Sen. Mei 18th, 2026

Krisis Energi Mengintai, Mari Bersikap Lebih Bijak Dalam Penggunaan Energi dan Menjaga Kestabilan Ekonomi Bangsa

Oleh: Riki Irfan ST MSI (Dosen Universitas Al-Ihya Kuningan, Praktisi Energi Terbarukan)

CiremaiNews,Kuningan- Krisis energi, isu Global yang telah digaungkan sejak setengah abad lalu, agar memberikan kesadaran dan mengajak penduduk dunia agar peduli dan memitigasi nya. Saat ini, krisis energi bukan lagi cerita negara jauh, bahkan dampaknya kini semakin terasa di negara kita, mulai dari naiknya harga bahan bakar minyak, biaya listrik, hingga harga kebutuhan pokok yang juga ikut melonjak. Krisis energi bukan hanya soal kelangkaan pasokan, tetapi juga ancaman serius bagi kestabilan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Secara sederhana, krisis energi terjadi ketika ketersediaan energi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ketika pasokan menipis, harga naik, biaya produksi meningkat, dan akhirnya masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Dalam beberapa tahun terakhir, gejolak harga minyak dan gas global telah membuat banyak negara tertekan secara ekonomi, terjadi inflasi dan bahkan krisis ekonomi. Meskipun sampai saat ini kita masih bertahan, Indonesia tidak sepenuhnya imun dari risiko krisis tersebut.

Pemerintah senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketahanan energi nasional, seperti menjaga ketersediaan bahan bakar dan memperkuat pasokan energi nasional.  Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan sumber energi yang ada di dalam negeri, seperti batu bara, minyak sawit (bio fuel), serta mempercepat pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan seperti PLTS surya, PLTB bayu, PLTA air dan PLTP panas bumi.

Kemandirian energi sangat penting agar kita tidak bergantung pada pasokan energi dari hasil impor dan agar kita tidak mudah terdampak gejolak harga minyak dan gas global. Namun, tentu saja kemandirian energi tidak bisa dilakukan secara instan, dibutuhkan perencanaan yang matang, kebijakan yang konsisten, investasi berkelanjutan, serta dukungan aktif dari seluruh masyarakat. Menurut pengamat kebijakan dan ketahanan energi, pemerintah perlu memastikan pasokan energi tetap terjaga, mengurangi impor energi, mempercepat penggunaan energi terbarukan, serta memperkuat infrastruktur energi nasional. Batu bara dan sumber energi lain juga perlu dikelola dengan bijak mendukung transisi energi bersih.

Mitigasi Krisis energi bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.  Untuk mengurangi risiko krisis energi, kita sebagai masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana sebagai berikut:

1. Ikut menghemat dan menggunakan Energi secara bijak, seperti: Menghemat listrik di rumah dan tempat kerja, seperti mematikan lampu dan alat elektronik saat tidak digunakan, Menggunakan transportasi umum atau kendaraan yang lebih hemat energi dan memanfaatkan energi terbarukan skala rumah tangga, seperti panel surya atap atau biogas.

2. Turut mendukung program pengembangan Energi Terbarukan, yaitu: Mendukung program pemerintah terkait energi terbarukan, seperti pemakaian biodiesel B35 dan kendaraan listrik; Bersikap terbuka  dan mendukung penuh upaya pengembangan energi terbarukan (pengembangan energi panas bumi, energi surya, energi angin dan lainnya).

Langkah langkah sederhana yang disampaikan diatas, jika didasari kesadaran kolektif dan dilakukan secara luas, dapat membantu menekan konsumsi energi dan selaras dengan upaya mencapai kemandirian energi. Dukungan masyarakat dalam pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya, tenaga bayu, tenaga panas bumi, penggunaan biodiesel, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik adalah bagian dari langkah jangka panjang yang perlu di lakukan bersama. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, namun sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga saat ini kita masih ketergantungan energi migas yang kita import dari negara lain.

Krisis energi juga tentu akan berpotensi memicu krisis ekonomi. Karena itu, kita sebagai masyarakat perlu menyiapkan diri agar dapat bertahan dan terhindar dari krisis ekonomi, dengan memulai menerapkan kebiasaan berikut: 

1.Mengelola Keuangan dengan Bijak yaitu dengan menyiapkan Dana Darurat (3-6 kali pengeluaran bulanan), menghemat pengeluaran/anggaran, mengurangi belanja impulsif, dan memprioritaskan kebutuhan primer (pokok) dibandingkan tersier, Menghindari utang jangka panjang atau utang dengan bunga, dan hutang untuk konsumtif gaya hidup.

2.Meningkatkan Ketahanan Ekonomi yaitu dengan mencari alternatif penghasilan tambahan (side hustle/freelance) untuk memperkuat arus kas dan tempatkan dana pada instrumen investasi yang stabil dan berisiko rendah (misalnya tabungan emas, tabungan aset produktif), gali terus peluang usaha (termasuk UMKM, mengupayakan ekonomi hijau, atau ekonomi digital).

3.Memberikan Dukungan pada Sektor Riil: Membeli produk dalam negeri untuk menjaga perputaran uang dan mendukung UMKM, tidak tergiur judi online atau investasi bodong yang dapat merusak stabilitas ekonomi pribadi dan nasional. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian finansial individu, yang secara kolektif akan memperkuat perekonomian nasional.

Perlu kita ingat, langkah besar suatu Bangsa itu selalu dimulai dari langkah kecil kolektif warga masyarakatnya. Kondisi krisis energi yang telah terjadi di beberapa negara lain, seharusnya menjadi pengingat agar kita lebih hemat dan peduli terhadap masa depan energi bangsa. Adanya resiko krisis energi, perlu kita sikapi secara bijak tanpa kepanikan, dan kita jadikan sebagai momentum bagi Indonesia untuk berbenah, memperkuat kemandirian energi, dan menata ulang pola konsumsi energi kita sebagai masyarakat. 

Kita perlu meningkatkan kesadaran dan partisipasi menunjang kemandirian energi. Dengan kesadaran untuk menerapkan hemat energi, terus  mendukung pengembangan energi terbarukan yang melimpah di Indonesia, pada dasarnya kita sedang turut andil menjaga ketahanan energi sekaligus melindungi masa depan ekonomi Indonesia. 

Mari mulai bersikap bijak dalam menggunakan energi mulai saat ini sebagaian besar hasil import, kita membenahi kebiasaan  dalam memanage perekonomian kita masing masing kita secara individu, berhemat, menabung dan tidak ikut ikutan judi online, agar risiko krisis energi bisa kita hindari bersama sama. Demikian semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan kesadaran kita semua. Wallahu alam bishawab.

Berita Terkait