CiremaiNews, Kuningan – Kabupaten Kuningan menyimpan jejak sejarah yang jarang disorot: bukan hanya sebagai daerah asal pejuang, tetapi juga sebagai tempat pembuangan tokoh perlawanan dari berbagai penjuru Nusantara pada masa kolonial.
Hal itu mengemuka dalam kunjungan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, saat menziarahi sejumlah makam bersejarah di wilayah tersebut. Ia menegaskan, Kuningan memiliki posisi penting dalam narasi sejarah nasional yang selama ini belum banyak diangkat.
Menurut Fadli, pemerintah kolonial Belanda menjalankan strategi pengasingan untuk memutus perlawanan rakyat. Para tokoh sengaja dijauhkan dari basis sosialnya agar kehilangan pengaruh.
“Pola Belanda itu selalu membuang dan mengasingkan para pejuang dari wilayahnya. Ini strategi klasik agar perjuangan terputus,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Kuningan tidak hanya kehilangan tokohnya, tetapi juga “menerima” para pejuang yang dibuang dari daerah lain. Salah satu kisah yang mencuat adalah Yaqub Konte (Radja Jaqub Ponto) yang diasingkan ke Kuningan pada 1889.
Di tanah pengasingan ini, Yaqub Konte disebut hidup dalam keterbatasan hingga akhirnya wafat. Kisahnya menjadi bukti bahwa Kuningan pernah menjadi ruang sunyi bagi para pejuang yang diputus dari akar perjuangannya.
Di sisi lain, tokoh lokal Kiai Hasan Maolani juga mengalami nasib serupa. Ia diasingkan ke Tondano, Minahasa, dan dimakamkan berdekatan dengan Kiai Mojo. Fenomena ini menunjukkan adanya pola besar pengasingan lintas wilayah yang dilakukan kolonial.
Sejumlah tokoh nasional seperti Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro juga mengalami praktik serupa, mempertegas bahwa pengasingan adalah strategi utama dalam meredam perlawanan.
Kini, pemerintah berupaya menelusuri dan mengabadikan titik-titik sejarah tersebut di Kuningan. Upaya ini diharapkan dapat mengangkat kembali peran Kuningan sebagai bagian penting dalam peta perjuangan nasional.
Fadli menegaskan, merawat jejak sejarah di Kuningan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menguatkan identitas daerah dalam bingkai sejarah Indonesia.
“Dengan merawat makam dan jejak para pejuang, kita menjaga ingatan bahwa Kuningan juga bagian dari perjalanan besar bangsa ini,” ujarnya.(Tatang Budiman)

