Jum. Apr 17th, 2026

Sudjatmiko Tekankan Anak Muda Jadi Penentu Kualitas Demokrasi di Ruang Digital

Ciremainews – Polarisasi sosial akibat perbedaan pilihan politik di media sosial menjadi tantangan serius dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Perdebatan yang seharusnya sehat kerap berubah menjadi serangan personal, ujaran kebencian, hingga penyebaran hoaks yang memperuncing perpecahan.

Anggota MPR RI, Sudjatmiko dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam meredam situasi tersebut. Menurutnya, anak muda bukan hanya pengguna terbesar media sosial, tetapi juga penentu arah kualitas demokrasi di ruang digital.

“Perbedaan pilihan politik itu wajar dalam sistem demokrasi. Yang tidak boleh adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi kebencian dan permusuhan. Generasi muda harus menjadi penjaga ruang dialog, bukan justru ikut memperkeruh suasana,” ujar Sudjatmiko, beberapa saat lalu.

Ia menegaskan bahwa strategi konkret yang dapat dilakukan generasi muda adalah memperkuat literasi digital dan etika bermedia sosial. Setiap informasi yang memancing emosi perlu diverifikasi sebelum dibagikan. Diskusi politik pun harus diarahkan pada program dan gagasan, bukan pada serangan terhadap identitas suku, agama, atau latar belakang pribadi.

“Jangan mudah terpancing provokasi. Biasakan cek dan ricek sebelum membagikan informasi. Demokrasi yang sehat dibangun dengan adu gagasan, bukan adu kebencian,” tegasnya.

Sudjatmiko juga mengingatkan pentingnya keluar dari “ruang gema” atau echo chamber di media sosial, di mana pengguna hanya terpapar pandangan yang sejalan dengan dirinya. Menurutnya, dialog lintas pilihan justru penting untuk membangun kedewasaan politik dan memperluas perspektif.

Lebih lanjut, ia mendorong generasi muda untuk aktif memproduksi konten positif yang memperkuat persatuan dan semangat kebangsaan. “Media sosial jangan hanya jadi arena debat panas. Jadikan juga sebagai ruang edukasi, ruang kolaborasi, dan ruang untuk memperkuat Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi politik yang semakin dinamis, peran generasi muda dinilai krusial dalam menjaga harmoni sosial. Dengan literasi digital yang kuat, etika komunikasi yang baik, serta komitmen terhadap persatuan, ruang digital dapat tetap menjadi wadah demokrasi yang sehat dan inklusif.

Sebagaimana ditegaskan Sudjatmiko, masa depan demokrasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh hasil pemilu, tetapi juga oleh cara masyarakat terutama generasi muda dalam menggunakan mengelola perbedaan di ruang publik digital.

Berita Terkait