Jum. Mar 6th, 2026

Kampung Ramadan Desa Silebu, Jadi Contoh Penggerak Ekonomi Lokal

CiremaiNews,Kuningan – Di tengah gencarnya Pemerintah Kabupaten Kuningan menggulirkan program Natadaya sebagai konsep penataan alun-alun desa menjadi pusat ekonomi, wisata, dan budaya, Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, justru telah lebih dulu menjalankan praktik serupa secara nyata.

Melalui Program Kampung Ramadan yang kini memasuki tahun ke-9, Karang Taruna Nirwana Desa Silebu berhasil menghidupkan alun-alun desa sebagai pusat ekonomi rakyat, ruang budaya, sekaligus ruang spiritual masyarakat.

Sekretaris Umum Karang Taruna Nirwana Silebu, Yayat Hidayatulloh, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar bazar musiman.

“Kami tidak hanya membuka lapak jualan. Yang kami bangun adalah ekosistem. Ada kajian keagamaan, lomba Islami, santunan sosial, dan berbagai aktivitas yang memang dirancang untuk menghidupkan alun-alun sebagai ruang publik,” ujar Yayat, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, setiap tahun sekitar 80 lapak UMKM dan pedagang kaki lima terlibat dalam kegiatan tersebut. Jika diasumsikan rata-rata omzet per lapak mencapai Rp500 ribu per hari, maka sirkulasi ekonomi harian bisa mencapai Rp40 juta.

“Kalau dihitung selama 30 hari Ramadan, potensi perputaran uangnya bisa menyentuh Rp1,2 miliar. Ini memang estimasi konservatif, tapi dampaknya nyata dirasakan pelaku UMKM,” jelasnya.

Yayat menilai, secara substansi Kampung Ramadan di Silebu telah menjalankan tiga pilar utama yang menjadi ruh Natadaya, yakni penguatan ekonomi lokal, aktivitas budaya-religius, serta peningkatan daya tarik kunjungan masyarakat ke alun-alun desa.

“Kalau kita bicara konsep, Natadaya itu bagus. Tapi praktiknya di Silebu sudah berjalan hampir satu dekade. Kami menghidupkan alun-alun tanpa harus menunggu proyek fisik besar atau anggaran miliaran rupiah,” tegasnya.

Ia menyebut kekuatan utama gerakan tersebut terletak pada kolaborasi dan modal sosial masyarakat desa. Pihaknya menggandeng pemerintah desa, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum dalam pelaksanaan kegiatan.

“Kami bergerak secara kolektif, bukan individu,” katanya.

Yayat juga menyoroti tantangan kebijakan publik yang kerap berada pada tataran implementasi.

“Kadang program terlihat bagus di atas kertas, tapi belum terasa dampaknya di lapangan. Sementara di desa, kalau kita menunggu semuanya sempurna dulu, tidak akan pernah bergerak,” ujarnya.

Menurut dia, apa yang dilakukan Karang Taruna Nirwana Silebu dapat menjadi model pembangunan berbasis komunitas (community-driven development). Pemerintah daerah, kata dia, tinggal memperkuat dan mereplikasi praktik baik yang telah berjalan.

“Kalau desa sudah bisa membuktikan perputaran ekonomi miliaran rupiah dalam satu bulan, artinya pendekatan berbasis komunitas ini efektif,” tambahnya.

Kampung Ramadan Silebu yang konsisten digelar selama sembilan tahun menjadi bukti peran strategis pemuda dalam pembangunan desa. Yayat menegaskan, pemuda tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan, melainkan motor penggerak ekonomi lokal.

“Yang membuat ruang publik hidup itu aktivitasnya, partisipasinya, dan rasa memiliki masyarakat. Bukan semata-mata bangunannya,” pungkasnya.

Dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp1,2 miliar selama Ramadan, Kampung Ramadan Silebu dinilai menjadi contoh konkret bagaimana energi komunitas pemuda mampu menghadirkan dampak ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.(Tatang Budiman)

Berita Terkait