Ciremainews – Upaya meredam isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) di lingkungan pendidikan menjadi sorotan dalam dialog kebangsaan yang digelar pada 15 Desember pukul 18.00 WIB di Aula Balai Desa Puhjajar, Kabupaten Kediri. Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota MPR RI, KH. An’im Falahuddin Mahrus, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, KH. An’im menegaskan bahwa pelajar dan mahasiswa memiliki peran penting sebagai penjaga harmoni sosial di lingkungan sekolah dan kampus. Ia mengingatkan bahwa isu SARA sering kali muncul bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena kurangnya komunikasi, literasi, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
“Sekolah dan kampus adalah miniatur Indonesia. Kalau di lingkungan pendidikan saja kita tidak bisa hidup rukun, bagaimana nanti saat terjun ke masyarakat yang lebih luas?” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa langkah praktis yang dapat dilakukan pelajar dan mahasiswa dimulai dari hal sederhana, seperti membangun budaya dialog terbuka, menghindari candaan atau komentar yang menyinggung identitas tertentu, serta berani meluruskan informasi yang keliru sebelum berkembang menjadi konflik.
Menurutnya, literasi digital juga menjadi kunci penting. Banyak isu SARA bermula dari unggahan di media sosial yang tidak terverifikasi. Karena itu, generasi muda diminta untuk tidak mudah terpancing provokasi dan lebih bijak dalam menyebarkan informasi.
“Kalau ada isu yang sensitif, jangan langsung dibagikan. Cek dulu kebenarannya. Jangan sampai kita ikut memperkeruh suasana hanya karena tergesa-gesa,” tegas KH. An’im.
Ia juga mendorong pembentukan kegiatan lintas organisasi dan lintas latar belakang di sekolah maupun kampus, seperti diskusi kebangsaan, bakti sosial bersama, dan kolaborasi kreatif. Interaksi positif dinilai efektif untuk membangun saling pengertian dan mengikis prasangka.
Dialog berlangsung interaktif dengan peserta yang menyampaikan pengalaman terkait gesekan sosial di lingkungan pendidikan. KH. An’im menekankan pentingnya keberanian moral untuk menjadi penengah dan penyambung komunikasi ketika muncul potensi konflik.
“Menjadi agen perdamaian itu bukan hal besar yang sulit dilakukan. Kadang cukup dengan menenangkan teman, membuka ruang bicara, dan mengingatkan bahwa kita semua bagian dari bangsa yang sama,” katanya.
Kegiatan yang berlangsung hingga malam hari itu ditutup dengan ajakan kepada pelajar dan mahasiswa untuk menjadikan lingkungan pendidikan sebagai ruang aman, inklusif, dan penuh semangat persatuan. Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, generasi muda diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam meredam isu SARA serta menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

