Konsep bela negara di era non-militer menjadi perhatian serius di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus digitalisasi. Anggota MPR RI, KH. An’im Falahuddin Mahrus>, menegaskan bahwa bela negara saat ini tidak lagi identik dengan angkat senjata, melainkan diwujudkan melalui kontribusi nyata generasi muda dalam berbagai sektor kehidupan.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan yang digelar di Gedung Madrasah Aliyah Papar, Kabupaten Kediri, pada 9 Desember 2025 pukul 07.00 WIB hingga selesai. Acara tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari pelajar, tenaga pendidik, serta unsur pemuda setempat.
Dalam pemaparannya, KH. An’im menjelaskan bahwa ancaman terhadap bangsa kini lebih banyak bersifat non-militer, seperti disinformasi, radikalisme digital, degradasi moral, hingga melemahnya semangat persatuan. Karena itu, implementasi bela negara bagi Generasi Z dan milenial harus disesuaikan dengan konteks zaman.
“Bela negara hari ini adalah tentang menjaga persatuan, memperkuat literasi digital, berprestasi di bidang pendidikan, serta berkontribusi positif di ruang sosial dan media digital. Tidak semua perjuangan dilakukan di medan perang, tetapi bisa dilakukan melalui karya dan karakter,” ujar KH. An’im di di PPHM Lirboyo Papar, Kediri.
Ia menekankan bahwa Generasi Z dan milenial memiliki posisi strategis karena kedekatan mereka dengan teknologi. Menurutnya, ruang digital harus dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, memperkuat toleransi, dan membangun optimisme terhadap masa depan Indonesia.
“Generasi muda jangan hanya menjadi penonton dalam arus globalisasi. Mereka harus menjadi pelaku perubahan. Gunakan media sosial untuk menyebarkan edukasi, bukan provokasi. Gunakan teknologi untuk inovasi, bukan untuk memecah belah,” tegas KH. An’im dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa implementasi bela negara di kalangan pelajar dapat diwujudkan melalui disiplin belajar, menjunjung tinggi nilai Pancasila, menghormati perbedaan, serta aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sikap tangguh, adaptif, dan berintegritas menjadi karakter utama yang harus dibangun sejak dini.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi dialog yang membahas peran generasi muda menghadapi tantangan global. Para peserta antusias menanyakan langkah konkret agar nilai bela negara tidak sekadar menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi gaya hidup.
Menutup kegiatan tersebut, KH. An’im mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa bela negara adalah tanggung jawab bersama. “Kalau kita ingin Indonesia maju dan kuat, maka generasi mudanya harus memiliki karakter kuat. Bela negara bukan hanya kewajiban hukum, tetapi panggilan moral untuk menjaga masa depan bangsa,” pungkasnya.
Acara yang berlangsung hingga siang hari itu diakhiri dengan komitmen bersama peserta untuk menjadi generasi yang cerdas, berintegritas, serta aktif menjaga persatuan dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital.

