Tilikan Pendek Tentang Dua Babak Luka (yang Abadi)

Oleh ; Syafaat Mohammad

Adalah Pengembaraan Panjang,
Ketika memahat kenangan,
Dari ladang tak bertuan
(DBL karya D. Ipung Kusmawi, 2020)

Novel kalau yang bikin adalah tukang nulis naskah drama, ya begini ini. Isinya dialog semua. Mampus aja dah tuh pembaca, dari halaman awal sampe yang terakhir rentet alur teks bacaan hanya ditandai ama dua tanda baca petik, buka dan tutup. Pun jika ada yang lain, itu ya berupa bonus seperti tanda baca koma, seru atau tanya. Hayooo, mampus gak lu!
Dari awal saya memang gak masuk sebagai kategori pembaca yang sehat, malah cenderung malas dan penyakitan. Baca ya sekenanya, lompat-lompat, dan asal tembak saja hingga berakhir dengan sedikit kepuasan atas kesimpulan makna dari bacaan.
Ceroboh? mungkin, buruk? bisa jadi. Yo wis, bodo amat. Sing penting saya membaca karena saya emang kepengen membaca, soal dapat makna urusan belakangan, yang penting membaca. Itu saja. Apakah itu model kenikmatan saya dalam membaca? Ya Mbuh ya!
Ada pengalaman unik dalam membaca novel dialog ini, mbuh kenapa meski saya merasa mampus, toh rasa-rasanya saya malah bisa menikmatinya. Bukankah kenikmatan dan kemampusan itu dua kata yang berlawanan? Wah sekali lagi saya akan menjawab, Ya mbuh ya, baiknya kita langsung kenalan aja sama contekan isi novel ini.
Dua Babak Luka adalah novel yang ditulis oleh D. Ipung Kusmawi, seorang manusia peran yang aktif di teATeR SADO Kuningan, dan sempat tercatat sebagai siswa SMA Kelas 3 di Tahun 1996, begitu lah kira-kira ia menulis tentang dirinya.
Seperti judulnya, karya yang diganjar sebagai Novel Dialog Pertama di Indonesia ini benar-benar dibagi menjadi dua bagian, yaitu Luka Babak Pertama dan Luka Babak Kedua.
Pada Luka Babak Pertama, penulis menyisipkan pesan penanda, “Bahkan untuk dirimu yang menjelma, aku masih samar antara luka dan bahagia harusnya”. (DBL; Hal. 1)
Pada Luka Babak Kedua, penulis kembali berpesan, “Musnahin rindu untuk menyatu, memenggal asa untuk bersama, emang terlintas dalam benak gue. Tapi untuk saat ini, gue masih pengen kasmaran”. (DBL;Hal.105)
Jepretan pertama saya atas novel ini, menghasilkan sosok Vian Kusuma yang berperan sebagai tukang gombal dan Yolanda Rosi sebagai lawan tanding yang sering menerima gombalan serta tak jarang mengimbanginya dengan respon berbunga namun tampak fana bagi sang penggombal.
“Huuu gombal!”
“Biarin hahaha..”
“Jadi tukang gombal kok seneng!”
“Daripada tukang bohong, hayoo”
“Sama saja itu mah!”
“Enggak lah, beda!”
‘’Apa bedanya?”
“Bohong nyakitin, gombal nyenengin”
“Emang aku seneng digombalin”
“Emang enggak?”
“Ehmmmm…”
“Itu tandanya iya! Hahaha”
“Tahu dari mana?’”
“Cewek kalo ditanya sesuatu Cuma diem aja, itu tandanya bilang iya di hatinya.”
“Aku engga bilang iya.”
“Lha itu tadi?”
“Aku Cuma ehmm..” -(DBL: hal.13)-

