Kam. Apr 30th, 2026

Membangun Kesadaran Bela Negara Tanpa Indoktrinasi, Ini Pesan KH. An’im di Kediri

Ciremainews – Upaya membangun kesadaran bela negara di kalangan generasi muda tidak harus dilakukan dengan pendekatan yang bersifat indoktrinatif. Hal tersebut ditegaskan Anggota MPR RI, KH. An’im Falahuddin Mahrus, dalam dialog kebangsaan yang digelar pada 15 Desember pukul 12.00 WIB di Aula Resto Bale Bungah, Kabupaten Kediri.

Dalam pemaparannya, KH. An’im menekankan bahwa pendekatan bela negara yang terlalu doktriner justru berpotensi membuat generasi muda bersikap apatis. Menurutnya, kesadaran kebangsaan harus tumbuh dari pemahaman, pengalaman, dan keteladanan, bukan sekadar hafalan konsep atau slogan.

“Bela negara tidak bisa dipaksakan lewat ceramah satu arah. Ia harus dibangun melalui dialog, keteladanan, dan keterlibatan langsung generasi muda dalam kegiatan yang berdampak nyata,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa di era digital, generasi muda cenderung kritis dan terbuka terhadap berbagai perspektif. Karena itu, pendekatan yang komunikatif dan partisipatif dinilai lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Diskusi terbuka, studi kasus aktual, serta praktik nyata seperti kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat disebut sebagai metode yang lebih relevan.

Menurut KH. An’im, bela negara di era modern dapat diwujudkan melalui disiplin, integritas, kepedulian sosial, serta kontribusi positif di ruang digital. “Kalau anak muda dilibatkan dalam solusi, bukan hanya diberi instruksi, maka rasa memiliki terhadap bangsa akan tumbuh secara alami,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga, lembaga pendidikan, dan tokoh masyarakat dalam memberikan contoh nyata sikap cinta tanah air. Baginya, keteladanan jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan yang kaku dan normatif.

Dialog yang berlangsung di Aula Resto Bale Bungah tersebut diikuti peserta dari kalangan pemuda, mahasiswa, dan komunitas sosial. Diskusi berjalan interaktif dengan berbagai pertanyaan seputar cara menumbuhkan semangat kebangsaan tanpa terkesan memaksa.

Menutup kegiatan, KH. An’im mengajak generasi muda untuk memahami bela negara sebagai bentuk tanggung jawab moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Kesadaran bela negara harus tumbuh dari hati dan akal sehat. Kalau tumbuh dengan kesadaran, ia akan kuat. Tapi kalau hanya karena tekanan, ia tidak akan bertahan,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi bahwa membangun nasionalisme di era modern membutuhkan pendekatan yang adaptif, dialogis, dan berorientasi pada keteladanan nyata.

Berita Terkait