Mama Ajengan Amin Anwar, Santri Hadratussyaikh Hasyim Asyari asal Kuningan

KIAI HAJI AMIN ANWAR, (1921-1991), Beliau merupakan sosok kiai kharismatik, mendapat sebutan ‘Mama Ajengan’ dari masyarakat kuningan khususnya daerah kadugede, dengan keunggulan beliau di bidang alat(nahwu shorof) membuat beliau tergolong ulama yang berjumlah sedikit dengan spesialisasi tersebut. Kiai Haji Amin Anwar seorang Alim yang sangat gemar mencari ilmu serta mendalaminya, sehinggakehidupan beliau sewaktu muda banyak di gunakan untuk nyantri di berbagai pesantren. Dan kedalaman ilmu yang beliau dapat membuat beliau sangat di hormati oleh masyarakat kuningan khususnya warga Nahdlyin di kab. Kuningan.

Lahir di Desa Kadugede, kuningan jawa barat,  pada tahun 1921. Kiai Haji Amin Anwar adalah anak dari pengasuh pondok pesantren salafi al Anwari yaitu Kiai Haji Anwar, dari garis silsilah ayahnya, Kiai Haji Amin Anwar merupakan cicit dari Abah Romli, salah satu mursyid thoriqoh Syatariah di kadugede. Kiai Haji Amin Anwar merupakan penerus generasi ke dua pondok pesantren Al-Anwar, beliau menggantikan ayahnya Kiai Haji anwar yang meninggal pada tahun 1941. Di bawah kepemimpinan beliau pesantren salafi al anwar,mengalami perkembangan pesat dengan memperkenalkan beberapa metode pengajaran seperti sorogan(Membaca kitab secara individu) dan bandungan(membaca kitab secara kolektif).

Kurikulum yang di ajarkan atau pengajaran yang beliau berikan pada santri al anwari  menitik beratkan pada kajian ilmu alat yaitu nahwu shorof(Tata Bahasa Arab), selain itu Kiai Haji Amin Anwar juga mengajari santrinya ,balaghah(sastra arab)serta ilmu mantiq(logika) Dan berkat sistem pengajaran yang diterapkan Kiai Haji Amin Anwar banyak santri yang belajar pada pesantren Al-Anwari. Pada saat itu santri yang belajar pada Kiai Haji Anwar kurang lebih berjumlah 400 sampai 500 santri.

Selain memperkenalkan metode serta kurikulum beliau juga memperkenalkan tradisi baru di dunia pesantren yaitu Bahtsul Matsail, pembahasan mengenai beberapa masalah dalam memahami fenomena keagamaan, lalu didiskusikan di dalam forum Bahtsul Matsail dengan merujuk pada kitab-kitab Ulama Salaf. Sistem yang beliau kenalkan ini merupakan khazanah baru di dunia pesantren kab. Kuningan. Dan beberapa kitab yang beliau tulis merupakan tanggapan terhadap fenomena perdebatan yang terjadi selama Batsul Matsail dilaksanakan, keberagaman pemahaman ini terangkum dalam beberapa kitab beliau, diantaranya, tazkiyatunnafiahfil bayani ahhlusunah waljammah serta dalil hujjah kaifiyan al-qunut dan lain sebagainya.

Selain itu beliau juga menulis beberapa kitab seperti kotrotul khairih di bidang alat(nahwu shorof) yang mempunyai arti setetes air di musim kemarau, kitab ini merupakan oase di tengah sulitnya memahami keilmuan di bidang alat(nahwu shorof), serta penna khulasoh maulid diba’i, yang merupakan ulasan syair syair pujian untuk Kanjeng Nabi Muhamad SAW.

Keilmuan beliau didapatdi berbagai pesantren, di antaranya, pesantren Ciwedus di Cilumus merupakan pesanten pertama yang di datangi beliau, setelah itu beliau mondok di pesantren Jamanies Tasikmalaya, lalu kemudian beliau meneruskan pendidikan pesantren ke Kiai Haji Sanusi(Mbah Sanusi) di babakan Ciwaringin, lulus dari Ciwaringin beliau belajar lagi ke Mama Gentur salah satu pesantren di Cianjur dan untuk memantapkan keilmuannya Kiai Haji Amin Anwar belajar ke tebuireng di bawah bimbingan Hadratussyeikh Kiai Haji Hasyim Asyari. 

Kegemaran beliau dalam mencari ilmu tidak berhenti pada pesantren saja, Setelah belajar dari beberapa pesantren yang di sebutkan di atas, beliau sempat mengenyam pendidikan formal di salah satu MA(Madrasah Aliyah) di kadugede.  ketekunan beliau dalam mendalami ilmu agama membuat beberapa tokoh masyarakat memberikan posisi khusus di pemerintahan desa sebagai kepala Kua, namun jabatan yang beliau emban tidak berlangsung lama hanya 6 bulan di karenakan tidak stabilnya politik di pemerintahan desa.

Bagi keluarganya beliau merupakan sosok pribadi yang mempunyai pengetahuan luas serta berpandangan jauh, beliau tidak mengenal kata lelah dalam mencapai visinya sebagai ulama yang peduli terhadap perkembangan keilmuan di dunia pesantren, dan perjuangan beliau dalam mempertahankan visinya, seringkali membuat keluarganya kaget dengan cara beliau mencapai visinya.

Perjuangan beliau sebagai ulama tidak berjalan mulus, beliau Menurut salah satu sumber, sempat ditangkap serta ditahan selama kurang lebih 4 bulan atas tuduhan terlibat dengan aktivitas politik Dii/Tii. Namun tuduhan itu tidak berbukti dan beliau di bebaskan

Sebagai seorang ulama, Perjuangan Kiai Haji Amin Anwar,lebih banyak didedikasikan pada organisasi Nahdatul Ulama kabupaten kuningan, beliau merupakan pelopor pendidirian organisasi tersebut dan beberapa kali sempet menjabat sebagai Rois syuriah pc NU kuningan pada periode awal yaitu pada tahun 1960n sampe tahun 1980.

Setelah beberapa kali menjabat sebagai Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kab. kuningan, kehidupan beliau lebih banyak di habiskan sebagai pengasuh pondok pesantren. Dan  pada tahun 1991, Kiai Haji Amin Anwar meninggal dunia di usia 70 tahun, beliau di kebumikan pemakaman keluarga, dusun parenca, desa kadugede, kec. Kadugede, kab. kuningan,beliau meinggalkan tiga anak dan dua istri. Sebelum meninggal beliau sempat mengumpulkan ketiga anaknya yaitu Kiai Haji. Taufiqullah Amin, Mohamad Fauzi, Ohan Jaoharuzzaman, kemudian berpesan kepada ke tiga anaknya agar tetap berpegang teguh pada tradisi dan “jangan kemana-mana jaga pesantren” dawuh Mama Ajengan.

REFERENSI

Johan Otong, 2015, Wawancara Tokoh.

Kiai Haji  Amin Taufqullah, 2015, Wawancara Ahli.

Penulis, 2015, Kunjungan Lapangan ke Makam Kiai Haji Amin Anwar.