Gombalnya Vian ternyata gak sembarangan, doi kadang punya stok yang cukup luas, luwes dan kaya dalam mengolah maupun mengambil sumbernya, mulai dari mantra pelet “jaran goyang”, “kolor ijo” sampe ngandalelin jurus “numpang aura” pada sosok artis dan majalah populer di masanya.
“Aku sekarang menjadi cowok paling pe-de di sekolah ini.’’
“Alasannya?”
“Fotoku mejeng di majalah itu.”
“Biasa aja tuh.”
“Kok gitu?”
“Fotomu kan mejeng di Surat Pembaca, hahaha.”
“Bukan ‘Surat Pembaca’, tapi ‘Dari Kamu”, Yo.”
“Dari aku? Apaan?”
“Nama rubriknya Surat Pembaca di Majalah Aneka itu ‘Dari Kamu’.”
“Sama aja, Cuma mejengin foto sambil ngegombalin redaksi muji-muji isi majalahnya, kan? Hehehee.”
“Beuhh, biarin! Yang penting bisa satu ruang sama Irgi Fahrezi.”
“Coboy Aneka tahun ini ya?”
“Iya, keren kan?”
“Keren doong!”
“Ya iya lah, siapa dulu doong, Vian!”
“Bukan kamu Vi, tapi Irgi emang keren. Ganteng lagi” –(DBL:Hal. 47)-

Konon inspirasi dan referensi Vian yang kaya dan beragam itu faktanya terilhami bukan hanya dari rubrik dan konten Majalah Aneka saja melainkan juga atas pengaruh dari media populer yang ada di zamannya.
Bekal-bekal estetis dan puitisnya manusia Vian tak dinyana didapatkan misalnya dari dialektika romantis Novelnya Fredy.S, ulasan Majalah Film yang membahas sisi cinta primordial manusia di balik adegan lari-sembunyi di pantainya Warkop DKI, atau bintang lain dari filmnya Sally Marcellina, Kiki Fatmala, Chyntia Rockrok, hingga buaian bijak ala-ala kisah Jaka Sembung dan kekasih, maupun celetukan nyastra dalam dialog layar lebar film Gairah Binal, Jaringan Tabu, Sex Slave dan Membakar Gairah (DBL;Hal.76-77). Dengan coba merujuk satu tamsil yang menjadi sumber Vian dalam menggambarkan konteks popular saat itu, dialog dalam novel ini mencatat:
“Film baru semua, tuh. Gimana?”
“Filmnya serem-serem iiih. Enggak mau, ah!”
“Bukan serem begitu.”
“Serem kenapa?”
“Judulnya menjurus begituan semua.”
“Itu kan Cuma judulnya, Yo”
“Tapi kan judul nentuin isinya. Begitu kan yang dikatain Pak Cecep waktu jelasin unsur-unsur cerpen?”
“Alahhh, itu kan teori buat cerpen. Jadi gimana dong?”
“Kalo filmnya yang begituan aku enggak mau, ah!”
“Tapi aku udah baca resensinya di Majalah Film. Enggak ada yang begituannya. Ini film-film bagus kok, katanya.”
“Itu kan resensi pesanan, Vi. Ya Pasti dibagusin-bagusin lah.” –(DBL: Hal. 42)-

Dari hal ini ghalibnya, pembaca akan dengan mudah memahami konteks historis dari latar terjadinya dialog dalam novel yang oleh sang penulis diberi penanda, “Senin, 19 April 1996”. Tak perlu kiranya berdebat kenapa karya seni dengan unsur primordial dari organ tubuh manusia sangat menonjol pada masa tersebut, toh bukan kah itu tahun adalah masa paling tegang di akhir-akhir kepemimpinan Orba dan Golongan Kuning sebelum akhirnya tumbang pada 1998? Dimana, katanya semua unsur yang bersifat heroik (pergerakan di ruang publik) justru malah kena sensor Poskambtib Soedomo, Harmoko dan O,O lainnya itu. Pun jika ada heroisitas masa itu, maka bayangan Vian adalah, “Ya heroisitas yang sifatnya sangat individu, personal dan intim gituuu deeeh”.
Di tengah kisah romantis serta unsur dialog kuat nan intim antara Vian dan Yolanda ini pun, pada akhirya daek teu daek ya kudu tetap menyinggung pula gambaran suasana perpulitikan itu waktu.
“Kamu mau milih yang mana, VI? Yang partainya bapak Bupati itu ya?”
“Luber doooong.”
“Kalo kamu besok datang ke SPMA, dibagi kaos, dibagi snack, itu tandanya enggak luber lagi Vi. Hahaha.”
“Yee, enggak jaminan dong.”
“Maksudnya?”
“Bisa jadi yang datang itu niatnya Cuma pengen dibagi kaos, dibagi snack, tapi enggak niat milih yang ngasih hahaha..”
‘’Kayak kamu dong, ya?”
“Tahu aja, hahaha. Kalo gitu mending enggak usah deh!”
“Emang kenapa? Takut disumpah yaa?”
“Enggak lah, kan kita mau ngerayain jadian, Yo” –(DBL: Hal.35)

