CiremaiNews,Kuningan- Sebagai warga masyarakat kabupaten Kuningan yang berada di area sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), setiap hari selama kita hidup, tanpa kita sadari kita semua telah mendapatkan banyak manfaat dari keberadaan hutan dan gunung Ciremai, sungguh kenikmatan yang terkadang kita lupa untuk bersyukur kepada Allah. Benar, terkadang kita lupa bersyukur kepada Allah yang maha pencipta, pada saat kenikmatan itu masih kita rasakan, namun apabila kenikmatan itu sedikit dikurangi, terganggu terkadang kita malah mengeluh atau kecewa, bahkan kita tidak sadar bahwa kitalah yang telah berdosa, merusak kenikmatan anugrah dari Allah tersebut, apakah yang ada pada diri kita sendiri (badan kita) atau lingkungan alam sekitar kita, saat terjadi bencana alam atau kekurangan air atau kerusakan alam.
Bencana dan keburukan yang didapati manusia akibat alam (baik di darat maupun di laut) adalah karena tangan manusia sendiri (yang melakukan perbuatan maksiat dan eksploitasi berlebihan), sebagaimana firman Allah dalam al-Quran “”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [QS. Ar-rum: 41]. Terjadinya bencana alam adalah peringatan agar manusia sadar, bertaubat, kembali memperbaiki tauhid dan memperbaiki perilaku. Manusia yang hidup disekitar hutan, gunung dan laut, perlu senantiasa mengoreksi diri serta menjaga alam agar dapat mengambil manfaat dan keberkahan dari apa yang disediakan oleh Allah.
Jaga Hutan dan kelestarian Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)
Agar dapat menjaga hutan, kita perlu memahami apa itu definisi hutan. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan luas yang didominasi oleh pepohonan dan vegetasi lainnya, yang menjadi habitat flora dan fauna serta memiliki peranan vital dalam menjaga keseimbangan alam, iklim mikro, tata air, dan menyediakan oksigen, yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan sebagaimana pengaturan menurut Undang-Undang No. 41 Tahun 1999. Berdasarkan iklim dan wilayahnya, hutan dibagi menjadi hutan hujan tropis, hutan beriklim sedang, dan hutan boreal. Secara umum, suatu area bisa dianggap sebagai hutan jika memiliki luas lebih dari 0,5 hektar dengan pohon yang mampu mencapai tinggi lebih dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih dari 10%. Sebagaimana kita ketahui, hutan banyak manfaat bagi kita. Berikut adalah beberapa fungsi hutan fungsi Ekologis yaitu sebagai paru-paru dunia, pengatur tata air, pencegah erosi, dan rumah bagi keanekaragaman hayati; b) fungsi ekonomis yaitu sebagai penyedia hasil hutan kayu dan non-kayu fungsi sosial atau budaya yaitu sebagai tempat penelitian, dan rekreasi.
Mari kita jaga hutan disekitar kita, silahkan dimanfaatkan secara bijak apa apa yang ada di hutan dengan tetap mengikuti aturan kebijakan pemerintah. Kita telah melihat banyak kasus contoh nyata kondisi yang terjadi di hutan, antara lain: kebakaran hutan, alih fungsi lahan secara ilegal, dan terjadinya krisis ekologis yang terjadi akibat keserakahan manusia baik individu maupun korporasi. Mari tidak berlebihan mengekploitasi hutan dan apalagi sampai merusak hutan, karena jika dilakukan, tunggu saja waktu dimana Allah Pencipta Hutan menegur kita dan “mengizinkan” hutan memberikan bencana pada manusia di sekitarnya dan sangat merugikan kita sendiri. Naudzubillah.
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan suatu kawasan konservasi seluas 14.841,30 hingga 15.500 hektar yang mencakup wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Jawa Barat. TNGC diresmikan tahun 2004, untuk melindungi ekosistem Gunung Ciremai, yaitu Gunung api aktif, yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat (3078 mdpl). Kawasan ini diharapkan berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan, daerah tangkapan air, dan pelestarian keanekaragaman hayati (flora-fauna endemik) di Kuningan dan Majalengka. TNGC merupakan habitat bagi spesies terancam punah seperti Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Gunung Ciremai yang berada pada kawasan TNGC juga merupakan destinasi populer untuk pendakian (jalur Apuy, Linggarjati, Palutungan, dll), camping di berbagai bumi perkemahan, dan wisata air terjun (curug). Pemahaman, sosialisasi dan penerapan untuk senantiasa berperilaku menjaga kelestarian hutan dan gunung Ciremai bagi para pendaki penikmat keindahan alam Gunung Ciremai, sangat penting dilakukan oleh pihak terkait.
