Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews,- Dalam kehidupan di negara kita, kita sebagai warga masyarakat, tidak jarang merasakan adanya kebijakan dari pemimpin yang belum membawa kemajuan dan rasa keadilan. Dilain sisi, kita musti akui dan sadari bahwa tugas pemimpin tentu tidak mudah, apalagi memimpin negara yang besar dengan lebih dari 287 juta rakyat.
Tidak jarang kita lihat melihat atau membaca berita adanya demonstrasi yang sering kali menimbulkan kericuhan bahkan menyebabkan korban. Lalu bagaimana sikap seorang Muslim dalam menyikapi kebijakan pemimpin yang terkadang dinilai belum baik? Apakah kritik orasi dan berdemonstrasi itu adalah solusi yang terbaik dari sudut pandang Islam?.
Islam itu agama yang sempurna dengan acuan Al-Qur’an, hadits, serta praktik dan pemahaman ulama salaf (generasi awal umat Islam, generasi terbaik). Pada kesempatan ini, penulis merangkum dari berbagai sumber acuan Islam, bagaimana cara dan sikap seorang dalam memberikan masukan pada pemimpin mereka.
Prinsip Dasar Sikap terhadap Pemimpin
Para ulama terdahulu menjelaskan beberapa prinsip terkait menyikapi kebijakan pemimpin:
Kita wajib Taat kepada Pemimpin kecuali perintahnya adalah untuk bermaksiat kepada Allah
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu…” (QS. An-Nisa: 59). Dan Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi seorang Muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai maupun tidak, kecuali jika diperintahkan maksiat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Agama Islam memerintahkan kaum Muslimin untuk taat kepada pemimpinnya selama tidak diperintah melakukan maksiat.
Tidak Boleh Memberontak
Rasululloh shallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa keluar dari ketaatan (kepada pemimpin) sejengkal, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa pemberontakan akan menghasilkan kerusakan yang lebih besar daripada masalah awalnya.
Imam Al-Muzani rahimahullah juga menegaskan tidak bolehnya memberontak terhadap penguasa meskipun ia zalim, karena dampak kerusakan yang lebih besar.
Bersabar terhadap Kezaliman pemimpin yang Tidak Sampai Kufur
“Bersabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan yang setelahnya lebih buruk…” (HR. Bukhari).
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga menganjurkan bersabar dalam menghadapi pemimpin yang zalim. Kesabaran di sini bukan berarti menerima atau ridho atas kezalimannya, tetapi untuk menjaga stabilitas negara dan menghindari fitnah yang lebih besar (kerusuhan, kerusakan, penjarahan, pembunuhan sesama muslim dan lainnya).
Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dalam Islam, menyampaikan masukan atau kritik terhadap ketidakadilan tidaklah dilarang, bahkan memberikan masukan/pengingat koreksi bagi kesalahan orang lain termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan…” (QS. Ali Imran: 104). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya…” (HR. Muslim).
Mengingkari kemungkaran harus dilakukan sesuai kesanggupan, seperti dengan perkataan yang baik, sikap yang lembut dan tutur kata yang halus disertai dengan menyebutkan solusi dari syariat yang terkait dengan kesalahan tersebut.
Namun demikian, kritik pada pemimpin harus disampaikan dengan hikmah, adab, dan mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas negara. Penerapan amar ma’ruf nahi munkar ini harus memperhatikan metode yang sesuai syariat dan maslahat umat.
Cara Memberi Masukan kepada Pemimpin
Berikut ini beberapa panduan Muslim memberikan nasehat/ masukan/ kritik pada pemimpinnya, yaitu antara lain:
Menasihati Secara Rahasia
“Barangsiapa ingin menasehati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasehat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasehat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu.” (HR. Ahmad).
Mengedepankan Hikmah dan Adab
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Islam menekankan bahwa penyampaian kritik harus Sopan dan tidak menghina, Tidak mengandung fitnah, Bertujuan perbaikan, bukan menjatuhkan atau mengganti (kudeta) pemimpin.
Islam mendukung adanya masukan yang konstruktif bagi pemimpin yang melakukan kesalahan, tapi bukan kegiatan yang bersifat destruktif apalagi dengan memaksa mengganti pemimpin yang sah.
Tidak dengan Cara yang Menimbulkan Kekacauan
Para Ulama salaf tidak membenarkan masyarakat atau individu melakukan aksi mengkritik pemimpin dengan cara berdemonstrasi besar besaran membakar ban yang terkadang dapat menenimbulkan kerusakan, menghilangkan rasa aman, mengganggu kepentingan pengguna jalan, bahkan memicu konflik dan kekerasan.
Kegiatan semacam ini tidak dibenarkan dalam pandangan Islam, karena bukan merupakan cara yang sesuai syariat, dan melanggar ayat alquran dan hadist,
cara ini cenderung adalah cara cara menyerupai (bertasyabuh) kepada ajaran selain Islam.
Memberikan masukan atau mengkritisi kebijakan sebaiknya Melalui Musyawarah dan Jalur yang Sah
Dalam ajaran Islam, meminta berdialog, bermediasi dan melakukan jajak pendapat dan musyawarah ditempat khusus (ruang sidang anggota dewan) bersama pemimpin itu boleh saja. Sedangkan melakukan demonstrasi bukanlah termasuk cara memberikan masukan yang sesuai syariat. Demonstrasi bukan bagian dari metode berdakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, karena tidak sesuai dengan manhaj Nabi dan para sahabat.
Solusi Islam Ketika Pemimpin Tidak Ideal
Para ulama salaf menekankan solusi yang lebih mendasar ketika kita mendapati pemimpin yang kurang adil atau kurang memperhatikan rakyatnya, yaitu dengan cara:
Kita melakukan Perbaikan diri masing masing baik Individu maupun Masyarakat, karena Pemimpin itu adalah cerminan dari masyarakatnya.
Doa dan Taubat. Imam Al-Muzani menyarankan kita Bertaubat kepada Allah dan terus berdoa kepada Allah agar pemimpin diberikan hidayah dan diperbaiki.
Mempelajari Ilmu dan mendakwahkannya, karena perubahan itu harus dimulai dari mencari ilmu agama dan memperbaiki akhlak dan mulai membina orang sekitarnya.
Memberikan nasihat yang Ikhlas dan dengan adab, semoga masukan dengan cara baik dapat memicu Perbaikan.
Berdasarkan dalil dan pandangan para ulama terdahulu, dapat disimpulkan bahwa Islam memang tidak menutup ruang kritik terhadap pemimpin. Namun, berdemonstasi berorasi di jalanan mengganggu ketertiban umum bukanlah bagian dari syariat Islam secara murni. Islam telah memberikan batasan jelas dalam metode penyampaian kritik tersebut.
Islam menekankan masukan atau kritik pada pemerintah harus dilakukan dengan hikmah, adab, dan metode yang benar, dengan tetap menjaga stabilitas masyarakat, menghindari konflik. Kritik boleh dilakukan dengan pendekatan konstruktif, etis, dan berorientasi pada maslahat jangka panjang.
Pendekatan Islam tidak mengedepankan cara tekanan publik (demonstrasi besar). Kemajuan suatu bangsa/ kaum itu bukan bergantung pada beberapa orang pemimpin saja, melainkan tergantung pada perubahan masyarakatnya untuk memperbaiki diri, sebagai muslim perbaikan diri adalah menyangkut kualitas iman takwa, ilmu, dan akhlak. Demikian artikel ini kami buat, semoga bermanfaat bagi muslim yang membacanya. Wallahu alam bishawab.







