KYAI “UCI” SYARIFUDIN SANG PENJAGA TRADISI DARI LENGKONG

Ciremai News

Penulis : Mohammad Syafaat, Penikmat Senja Ciremai

Geneologi Pengetahuan Sang Kyai 

Seperti lazimnya fase awal pembelajaran putra kyai di zaman itu, Kyai Uci kecil memulai proses  ilmiyahnya dengan menimba ilmu dari sang ayah. Sembari mengutip sebuah ungkapan bahwa “buah tak jatuh jauh dari pohonnya”, demikian pula dengan warisan keilmuan yang diperoleh Kyai Uci Kecil dari sang ayah, mengalir dengan begitu lurus dan alami. Hal ini tampak dari rasa khidmatnya Kyai Uci kecil dalam setiap proses pembelajaran, terutama dalam babak-babak hapalan atas nazam-nazam di bidang ilmu nahwu. Hingga menginjak usianya yang ke 13, Kyai Uci pun mengawali rihlah pengetahuannya ke Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin di Desa Ciwaringin, Cirebon, di bawah asuhan KH. Sanusi.

Dengan berbekal kekuatan dasar ilmu nahwu yang ia miliki, tanpa disangka ketika memasuki tahun pertamanya di Pesantren Raudhatut Thalibin Ciwaringin, Kyai Uci dipercaya langsung oleh KH. Sanusi untuk membantu mengajarkan fan ilmu alat tersebut kepada santri-santri yang lain.

Jihad pengetahuan yang terpatri di dalam diri Kyai Uci, terutama dalam fase lanjutan pengembaraan intelektualnya ternyata tidak menghentikan langkahnya untuk terus belajar. Selepas menimba ilmu selama tiga tahun di Pesantren KH. Sanusi di Cirebon, Kyai Uci melanjutkan tradisi “mesantren”nya ke Pondok Pesantren Baribis, di Majalengka. Melewati satu tahun di Pesantren itu, Kyai Uci memutuskan untuk berguru kepada Kyai Syafe’i di sebuah Pesantren di daerah Kadipaten Majalengka. Di pesantrennya yang terakhir ini, seketika Kyai Uci melewati fase kedewasaannya yang kian beranjak matang. Berangkat dari sebuah niat yang tulus dan sadar, saat menginjak usianya yang ke 19, Kyai Uci kemudian memutuskan untuk segera kembali ke Lengkong, dengan menyiapkan dua keputusan besar, pertama muqim dan mengabdikan diri untuk merintis pesantren, dan yang kedua menikah.

Untuk membuktikan dua keputusan besar (baca; muqim dan menikah) tersebut, Kyai Uci memulai perjalanan kembalinya ke Kuningan dengan terlebih dahulu melakukan ritual tabarukan ke pesantren-pesantren yang berada di dataran tanah jawa maupun pasundan.

Dari rangkaian tabarukan ke pesantren-pesantren di segenap penjuru tanah para wali itu, Kyai Uci seakan mendapatkan satu kekuatan besar yang kelak dapat mengantarkan kekaffahan beliau dalam menyebarkan pengetahuan keislaman di kampung halaman.

Tepat tahun 1964, Kyai Uci telah kembali menginjakkan kakinya ke tanah Lengkong, Kuningan. Keputusan pertama untuk muqim pun beliau jalani. Dimulai dengan kembali membantu sang ayah dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat sekitar, hingga menerima beberapa santri yang ingin memperoleh pembelajaran yang lebih dari ilmu kepesantrenan. Dengan bermodalkan pondok kecil tempat belasan santri mengaji, Kyai Uci dan ayahnya tampak begitu bergelora dalam mengajarkan setiap ilmu-ilmu agama yang keduanya kuasai.

Tanpa menunggu lama, setelah Kyai Uci begitu “nyata” menikmati proses transformasi keilmuannya, pada momen awal itu pula Kyai Uci memutuskan untuk menikah dan mengakhiri masa lajangnya.

Dalam keseluruhan perjalanan hidupnya Kyai Uci telah melewati empat kali masa pernikahan. Dari  beberapa keturunannya tersebut, sejatinya Kyai Uci  memiliki banyak generasi penerus, khususnya dalam ikhtiar perawatan atas tradisi keilmuan dan keberkahan yang senantiasa dipegang dan diwariskan.

Raudhotut Tholibin: Riwayat Sebuah Pengabdian

Berangkat dari bentuk kegigihan dan keistiqomahan Kyai Uci dalam ikhtiar mewartakan keilmuan Islam mulai dari sanak keluarga, kerabat hingga masyarakat luas, menjadikan pondok tempat Kyai Uci berkhidmat kian mendapatkan keberkahanannya. Dalam suasana keberkahan tersebut, seketika Kyai Uci teringat akan amanat yang pernah diberikan oleh KH. Sanusi, pengasuh pondoknya di Ciwaringin dulu, bahwa “jika ingin memilih nama resmi untuk pondok pesantrenmu kelak gunakanlah nama yang sama dengan pondok ini, yaitu Raudhatut Tholibin” demikian Kyai Sanusi berujar.  Raudhotut Thalibin hakikatnya adalah salah satu jejak berharga yang didapatkan oleh Kyai Uci dari sang gurunya terdahulu, namun juga kelak akan menjadi jejak berharga bagi para santri-santri dari Kyai Uci.

