Mengenang Kiai Eman Sulaeman, Sosok Kiai Sepuh yang Bersahaja.

Ciremai News

Kuningan, Ciremainews – Kiai Eman. Sesepuh Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiien Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan. Yang meninggal dunia pada Selasa (14/07/2020) jam 01.00 WIB di rumahnya di Dusun Pahing, RT.08/RW.02, Desa Cieurih, Kecamatan Cidahu, dikenal sebagai Kiai yang bersahaja. Tak menyekat dirinya pada siapapun menjadi penyejuk bagi siapapun melalui Guyonannya.

Kiai Eman, Beliau dilahirkan pada Tanggal 13 November 1958, Ayahnya seorang Ulama besar yang menjadi penerus Abuya Abdul Halim Pendiri Pondok Pesantren tertua di Kuningan Timur Roudlitul Mubtadiin yakni Kiyai Satori. Kiyai Satori merupakan murid kesayangan dari Abuya Abdul Halim sekaligus menantu. Kiai Satori ditikahkan dengan putrinya bernama Nyai Sa’adah. Masyarakat memanggilnya dengan sebutan Nyai Edoh. Kiai Satori sendiri berasal dari desa Galaherang Kecamatan Maleber. Beliau merupakan santri kinasih Abuya Abdul Halim hal inilah yang menjadi dasar Abuya menikahkan putrinya dan menunjuknya sebagai penerusnya selain karena kepandaian Kiai Satori.

Dari pernikahan Kiai Satori dengan Nyai Sa’adah inilah lahir Kiai Eman. Kiai Eman tumbuh dan besar di lingkungan Pondok Pesantren, diingkungan Ponpes asuhan Kiai Satori, Kiai Eman belajar Agama Islam. guru Pertama beliau adalah Kiai Satori, Ayahandanya. Di bawah bimbingan Ayahandanya Kiai Eman memahami banyak hal tentang Islam. Gairah Menimba Ilmu merupakan Gairah yang ditanamkan Kiai Satori pada Kiai Eman kecil sehingga kala menginjak Usia dewasa beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Buntet Cirebon, kemudia. meneruskan di Pondok Pesantren Giren, Selawi tegal. dari Giren beliau melanjutkan proses Nyantri dengan tabarukan di beberapa pondok pesantren, ke Gedongan Cirebon dan pesantren pesantren di wilayah Jawa tengah Jawa timur dan Banten.

Beliau menjadi Alim dengan banyak menyerap ilmu Agama Islam di berbagai Ponpes namun beliau memilih tidak berpenampilan layaknya seorang Alim. Hidupnya santai. bergaul dengan siapapun tanpa sekat, tanpa membeda-bedakan orang melalui Guyon beliau melebur dengan siapa pun dan dari berbagai kalangan.

Di usia matang Beliau menikah dengan Nyai Eem Rohimah Binti Kiai Haji Mukti Jagasara. Kiyai Mukti juga seorang Ulama besar yg juga mantu dari Kiyai Abuya Abdul Halim yang ditikahkan dengan Putri beliau bernama Nyai Iboh. Lingkaran Kehidupan Jagasara memang unik para cucu Abuya Abdul Halim selalu beliau tikahkan dengan cucu nya juga dari anak beliau yang lain Kiai Haji Mukti merupakan Murid Abuya Abdul Halim yang disayangi dan dicintai Abuya sama seperti Kiai Satori. Dari Lingkaran inilah Ponpes Raudlatul Mubtadiin memiliki akar kekeluargaan yang kuat.
Dari pernikahan Kiyai Eman Sulaiman dengan Nyai Eem tidak dikaruniai anak, beliau tetap bersabar, beliau mengadopsi anak dari dari adik sepupunya yang bernama Kang Haji Emon. Kang Hai Emon merupakan putra dari adik Kiai Satori yang bernama Kiai Ilyas. KIai Ilyas adalah seorang Ulama di desa Cipancur Kecamatan Kalimanggis, beliau pendiri pesantren Cihonje yang Masyhur wilayah di Kuningan Timur.
kemudian Kang Emon, Anak angkat Kiai Eman, Putra Kiai Ilyas ditikahkan dengan anak ulama besar Cilimus pimpinan pondok pesantren Alkautsar Abuya IIng Nasihin.

Kiai Eman dikenal piawai dalam berdiplomasi. Menjalankan kerja politik keumatan. Siyasah Kiai Eman diperhitungkan di kancah organisasi NU kabupaten Kuningan dan Partai Politik PKB, beliau menjadi rujukan dan referensi siyasah bagi NU serta PKB.
kini banyak kalangan merasa sangat kehilangan dengan sosok Kiai Eman seorang kiyai besar namun sering berpenampilan nyeleneh selayaknnya Bob Sadino. Kiai yang senang menyembunyikan kealimannya agar orang tidak canggung dengan dirinnya.