Wilayah TNGC ini dikelilingi oleh 45 desa dan sangat vital perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta ketersediaan air bagi masyarakat lokal. Sangat penting untuk senantiasa mengingatkan seluruh warga yang hidup berdampingan dengan TNGC atau pun para pengusaha korporasi yang memanfaatkan area sekitar TNGC ini untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan, dengan tidak membuka dan mengubah fungsi lahan dengan berlebihan dan mengganggu kelangsungan manfaat hutan pada manusia, flora dan fauna.
Mari mengenal dan mitigasi bencana dari Gunung Api
Gunung api adalah gunung yang terbentuk akibat material hasil erupsi yang menumpuk di sekitar pusat erupsi atau gunung yang terbentuk dari erupsi magma. Gunung api terbentuk dikarenakan lapisan kerak bumi (lempeng) terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik utama yang kaku yang mengambang di atas lapisan mantel yang lebih panas dan lunak. Kemudian lempeng tersebut bergerak, bertumbukan, berpisah, bergeser, hingga suatu saat memungkinkan lapisan panas dibawahnya (magma panas dan bertekanan tinggi) akan naik kepermukaan bumi melalui retakan, dan celah pada lapisan kerak bumi. Pada saat magma muncul ke permukaan, magma disebut sebagai lava dan peristiwanya disebut erupsi atau letusan gunung berapi.
Berdasarkan aktivitas magmatisme nya, gunung api dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain: 1) Gunung api aktif yaitu gunung yang masih mengeluarkan asap, gempa, dan letusan; 2) Gunung api mati yaitu gunung yang tidak memiliki kegiatan erupsi sejak tahun 1600an; 3) Gunung api istirahat (dorman) yaitu gunung api yang dapat meletus sewaktu-waktu, kemudian beristirahat. Gunung Ciremai dan Gunung Kelud adalah dua gunung api yang sedang istirahat. Seluruh gunung api di Indonesia diawasi dimonitoring aktivitasnya oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). PVMBG ini merupakan unit teknis di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang bertanggung jawab memantau aktivitas gunung api secara kontinu, mengevaluasi status, dan memberikan rekomendasi teknis mitigasi bencana. Kegiatan pemantauan dilakukan dengan menerapkan Sistem Pemantauan dengan menggunakan berbagai alat sensor untuk mendeteksi gempa vulkanik, deformasi, dan emisi gas pada Gunung Api.
Kegiatan memitigasi Gunung Api terus dilakukan oleh satuan khusus, antara lain: 1) Memantau terus aktivitas gunung api yang aktif; 2) Memberikan informasi ketika sudah tampak tanda gunung akan meletus dapat tersampaikan ke masyarakat sekitar dengan cepat; 3) membuat tanggul dan mengurangi jumlah air kawah untuk mengurangi bahaya karena aliran lahar; 4) melakukan pemetaan wilayah rawan bencana, peta zona aliran lahar, radius aman dan peta kawasan beresiko terkena awan panas; 5) mendapat dukunggan aparat pemerintah daerah untuk memindahkan warga pada daerah paling rawan bencana (yang harus segera ditinggalkan) demi menjamin keselamatan penduduk.
Sebagai tambahan, berikut adalah beberapa tanda tanda gunung api akan meletus: 1) Terjadi banyak gempa tremor (gempa getaran di area gunung api), karena aktivitas magma yang mulai naik ke permukaan melalui “kerongkongan” gunung; 2) terjadi tenaikan suhu yang terjadi di wilayah sekeliling gunung tersebut.di puncak gunung mulai meningkat; 3) Kadar keasaaman air kawah; 4) Mata air yang mengering sekitar puncak gunung api; 5) Terdengar suara gemuruh tidak pada kondisi hujan; 6) Tanaman dan pepohonan dekat puncak Gunung tampak layu; 7) Hewan buas dan ular mulai banyak yang turun gunung.
Demikian artikel ini dibuat agar menjadi tambahan wawasan dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan pada artikel ini juga, izinkan penulis mengingatkan diri penulis pribadi dan kita semua warga kuningan dan sekitar Gunung Ciremai, untuk senantiasa bersyukur atas semua karunia Allah yang diberikan pada diri kita pribadi dan lingkungan kita. Mari kita membuktikan rasa syukur itu dengan senantiasa beribadah, berperilaku baik dan menjaga dan memanfaatkan lingkungan alam sekitar kita dengan bijak tanpa merusaknya. Bencana alam adalah teguran Allah agar kita kembali kejalan yang lurus dan bertaubat kepada Allah, Pencipta Alam Semesta. Terima kasih
Penulis : Riki Irfan ST MSi Dosen Unisa Pembina Yayasan Sekolah Alam Bratakasian dan Pembina Forum Taman Baca Masyarakat Kuningan

