat zakat fitrah, 4 katie beras dari setiap penduduk beragama Islam, dan daging kurban bahkan kambing yang masih bernyawa di hari raya Idul Adha adalah penghulu daerah.

Menurut surat kabar De Locomotief: Samarangsch Handels en Advertentie Blad edisi 20-05-1890, orang muslim Jawa di zaman kolonial tetap menjalankan pelaksanaan ibadah kurban dan akikah, meskipun terkadang mereka menghitung ibadah itu dengan tidak tepat, misalnya satu peziarah memiliki kurban berapa ekor hewan ternak, dan lain sebagainya.

Kebijakan aneh pemerintah kolonial terkait ibadah kurban tetap berlanjut, bahkan ketika mereka telah melaksanakan pollitik etis di tahun 1901. Salah satu kebijakan itu adalah menarik pajak untuk hewan kurban umat Islam. Sontak saja, hal itu mendapat kecaman umat Islam dan akhirnya diprotes dimana-mana. Pemerintah kolonial pun melunak dan lalu menghapuskan ketentuan bea kurban tersebut.

Wallahu’alam bishowab..