Penguatan toleransi budaya lokal, peran influencer dalam membangun narasi persatuan, hingga kontribusi generasi muda dalam mengurangi ketimpangan ekonomi menjadi sorotan dalam diskusi kebangsaan yang mengangkat peran strategis anak muda di tengah arus globalisasi.
Anggota MPR RI dari Fraksi PKB, Sudjatmiko, menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga kohesi sosial bangsa. Menurutnya, di era digital yang serba cepat, anak muda bukan hanya konsumen informasi, tetapi produsen narasi yang sangat menentukan arah opini publik.
“Pemerintah daerah harus membuka ruang kolaborasi yang nyata dengan organisasi kepemudaan. Jangan hanya melibatkan mereka saat seremoni, tetapi libatkan sejak perencanaan program budaya dan sosial. Anak muda harus diberi kepercayaan memimpin,” ujar Sudjatmiko dalam keterangannya.
Ia menilai, penguatan toleransi budaya lokal dapat dilakukan melalui festival lintas komunitas, dialog terbuka antar kelompok, serta dukungan konkret terhadap kegiatan kreatif berbasis budaya daerah. Dengan pendekatan partisipatif, generasi muda akan merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga harmoni sosial.
Dalam konteks media sosial, Sudjatmiko menyoroti pentingnya peran influencer muda dalam membangun narasi yang menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa konten provokatif memang kerap menarik perhatian, tetapi berpotensi memecah belah.
“Influencer muda harus sadar bahwa mereka memiliki pengaruh besar. Jika yang disebarkan adalah empati, kolaborasi, dan persatuan, maka ruang digital kita akan lebih sehat. Tapi jika yang dipilih adalah sensasi dan provokasi, dampaknya bisa berbahaya bagi persatuan,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar menjaga keberagaman saat ini adalah derasnya arus globalisasi dan budaya populer asing yang sering kali membuat generasi muda menjauh dari akar budayanya. Namun menurutnya, globalisasi bukan untuk ditolak, melainkan disikapi dengan kecerdasan dan selektivitas.
“Kita tidak anti budaya luar. Tetapi generasi muda harus punya kebanggaan terhadap identitas bangsanya sendiri. Di situlah pentingnya pendidikan karakter dan literasi budaya,” katanya.
Terkait penerapan nilai Ketuhanan dalam Pancasila, Sudjatmiko menekankan bahwa keberagamaan harus menjadi sumber etika sosial yang inklusif. Ia mengingatkan agar nilai agama tidak dijadikan alat pembenaran untuk bersikap eksklusif.
“Nilai Ketuhanan dalam Pancasila mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan. Generasi muda harus memahami bahwa iman yang kuat justru melahirkan sikap toleran dan adil,” ujarnya.
Dalam konteks keadilan sosial, ia mendorong anak muda untuk terlibat dalam inovasi ekonomi berbasis potensi lokal. Pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, hingga pemanfaatan teknologi digital dinilai sebagai langkah konkret untuk mengurangi ketimpangan di daerah.
“Jangan tunggu jadi pejabat untuk berkontribusi. Mulai dari komunitas, dari usaha kecil, dari pemberdayaan masyarakat sekitar. Keadilan sosial itu harus dihidupkan lewat tindakan,” pungkasnya.
Diskusi ini menegaskan bahwa penguatan persatuan bangsa tidak bisa hanya bertumpu pada regulasi, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda sebagai agen perubahan yang membawa semangat toleransi, keberagaman, dan keadilan sosial ke dalam praktik nyata kehidupan sehari-hari.

