Oleh : Anwar Nasihin, S.Kom.,M.Si
Kepala Bidang Keluarga Sejahtera DPPKBP3A Kab Kuningan
CiremaiNews,Kuningan- Indonesia tengah berada pada fase penting dalam struktur demografi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2025, jumlah anak dan remaja usia 0–19 tahun mencapai sekitar 88,81 juta jiwa. Angka ini menjadi modal besar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, kelompok remaja usia 15–19 tahun diproyeksikan berjumlah sekitar 22,1 juta jiwa.
Besarnya populasi usia muda ini turut diperkuat oleh proyeksi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 281,6 juta jiwa, sebagaimana dilaporkan sejumlah sumber nasional. Di tingkat daerah, data dari Kemendukbangga Perwakilan Provinsi Jawa Barat mencatat terdapat sekitar 8.551.647 keluarga yang memiliki remaja usia 10–24 tahun yang belum menikah.
Tantangan dan Karakteristik Remaja
Dengan jumlah yang signifikan, remaja menjadi kelompok strategis sekaligus menantang. Pada fase ini, mereka tengah mengalami perkembangan emosional dan sosial yang dinamis. Sejumlah karakteristik umum yang kerap muncul di antaranya adalah kecenderungan menjaga jarak dengan orang tua dan lebih dekat dengan teman sebaya, kebutuhan untuk diakui keberadaannya, serta kondisi emosi yang belum stabil.
Selain itu, remaja mulai berani mengekspresikan ketertarikan kepada orang lain, aktif dalam lingkungan sosial yang disukai, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Proses pencarian jati diri ini merupakan bagian alami dari perkembangan menuju kedewasaan.
Peran Keluarga di Momen Idulfitri
Momentum Idulfitri menjadi salah satu kesempatan penting untuk memperkuat hubungan keluarga, termasuk dengan remaja. Dalam suasana kebersamaan, keluarga diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih terbuka bagi remaja untuk menyampaikan cerita, harapan, dan pandangannya.
Pendekatan yang terlalu menekan, seperti menanyakan target pekerjaan atau pernikahan, justru berpotensi menimbulkan kebingungan dan tekanan bagi remaja yang masih dalam tahap pencarian arah hidup. Sebaliknya, suasana dialog yang hangat dan tanpa interogasi akan membantu remaja merasa lebih dihargai.
Membangun Komunikasi yang Sehat
Memberikan kesempatan kepada remaja untuk berbicara di tengah keluarga dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Dengan komunikasi yang terbuka, remaja akan lebih percaya diri, merasa diterima, serta memiliki keberanian untuk mengekspresikan diri secara positif.
Keluarga sebagai lingkungan terdekat memiliki peran kunci dalam membentuk generasi muda yang sehat secara emosional dan sosial. Dengan pendekatan yang tepat, potensi besar dari bonus demografi ini dapat diarahkan menjadi kekuatan utama menuju Indonesia yang lebih maju di masa depan.

