Negeri Merdeka

Ciremai News

Penulis Mohammad Syafaat
Penikmat Senja di Ciremai

Di dinding Facebooknya Eka Kurniawan tertulis sebuah kalimat yang asik, “Rumangsamu tanpa negara kami sengsara, yo sorry, tanpa negara kami merdeka”. Sungguh kalimat keren yang sebenarnya ta tunggu-tunggu untuk dijadikan sebagai bahan nulis, di buletin Lukata edisi III karya tulis terbatas, para sedulur di Kuningan Jabar.

Lantas kenapa kok asyik? Kenapa yo keren? Kalimat itu asyik, pertama karena udah nembak kepongahan negara yang “ngerumongso tanpa kehadirannya negeri ini bakal sengsoro”, dan hasile ya justru malah sebaliknya, tulisan itu malah melipir bertutur “tanpa negara yo malahan lebih merdeka”. Sungguh rangkaian kalimat bernada interupsi yang super keren bukan! Apalagi ucap Eka, “pesan maut” itu ia temukan secara tidak sengaja dari salah satu tempat bercecerannya coretan-coretan dinding khas negeri kita, ya tulisan unik nan satir itusering pula terdapatpada bak truk, wc terminal, gang buntu, tempat sampah illegal atau tembok lebar di kolong jembatan.

Waba’du, tulisan itu merupakan bagian dari coretan dinding (begitu lirik om Iwan tahun 1992-an), dan dengan mudah kemudian dapat ditebak bagaimana negara menjadi sasaran empuk kritik para penghuninya. Coretan dinding menurut Om Iwan adalah buah perlawanan dan bentuk konsekuensi dari daku Negara yang mendakwa dirinya sebagai panglima. Meski demikian besit hari para tukang coret telah meyakini bahwa sejak awal berdirinya republik, negara dalam wajah kepemimpinan apapun tetaplah manusia, dan tidak sedikitpun berbau malaikat yang ideal atau sempurna.

Kedudukan negara yang seakan-akan hadir, sebagai siji-sijine solusi atas urip rakyat memang sudah kadung diyakini oleh banyak orang. Konsep iki riwayate lahir dari kitab lawas politik di era modern. Dengan adanya negara urip dianggap tertib yo juga teratur (order kata Fukuyama sih). Tanpa negara tatanan masyarakat bisa bubar atau chaos. Karena bubar atau chaos maka jebule urip berantakan, mangan sulit, ekonomi melilit, usaha pailit, perut sembelit hingga merambah sampe problem penyakit silit-silitliyane. Betapa sengsoronya bukan?

Penilaian ini yo sementara ada masuk akal’e, karena negara memang hadir bakfaktor simbolik bukti adanya kedaulatan. Konon kedaulatan lahir dari anugerah kemerdekaan yang direbut dari penjajah di masa lampau dan melenggang kemudian menjadi tumpukan dari seserahan kekuasaan, yang diputik dari masing-masing tingkatan identitas status kewargaan seperti, Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga (atau kalau mau ditarik awal, yo akta lahir lah), Akta Nikah, Surat Suara mulai dari level lokal sampe nasional. Nah itulah negara, kita adalah penyumbang utama bagi keberadaannya, tapi begitukah juga sebaliknya? Hmmmm, buh mbuh sih…iki malahan yang sebenarnya bakal menjadi pemicu tulisan ini dibikin.

Jadi begini, negeri ini sudah melewati banyak kali batu ujian. Pasca kemerdekaan kita sesama anak bangsa diprediksikan oleh Bung Karno akansaling ribut berebut benar, adu rampas trah kesucian, saling menegasi bukan hanya untuk segelintir kuasa bahkan hingga pengorbanan nyawa. Kejadian model begitu itu ada banyak contohnya, mari kita absen sekenanya, mulai dari DI/TII, PRRI,1965, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Mei 98, Ninja Tapal Kuda, Lampung Selatan, Poso, Ambon, Sampit, Manislor, Munir, Cikeusik, Sampang, Transito, Tanjung Balai, Cicak Buaya, Cicaknya Cicak, Buayanya buayaaatau hingga kelakuan para martir jihadis mbleghedez yang pada mati angus, sungguh menjadi jejak pilu-batu ujian yang demikian panjang bukan! Ya, perlu di sini dicatat, kejadian-kejadian itu boleh jadi telah direkam dan masuk dalam lembaran-lembaran laporan negara. Tapi soal penyelesaian maupun upaya pencegahan, terutama sebagai modal penting pembelajaran ya mbuh.

