CiremaiNews.com, Kuningan – Kadiv. Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Kabupaten Kuningan, Aof Ahmad Musyafa, membuka acara sosialisasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat serta bupati dan wakil bupati Kuningan tahun 2024. Acara yang berlangsung di Bale Kamukten, Desa Windu Sengkahan (10/10/2024) ini mengangkat tema pentingnya pemahaman dalam konteks Pilkada 2024. Aof menekankan bahwa kehadiran para aktivis, influencer di kalangan mahasiswa, sangat krusial dalam mempromosikan budaya demokrasi di masyarakat. “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendorong partisipasi aktif dalam demokrasi,” ujarnya.
“Awal pergerakan ini dimulai pada zaman Nabi, di mana ‘iqra’ berarti bacalah,” ungkap Aof. Ia menjelaskan bahwa meskipun konteksnya berbeda, esensi dari membaca tetap relevan. “Kita tidak hanya membaca teks, tetapi juga memahami informasi dari narasumber,” tambahnya, merujuk pada kehadiran Rudi Ahmad Suryadi dan Eman Sulaeman sebagai pembicara. “Kehadiran mereka adalah kesempatan emas untuk menggali lebih dalam tentang situasi yang kita hadapi,” imbuhnya.
Aof melanjutkan, “Agar tidak gelisah, jawabannya adalah membaca.” Ia menekankan pentingnya pemahaman situasi Pilkada Jawa Barat 2024 untuk menghindari kebingungan di tengah masyarakat. “Kehadiran narasumber menjadi vital agar kita mampu memahami dinamika yang ada,” ujarnya dengan tegas.
Rudi kemudian mengambil alih pembicaraan dengan menyampaikan data penting mengenai pemilih potensial. “Pemilih dalam Pilkada serentak 2024 diperkirakan lebih dari 207 juta orang,” jelasnya. Data ini diambil dari Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4) yang diserahkan oleh Kementerian Dalam Negeri kepada KPU. “Ini adalah angka yang sangat signifikan dan menunjukkan betapa pentingnya setiap suara,” tambahnya.
“Pemilu merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam sistem demokrasi,” lanjut Rudi. Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut mencerminkan kekuasaan rakyat yang harus dihargai dan dilaksanakan dengan baik. “Setiap suara memiliki makna dan pengaruh terhadap kebijakan pemerintah,” tegasnya. Ia juga menambahkan, “Partisipasi aktif adalah kunci untuk memastikan bahwa suara rakyat didengar.”
Rudi juga mengungkapkan bahwa peningkatan partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 menunjukkan tren positif. “Survei menunjukkan bahwa partisipasi pemilih diproyeksikan mencapai 81%,” katanya dengan optimis. Menurutnya, hal ini didorong oleh edukasi politik yang lebih baik dan penggunaan teknologi untuk memberikan informasi kepada masyarakat. “Kita harus memanfaatkan teknologi untuk menjangkau lebih banyak orang,” imbuhnya.
Selanjutnya, Eman Sulaeman berbicara tentang tantangan yang dihadapi masyarakat Kuningan. “Data statistik menunjukkan 86% lulusan SD dan mayoritas masyarakat adalah petani,” ujarnya. Ia menyoroti kondisi ekonomi yang sulit, di mana banyak warga bergantung pada Bantuan Langsung Tunai (BLT). “Ini adalah tantangan besar bagi kita semua untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tambah Eman.
Eman melanjutkan, “64% masyarakat Kuningan tidak keberatan adanya money politik.” Ia mempertanyakan bagaimana cara mengatasi masalah ini dan meminta pendapat peserta mengenai sikap mereka terhadap praktik tersebut. “Kita harus berpikir bagaimana agar Kuningan bisa ke jalan yang baik,” ujarnya penuh harap. Ia menegaskan pentingnya kesadaran akan dampak negatif dari money politik: “Jika kita terus membiarkan praktik ini, maka masa depan demokrasi kita akan terancam.”
Sebagai penutup, Eman mengajak semua mahasiswa untuk berperan aktif dalam proses pemilu. “Berpartisipasilah sebagai penyelenggara, misalnya sebagai KPPS atau PPK,” pintanya dengan tegas. Ia menekankan pentingnya memastikan semua berjalan dengan baik dan transparan: “Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton.”
“Katakan tidak untuk money politik, katakan tidak untuk golput,” seru Eman dengan semangat. Ia mengingatkan bahwa setiap masyarakat memiliki hak suara yang harus digunakan dengan bijak demi masa depan daerah mereka: “Setiap suara itu berharga; mari kita gunakan hak kita sebaik mungkin.” Dengan demikian, acara ini tidak hanya menjadi forum diskusi tetapi juga ajakan untuk beraksi demi demokrasi yang lebih baik di Kuningan dan Jawa Barat secara keseluruhan.

