Sab. Apr 18th, 2026

Mau Hidup Tenang, Yuk Kenali dan Hindari Penyakit Hati

Oleh: Riki Irfan ST M.Si (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)

CiremaiNews,Kuningan- Dalam hidup ini, manusia membutuhkan keseimbangan antara kesehatan kekuatan lahir (jasmani) dan bathin (rohani).  Agar sehat secara fisik, manusia memerlukan makan minum dan olahraga serta istirahat yang cukup. Untuk sehat secara rohani, manusia membutuhkan pengetahuan ilmu agama dan mempraktekannya agar hidup tenang.

Hati manusia sering bergejolak karena kehidupannya, bahkan tak jarang pada akhirnya terkena penyakit hati. Semakin akut penyakit hati, maka semakin jauh manusia dari ketenangan hidup. Dalam kesempatan ini, penulis akan merangkum mengenai penyakit hati dan cara pengobatannya.

Pengertian Penyakit Hati dalam Islam

Penyakit hati dalam islam diartikan sebagai gangguan setan yang ada pada hati manusia dan perasaan manusia sehinga manusia menjauh dari fitrahnya untuk senantiasa bersujud dan mengingat Tuhan-nya. 

Hati adalah yang paling berpengaruh terhadap tindakan baik buruknya manusia: “Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, jika ia buruk, maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah hati” (HR Bukhari). 

Yang dimaksud sebagai penyakit hati (dalam islam) bukanlah penyakit hati “organ liver” secara fisik, melainkan penyakit “Qalbu” sehingga seorang muslim sukar mendapatkan “qalbun salim”. 

Keadaan penyakit hati yang akut, akan membawa seorang muslim terjerumus pada kekafiran dan bisa saja terbawa hingga mati dalam kondisi kafir. Sebagaimana firman Allah dalam al-quran: “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS At Taubah: 125)  

Jenis Penyakit Hati

Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit hati yang penulis rangkum dari berbagai sumber:

Takabur (sombong): Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan. Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS al-Isra’: 37)

Hasad (Iri Dengki): Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allâh kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allâh sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu. (an-Nisâ:32)

Riya (pamer): Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian. (QS. Al-Baqarah: 264)

Sum’ah: Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya. (HR. Bukhari)

Ujub (narsis): Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri. (HR. At-Thabrani)

Taqtir (pelit): Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. 

Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali ‘Imran: 180)

Hobi Menghayal (berangan-angan): Orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan. (Ibn Hayyan al-Basti).

Berikut ini adalah cara cara mengobati penyakit hati, menurut syariat Islam:

Memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah: Penyakit hati dan penyakit lainnya bisa muncul karena dosa dosa kita yang banyak dan Allah ingin kita mendekat kepadaNya, dengan kita bertaubat dari dosa dosa kita, Allah akan memberikan solusi dan kesembuhan kepada kita.Bertaubat, memperbanyak Dzikir dan istigfar (minta ampunan Allah) dapat membentuk kepribadian yang tenang dan memutus aliran pikiran negatif. 

Firman Allah dalam al-quran: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 110). 

Shalat dengan tepat waktu dan hindari berbuat dosa: Mendirikan shalat tepat waktu, baik sendiri (bagi wanita) atau shalat berjamaah di mesjid/ mushola (bagi laki laki) dengan sabar dan istiqomah dapat mencegah perbuatan keji dan munkar serta menyehatkan hati secara bertahap. 

Rasululloh shalallahu alaihi wasallam bersabda: “…Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam ibadah shalat” (HR Abu Dawud). “Amalan yang paling afdal (utama) adalah mendirikan shalat (lima waktu) di awal waktu” dan “Kerjakanlah shalat tepat pada waktunya” (HR At-Tirmidzi & Muslim). 

Penyakit hati sering muncul akibat kelalaian, kecintaan dunia dan lupa akan tugas utama manusia untuk beribadah kepada Allah. Agar dapat sembuh dari kerasnya hati, kita harus berusaha menghindari hal-hal yang dilarang oleh syariat islam. 

Latihlah sikap zuhud dan perbanyaklah bersyukur: Mengembangkan sikap zuhud (tidak terlalu cinta dunia) dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki membantu menghilangkan penyakit iri dan kikir. 

Sebagaimana hadist hadist berikut ini: “Sesungguhnya zuhud pada dunia menentramkan hati dan badan; sedangkan kecintaan kepada dunia memperpanjang penderitaan.” (HR. Ibnu Majah, dinilai lemah, namun maknanya shahih menurut para ulama).

 “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik… Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR Muslim).

Perbanyak membaca Alquran: Seorang muslim yang merasa memiliki penyakit hati, sangat dianjutkan dan bahkan diwajibkan untuk memperbanyak membaca alquran, karena Al-quran adalah satu As-Syifa (obat penyembuh). Sebagaimana firman Allah: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra: 82). 

Lakukan puasa sunnah: Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” (HR Bukhari). Puasa itu membantu mengendalikan hawa nafsu, amarah, kesedihan dan dapat melembutkan hati.

Perbanyak shalat malam dan Terus Berdoa meminta kesembuhan penyakit hati: Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan (HR.Imam Tirmidji & Ahmad).

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mengajarkan doa terkait hati, diantaranya: “Allahumma thahhir qalbi minan nifaq, wa hassin farji minal fawahisy, wa aslih li dini, wa manhaji, wa adzhih ghaydha qalbi”  yang artinya “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari kemunafikan… dan hilangkanlah rasa iri dan dengki dari hatiku”. (HR Ahmad). “Ya Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alaa diinik” yang artinya “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”. (HR At-Tirmidzi).

Berkumpul dengan orang Sholeh: Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. 

(Al-Kahfi: 28). Dengan lingkungan yang baik, yaitu bergaul dengan orang orang shaleh yang menjaga adab, akhlak dan mengingatkan dalam ketakwaan, maka membantu menjaga perilaku dan kebersihan hati diantara mereka.

Demikian artikel ini penulis rangkum dari berbagai sumber, sebagai pengingat penulis pribadi dan semoga bermanfaat bagi para pembaca, khususnya saudara muslim yang sedang terkena indikasi penyakit hati dan tentu kita semua ingin dapat hidup dengan penuh ketenangan hati dan kebahagiaan. Wallahu alam bishawwab.

Berita Terkait