Kam. Apr 16th, 2026

Sarat Makna Ketika Anak Tuna Netra Bisa Berenang Bersama

CiremaiNews,Kuningan- Di tepian kolam renang Hotel Purnama Mulia, Sabtu (11/04/2026), tawa anak-anak pecah bersahutan. Air beriak, memantulkan cahaya matahari yang hangat. Namun hari itu, suasana bukan sekadar riang—ia dipenuhi haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Satu per satu, anak-anak penyandang tuna netra melangkah perlahan menuju kolam. Tangan mereka saling menggenggam, sebagian lagi dipandu relawan. Ada yang tampak ragu saat pertama kali menyentuh air, tetapi tak lama kemudian, senyum merekah. Seolah batas-batas yang selama ini mengurung mereka, runtuh perlahan bersama cipratan air yang membebaskan.

Sebanyak 23 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kuningan hari itu berkumpul dalam satu ruang kebahagiaan. Mereka adalah bagian dari Rumah Sahabat Qur’an Kuningan Netra Berkah Mandiri sebuah komunitas kecil yang selama tiga tahun terakhir diam-diam menyalakan harapan bagi anak-anak yang kerap luput dari perhatian.

Di antara mereka, ada anak-anak yang baru pertama kali merasakan sensasi berenang. Air yang bagi sebagian orang biasa saja, bagi mereka menjadi pengalaman luar biasa, sesuatu yang mungkin hanya bisa dibayangkan sebelumnya. Tawa yang pecah bukan hanya tanda bahagia, tapi juga kemenangan kecil atas keterbatasan.

Kegiatan itu bukan sekadar berenang. Di sela-sela canda, mereka juga larut dalam permainan sambung ayat. Suara lantunan ayat suci terdengar bersahut-sahutan, menciptakan harmoni yang menyentuh. Di kolam itu, antara air dan langit, anak-anak itu tidak hanya bermain—mereka belajar, tumbuh, dan merayakan hidup dengan cara mereka sendiri.

Di sudut kolam, Hj. Evi Sovia Marzuki berdiri memperhatikan. Matanya berkaca-kaca. Tiga tahun perjalanan mendampingi anak-anak tuna netra bukanlah waktu yang singkat. Ia tahu betul, setiap senyum yang terlihat hari itu adalah hasil dari perjuangan panjang—dari keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan, hingga bertahan tanpa donatur tetap.

“Kami hanya ingin mereka punya kesempatan yang sama untuk merasakan kebahagiaan,” ucapnya lirih.

Di balik kegiatan sederhana ini, tersimpan kerja besar yang tak banyak terlihat. Setiap akhir pekan, sejak pagi hingga menjelang Dzuhur, anak-anak itu belajar membaca huruf braille, menghafal Al-Qur’an dengan tahsin, hingga memainkan alat musik hadroh. Menariknya, sepuluh guru tuna netra turut mengajar membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memberi manfaat.

Program ini telah menjangkau peserta dari berbagai jenjang, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Namun, di tengah konsistensi itu, satu hal masih menjadi kenyataan pahit: minimnya perhatian dari pemerintah daerah.

Harapan itu kembali disuarakan, bukan dengan tuntutan, melainkan dengan harap yang sederhana—agar lebih banyak anak tuna netra di Kuningan bisa merasakan sentuhan pembinaan yang sama.

Di sisi lain, pintu kebaikan datang dari arah yang tak terduga. Adrian Purnama, pemilik hotel, membuka fasilitasnya tanpa syarat. Bagi Adrian, ini bukan tentang citra atau keuntungan. Ini tentang warisan nilai.

Ia mengenang sosok ayahnya, H. Acep Purnama, yang sejak dulu menanamkan arti berbagi tanpa pamrih.

“Ini murni kemanusiaan,” katanya singkat, namun sarat makna.

Hari itu, di kolam sederhana itu, banyak hal terjadi tanpa disadari. Anak-anak belajar berani. Relawan belajar sabar. Dan semua yang hadir belajar satu hal penting: bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar cukup dengan kesempatan, kepedulian, dan sedikit ruang untuk merasa dihargai.

Di tengah keterbatasan, wajah-wajah kecil itu memancarkan cahaya yang tak bisa dilihat dengan mata, tetapi terasa kuat di hati. Mereka mungkin tidak melihat dunia seperti kebanyakan orang, tetapi mereka merasakan dunia dengan cara yang jauh lebih dalam.

Dan dari kolam itu, sebuah harapan mengalir pelan agar kepedulian seperti ini tidak berhenti di sini. Agar lebih banyak tangan terulur. Agar lebih banyak hati tergerak.

Sebab bagi Rumah Sahabat Qur’an, misi itu tetap sederhana: menghadirkan cahaya bagi mereka yang tak melihat, dan menumbuhkan harapan di tempat yang sering kali terabaikan.(Tatang Budiman)

Berita Terkait