Oleh: Riki Irfan ST MSi (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews,Kuningan- Kita sering mendengar istilah Kemandirian energi dan kedaulatan energi. Pada kesempatan ini, penulis akan mencoba merangkumkan dua hal tersebut dan kaitannya dukungan seluruh komponen bangsa termasuk kita sebagai raykat Indonesia untuk mendukung tercapainya dua hal diatas. Kemandirian energi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan energi dalam negeri dengan memanfaatkan potensi sumber daya energi lokal, teknologi, dan komponen domestik.
Kemandirian energi berfokus pada kemampuan negara mencukupi kebutuhan energinya sendiri dari sumber domestik guna mengurangi impor. Strategi utamanya mencakup akselerasi penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan melakukan upaya efisiensi dalam pemakaian energi. Disisi lain, kedaulatan energi lebih luas, mencakup hak dan kendali penuh negara dalam menentukan kebijakan, pengelolaan, serta produksi energi tanpa paksaan eksternal. Kemandirian adalah target fisik, sementara kedaulatan adalah hak politis-strategis.
Kemandirian Energi berfokus mengurangi ketergantungan pada impor energi asing (minyak, gas, batubara) dengan meningkatkan produksi energi dari dalam negeri. Tujuan nya adalah agar kita mampu memenuhi konsumsi nasional secara mandiri menggunakan potensi sumber daya alam (SDA) sendiri. Salah satu indikator keberhasilan program kemandirian energi adalah dengan berkurangnya volume impor bahan bakar energi (BBM) dan meningkatnya produksi energi domestik.
Kedaulatan Energi berfokus pada Hak negara Indonesia untuk bebas mengatur sendiri kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan energinya, tanpa intervensi pihak asing, biasanya akan ada intervensi apabila negara kita lemah dalam hal ekonomi (terlalu banyak hutang kepada lembaga keuangan asing, atau negara lain).
Kedaulatan energi diperlukan agar memastikan rakyat Indonesia memiliki akses energi yang adil, berkelanjutan, dan berdaulat dalam menentukan sistem produksi energi sendiri, bukan hanya menguntungkan pihak pembeli bahan bakar atau penjual energi ke Indonesia. Salah satu indikator keberhasilan kedaulatan energi adalah negara (pemerintah) memiliki kontrol penuh atas kebijakan energi, tidak didikte pihak asing, dan pengelolaan SDA untuk kemakmuran rakyat.
Menurut kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kemandirian energi akan dapat dicapai jika memenuhi tiga faktor utama, yaitu: aksesibilitas (ketersediaan infrastruktur), daya beli masyarakat, dan ketersediaan energi. Selain itu, beberapa aspek penting guna mencapainya, antara lain perlu dilakukan beberapa kebijakan dan pelaksanaan terkait:
1) Pengurangan Ketergantungan Impor yaitu fokus pada swasembada Bahan Bakar Minyak (BBM),
2) Pengelolaan Sumber Daya Domestik yaitu mengutamakan energi lokal seperti batu bara, air dan minyak sawit,
3) Pemanfaatan semaksimal mungkin dan mempercepat pembangunan pembangkit listrik dari Energi Terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik tenaga angin, biogas, dan biomassa.
Berikut adalah strategi yang tengah dicanangkan pemerintah dalam upaya mencapai kemandirian energi, yaitu:
Melakukan Percepatan Transisi Energi dengan mulai mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dengan memaksimalkan energi terbarukan (EBT) yang tersedia di dalam negeri.
Diversifikasi Sumber Energi, yaitu dengan mengurangi ketergantungan impor minyak dari hanya wilayah Timur Tengah dan mencari alternatif pemasok lain.
Peningkatan Cadangan Penyangga Energi (CPE) yaitu dengan meningkatkan kapasitas penyimpanan dan cadangan BBM nasional untuk bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Efisiensi dan Penghematan Energi yaitu pemerintah menerapkan kebijakan penghematan konsumsi energi nasional (bagi instansi pemerintah) dan masyarakat di tengah potensi krisis, misalnya perang yang sedang terjadi baru baru ini.
Penguatan Teknologi Energi dengan cara terus mendorong pengembangkan infrastruktur dan teknologi energi mandiri agar tidak bergantung pada teknologi asing.
Seperti kita ketahui bersama, bahwa saat ini sedang terjadi konflik perang antara Iran dengan Israel (Amerika). Kondisi ini, secara tidak langsung mengancam kedaulatan energi Indonesia dengan risiko lonjakan harga minyak global, gangguan pasokan, dan beban APBN (dari rencana subsidi).
Dalam rangka untuk memitigasi krisis yang bisa saja terjadi apabila konflik belum mereda atau bahkan meluas, maka Indonesia perlu segera melakukan penguatan cadangan BBM nasional, diversivikasi sumber energi dan semua strategi yang dapat menjaga kemandirian energi. Situasi perang yang terjadi saat ini antara Iran-Israel menunjukan bahwa kemandirian energi merupakan hal mendesak, tidak hanya untuk ketahanan ekonomi, tetapi juga stabilitas nasional.
Dengan mencapai kemandirian energi, Indonesia dapat mengurangi dampak volatilitas harga minyak global, meningkatkan kedaulatan energi, dan mendukung keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional.
Presiden Prabowo menargetkan negara Indonesia dapat mencapai kemandirian energi dalam lima tahun ke depan. Kemandirian energi dapat dicapai melalui pengembangan energi terbarukan (EBT) di dalam negeri/ domestik, berkelanjutan, dan terjangkau, guna mengurangi ketergantungan impor energi fosil.
Pemanfaatan EBT seperti Energi Air (Hydro), Biomassa, Energi Surya, Energi Nuklir, Energi Angin dan Energi Panas Bumi sangat krusial untuk menurunkan emisi karbon, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional di masa depan. Sebagai warga negara yang baik dan ingin berkontribusi bagi kemajuan bangsa, mari kita mendukung program pemerintah dan berdoa agar bangsa Indonesia bisa benar benar mencapai kemandirian energi dan kelak memiliki kedaulatan energi.
Salah satu yang bisa kita lakukan adalah mendukung kegiatan pengembangan energi terbarukan yang tersedia melimpah di dalam negeri kita, misalnya air, surya, angin dan panas bumi. Dukungan masyarakat terhadap proyek strategis nasional yang menyangkut energi terbarukan diatas, akan sangat membantu bangsa ini untuk mencapai kemandirian energi bagi kemajuan kita bersama. Demikian semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita bersama.