Seiring berjalannya khidmat kepesantrenan Kyai Uci di pesanten Raudhotut Thalibin Lengkong, saat memasuki tahun 1970-an hingga 1980-an, jumlah santri yang berdatangan untuk “mesantren” kepada beliau semakin hari tampak semakin bertambah. Dari jumlah santri yang semula hanya belasan, kemudian bertambah hingga ratusan bahkan mencapai angka ribuan.

Perkembangan pesat dari pesantren ini tidak lepas dari falsafah kepesantrenan yang diajarkan oleh Kyai Uci, yaitu tarbiyah, ta’lim wa ta’allum. Dari falsafah tarbiyah, Kyai Uci ingin mengabarkan bahwa nilai pendidikan hakiki yang ada di dalam pesantren Raudhatut Thalibin itu bersumber dari Allah sang Rabbi, dan nilai kesyukurannya pun ditujukan kepada ridha Allah, Sang Rabbi.

 Dari prinsip ta’lim wa ta’allum di Pesantren Raudhatut Thalibin, diterangkan bahwa segala ilmu yang dipelajari maupun yang diajarkan di dalam dunia kepesantrenan hakikatnya adalah ilmu yang mampu bernilai manfaat bagi diri sang pembelajar, juga memberi kemaslahatan bagi di luar diri sang pembelajar.

Dalam sistem tarbiyah, ta’lim, wat taa’llum diterapkan juga kelas pesantren dengan gaya klasikal. Bentuk klasikal ini kemudian melekat pada sistem jenjang  yang merujuk pada kemampuan masing-masing santri dengan standar penguasaan mereka atas ilmu nahwu.

Di pesantren ini, Kyai Uci membagi empat jenjang kelas, dengan masing-masing kelas:

  1. Kelas Ajurumiyah
  2. Kelas ‘Imrithi
  3. Kelas Al-Fiyah, dan
  4. Kelas Jauharul Maknun

Pembagian kelas berdasarkan penguasaan santri atas ilmu nahwu ini tidak menjadi asing, karena (takhasuss) keilmuan di Pesantren Kyai Uci ini adalah ilmu alat. Ilmu alat sebagaimana dimaknai dalam sistem pendidikan pesantren (salafiyah) merupakan suatu cabang ilmu yang mengkhususkan penguasaan “perangkat” kebahasaan sebagai kunci dalam memahami ilmu keagamaan.

Ada satu maqolah yang selalu dikumandangkan oleh Kyai Uci tentang ketakhasussan  ilmu alat ini, yiatu, من لا يعرف الاعراب لا يعرف المراد ” (Artinya, barangsiapa yang tidak mengerti ilmu I’rob (nahwu), maka tidak akan mengerti apa yang dimaksud). Mengedepankan Nahwu sebagai pelajaran inti dan identitas pesantren bukan berarti melalaikan ilmu-ilmu yang lain. Beliau juga kemudian mengajarkan fan-fan lain seperti fiqih, tauhid, tafsir, Hadits dan lain sebagainya.

Dalam mengajar Kyai Uci pun menerapkan prinsip قليل قر خير من كثير فر” (sedikit tapi mengena lebih baik daripada banyak tapi lepas). Dari kaidah ini, dapat disimpulkan tentang metode pembelajaran yang sangat fokus yang ditawarkan oleh Kyai Uci di Pesantrennya. Dan berkenaan dengan prinsip terakhir ini mengemuka satu hikayah, bagaimana KyaiUci dengan sabar dan teliti mengevaluasi pemahaman santri, hingga sedalam-dalamnya pemahaman.

Selain jejak peninggalan dari Kyai Uci berupa laku uswatun hasanah, yang terpancar dalam proses pembelajaran, terdapat pula beberapa warisan tertulis yang sempat beliau abadikan dalam 6 karya berharga, seperti: 1. Wadhifatul Yaumiyah Wallailah. 2. Al-Jawahirul Kalamiyah. 3. Taqrirotul Bayan Fi Ilmil Bayan. 4.Khomsina `Aqo`id. [5]. Qowa’idul i`lal. [6].Qotrotud Dlo’if.

Syahdan, bentuk kepedulian Kyai Uci tentu saja tidak hanya berkutat dengan dunia pesantren dan kesantrian saja. Beliau juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Tercatat beliau pernah menjadi ketua Mukhtasar Nahdlatul Ulama Kabupaten kuningan pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2003. Meskipun demikian himmah Kyai Uci tetap merupakan sang Kyai bagi pesantren, santri dan keseluruhan masyarakat desanya. Hal ini nampak di akhir masa pengabdiannya, sang Kyai yang dalam kondisi sakit namun ketika mendengar panggilan berjamaah untuk shalat lima waktu beliau tetap memaksakan diri datang ke masjid, walau harus dengan gendongan para santri yang siap memangkul tubuh beliau.

Adalah kesetiaan Kyai Uci terhadap Allahlah yang akhirnya mempertemukan beliau dengan Sang Kekasih sejati. Pada tahun 1426 H bertepatan dengan tahun 2004 M, selepas shalat dhuha yang beliau tunaikan, Sang Kyai penjaga gawang kokoh di dalam tradisi kepesantrenan ini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.

Diolah kembali berdasarkan biografi pada http://www.rdt-alidrus.com/index.php/profile-pondok/