Bak lazimnya kisah-kisah romantis yang berlalu, baik di zaman romantik maupun pada masa antik, babak-babak periwayatan sepasang siswa-siswi putih abu-abu ini meniscayakan hadirnya jejak luka yang tajam serta duka yang kerasa dalam.

Dialog Vian dengan Kocad (sohib dari sepasang manusia putih abu-abu, dari duo pemuja Dewi Cinta itu) membantu pembaca untuk sampai pada babak ini:

“Emang selama ini Lu berdua enggak pernah jadian?”
“Belum.”
“Gustii..! Lu udah jungkir balik nemenin dia, tersayat-sayat luka dari dia, tapi masih belum punya status apa-apa dari dia?”
“Status apa?”
“Pacaran lah.”
“Belum, tapi berasa pacaran.”
“Maksud lu?”.
“Itulah kasmaran yang abadi.”
“Kasmaran sendirian, cemburu sendirian.”
“Gue udah sering nyoba buka pintu hatinya, malah kelewat sering…”
“Terus?”
“Pintunya susah dibuka.”
“Terus pas dia dijodohin, Lu baru bisa maksa masuk?”
“Gue enggak maksa, Cad. Dia Sendiri yang bukain pintunya. Tapi gue engga bisa masuk. Gue Cuma diterima di terasnya, soalnya sudah ada yang masuk duluan.”
“Enggak ngerti. Otak gue enggak sanggup dibawa mikir ke situ.” –(DBL: Hal. 111)

Dalam dialog lainnya, tampak kedalaman luka itu makin menjadi:

“Gue enggak bohong, Cad.”
“Terus Lu mau begini aja? Ngejar-ngejar seseorang yang Cuma ngasih Lu baying-bayang?”
“Kesetiaan bayang-bayang enggak diraguin, Cad.”
“Itu kalo ada cahaya! Lha kalo gelap gulita? Mampus itu yang namanya kesetiaan.”
“Cahaya itu ada di dia.”
“Lagi mabok, Lu. Mabok cinta!”
“Cahaya itu makin tercipta saat dia ngasih serpihan-serpihan luka ke gue.”
“Lu, sehat kan, Vi? Jidat Lu, biasa aja, engga panas-panas amat!”
“Apaan sih, Lu?!”
“Ngecek suhu badan Lu aja, soalnya omongan Lu udah mulai ngaco. Kayak yang enggak sadar gitu.”
“Orang kasmaran kalo mabok enggak sampe kesurupan, Cad!” –(DBL:Hal.131)-

Wa ba’du, begitulah Vian. Tampak tegar, kuat dan cenderung menyatakan dirinya masih dalam status yang sehat akal dan sadar.

Setiap sayat dan sabetan luka bagi Vian boleh jadi adalah dosis yang dapat terus meningkatkan daya juangnya, dan entah energi kutukan Lembah Ciremai mana yang berhasil masuk ke dalam raganya. Yang pasti, luka baginya adalah perjalanan babak yang tampak abadi. Keabadian memang meniscayakan adanya perjalanan tanpa ujung nan panjang.

Syahdan, luka dalam dialog novel ini jika ditilik (ini gak ada hubungannya ama film Tiliknya bu Tejo itu yak!) dari beberapa fragmen Vian, malah sering dihadapi dengan logika canda yang lugu dan lucu.

Lantas jika ada pertanyaan, sejak kapan Luka itu punya babak, dan bagaimana dapat menjadikannya abadi?

“Ya sejak Vian mulai mampu memahat batu-batu kenangan luka itu menjadi beragam prasasti baik dengan model semut, kura-kura, kumbang, ayam, pungguk, cicak, nyamuk, kodok, jaran kuda, manuk pipit, kelelawar, maupun aneka satwa Ciremai lainnya itu! Dan dengan begitu, bukankah luka maupun kenangan itu dapat abadi?

Siake beneran emang lu A.!!!