Kini di era pagebluk yang sudah masuk di bulan ketiga inibatu ujian lainnya kembali dijalani, dan bahkan tanda-tandanya jauh dari henti. Musuh yang dihadapi lebih ngeri dari jajahan kolonial, lebih runyam dibanding peristiwa atau intrik politik anak bangsa, ia adalah virus mematikan yang dalam perkembangan kiwari dinyatakan nyaris mirip HIV yang entah sampai kapan tidak akan pernah ada anti virus atau vaksinnya. Lantas pertanyaan di paragrap atas penting untukcoba diungkap ulang, duhai negara apa kabarmu, apakah kau masih baik-baik saja?Apa kabar kekuasaan? Apa kabar kedaulatan? Sudah kah kau terima kabar kerunyaman hari ini? Apa kabar kotak suara kami di dapur anggaranmu? Pajak kami? PSBB? BPJS? Minerba?

Belakangana bukti teranyar dari sikap kepasrahan terhadap negara dapat ditemui salah satunya melalui celotehan “Indonesia Terserah”. Dan mirisnya para “illustrator” yang berperan dalam tayangan Indonesia Terserah itu diantaranya adalah para pahlawan terdepan saat ini, ya “pejuang medis”. Terakhir kabar duka datang dari seorang perawat yang bersama janin bayi di tubuh hamilnya berkorban demi negara, demi negeri.

Duh gusti, syahdu suara itu begitu abadi !Lahumal Fatihah.

Di saat pageblug ini para pejuang medis adalah wujud terkongkrit dari keberadaan negara. Jika ingin dibandingkan tingkat risiko yang mereka hadapi hanya setara dengan tentara dalam keadaan perang, atau polisi dalam berhadapan dengan pelaku teror dan kriminal brutal atau seorang guru yang sedang mengajar di daerah-daerah yang berlokasi ekstrim secara alam. Lantas bagaimana kehadiran aktor negara lainnya di luar itu? Maksud pertanyaan ini tentu saja bukan bermaksud memukul rata jenis beban yang ditanggung oleh masing-masing aktor, melainkan sekadar memilahnya berdasarkan konteks kedaruratan saat ini.

Saya sendiri adalah bagian dari negara. Dan belakangan dalam kondisi darurat pandemik ini diri ini tak sedikitpun merasa telah memberikan bukti kebermanfaatan yang berarti terhadap publik, kecuali turut menjadi bagian yang memberikan himbauan mengenai pembatasan ibadah kolektif di ruang publik, layanan rutin pencatatan nikah serta belakangan memasilitasi penunaian dan distribusi zakat dari muzaki ke mustahik, tak lebih dari itu. Meski tiga bulan ini masih tergolong singkat, saya melalui wadah negara pelan-pelan menilai bahwa ketiadaan bimbingan maupun layanan rutin yang biasanya dilakukan dalam bentuk seminar, rapat, workshop, lokakarya, diseminasi, focus group discussion, coaching clinic, monitoring, visitasi, perjalanan dinas ini, perjalanan dinas itu sungguh sama sekali tak memberikan dampak dan efek apa-apa terhadap pemenuhan kepentingan atau hajat orang banyak. Dari satu pengalaman yang ta coba tilik di satu instansi ini maka saya dapat membayangkan betapa jauhnya sisi kebermanfaatan anggaran yang berpihak secara substantif bagi kemaslahatan publik.

Negara tetaplah negara, dengan segala keterbatasan dua pundak manusia yang melekat di tubuhnya. Negara bukan malaikat yang dapat memberikan keajaiban atas titah sang Tuhan. Namun betapa naifnya jika satu model kehadirannya sebagai pesuruh abadi masyarakat kemudian hanya dibatasi dengan pola kerja nirfaedah, yang tidak terencana secara terukur matang seperti keplin-planan mengeluarkan aturan dan regulasi di masa kedaruratan saat ini. Seandainya pun ketika masa pagebluk ini kiranya akan terlewati entah berapa bulan lagi ke depan, jika memang tetap kekeuh surekeuh mempertahankan bentuk program pemerintah ala-ala even organizer (selain gaya seremoni rapat-rapat hotel tadi sih, kemarin juga muncul kasus pelatihan prakerja kan yah) maka sudah sangat pantaslah pesan pada coretan dinding di atas, bahwa tanpa negara penduduk negeri ini tidak akan kecut nyali untuk sengsara. Toh sejatinya penduduk negeri ini memang dianugerahi kemampuan untuk tetap merdeka, secara mandiri hidup bekerja, bermasyarakat, beragama dan berbangsa.