Kam. Apr 30th, 2026

Generasi Muda Garda Depan Bela Negara Digital, Sudjatmiko: Ancaman Siber Nyata dan Butuh Kesiapan Nasional

Anggota MPR RI, Sudjatmiko menegaskan bahwa bela negara di era modern tidak lagi identik dengan angkat senjata, tetapi diwujudkan melalui kesiapan generasi muda menghadapi ancaman non-militer, terutama di ruang digital. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan di hadapan ratusan pemuda dan organisasi kemasyarakatan.

Menurut Sudjatmiko, ancaman terhadap negara saat ini lebih banyak hadir dalam bentuk serangan siber, penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, hingga polarisasi sosial di media digital. Ia menilai generasi Z dan milenial memiliki peran strategis karena menjadi kelompok paling aktif dalam ekosistem teknologi.

“Bela negara hari ini bukan hanya soal fisik, tetapi bagaimana kita menjaga ruang digital tetap sehat, produktif, dan tidak mudah dipecah belah oleh hoaks maupun propaganda. Anak muda harus menjadi garda terdepan dalam literasi digital dan keamanan siber,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konstitusi telah menegaskan kewajiban setiap warga negara untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Namun implementasinya harus kontekstual. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, bentuk bela negara dapat diwujudkan melalui inovasi, penguatan ekonomi kreatif, pengawasan kebijakan publik, serta partisipasi aktif dalam menjaga persatuan.

Sudjatmiko juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengawasi penggunaan anggaran negara sebagai bagian dari tanggung jawab konstitusional. Menurutnya, transparansi dan akuntabilitas harus didukung partisipasi publik yang cerdas dan berbasis data.

“Anak muda jangan apatis. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Mengawasi kebijakan dan anggaran negara adalah bentuk cinta tanah air yang konkret. Kritik itu penting, tapi harus konstruktif dan berbasis informasi yang benar,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mendorong organisasi kemasyarakatan untuk aktif melakukan kaderisasi kepemimpinan muda yang berorientasi pada penguatan nilai konstitusi. Ia menilai sosialisasi tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan harus menjadi gerakan berkelanjutan yang membentuk karakter kebangsaan.

“Kalau kita ingin Indonesia kuat, maka generasi mudanya harus kuat secara intelektual, moral, dan digital. Itulah esensi bela negara di abad ke-21,” pungkas Sudjatmiko.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi pemuda dalam memperkuat kesadaran konstitusi serta kesiapan menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Berita Terkait