Sab. Apr 4th, 2026

Hari Guru Nasional : Ketika Murid Badung Jadi Orang Sukses

Desain Canva

CiremaiNews.com, Serba-serbi – Sabtu (25/11), setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional, kali ini memasuki usia ke-78. Dengan tema “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar.” Bagaimana peran guru saat ini? Yang dituntut oleh zaman. Bisakah mengikuti segala kecanggihan teknologi sebagai bagian dari alat bantu ajar dalam penyampain proses belajar mengajar.


Di lain sisi, dilematika atas kemajuan yang begitu pesat, mengakibatkan banyak siswa bahkan kehilangan rasa hormat kepada para guru, yang semestinya menjadi orangtua ke dua yang digugu dan ditiru.

Kita bisa melihat bagaimana dipertontonkan seorang guru yang dibully oleh anak didiknya sendiri. Sedang ketika sang guru bertindak sedikit lebih tegas, tak lama pengaduan dari orang tua ke polisi atas tindakan tidak menyenangkan atau kekerasan. Ah, terkadang berasa lucu negeri ini.


Padahal dahulu, saat murid-murid dilempar penghapus, atau telapak tangan yang dipukul dengan penggaris, dihukum hormat bendera seharian lantas membersihkan toilet sekolah sebagai hukuman. Semua terasa begitu natural dan menjadi cerita yang akhirnya mencetak generasi yang kuat oleh disiplin.


Coba cek generasi dulu dan saat ini, begitu jauh bukan perbedaannya. Bagaimana generasi dulu yang pernah dilempar penghapus oleh gurunya menjadi tentara, yang pernah dikejar gurunya pake penggaris akhirnya menjadi pilot, dan masih banyak lagi kisah keberhasilan murid special menjadi orang-orang sukses.


Tapi bagaimana dengan generasi sekarang, yang baru kena hukum suruh bersihkan toilet sekolah udah ngadu ke orangtua, baru digunting sedikit rambutnya ngadu ke polisi. Tidakah murid sekarang tahu, betapa tidak mudahnya menjadi guru saat ini. Harus menguasai berbagai aplikasi, dengan alasan penunjang belajar, belum lagi seabrek aktifitas di rumahnya sendiri plus persoalan keluarganya yang tak bisa dibawanya ke sekolah.


Guru, oh guru. Kini, mereka diminta merayakan merdeka belajar, sedangkan dalam kepalanya masih menyusun deret angka yang harus disetorkan guna pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya. Bagaimana dengan nasib guru-guru honorer, suara mereka masih dengan nada sumbang terkait upah.


Bukan hal mudah memberi ingatan baik di hati setiap murid, tapi waktu tak pernah mematahkan semangatnya untuk memberi ilmu. Entah sebagai bentuk cinta atau selepas tanggungjawab saja, yang pasti, tanpa para guru tak ada kita di hari ini, terimakasih guru atas dedikasimu sepanjang waktu. Salam tazim, panjangkan usia para guru, berikan selalu kesehatan dan kesejahteraan bagi mereka, amin. (vera)

Berita Terkait