CiremaiNews,Kuningan- Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, harga hewan kurban di Kabupaten Kuningan mengalami kenaikan. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi melonjaknya harga sapi dan kerbau tahun ini.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot pada Kamis (21/5/2026), nilai tukar rupiah berada di angka Rp17.652,9 per dolar AS atau melemah 0,31 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.598 per dolar AS. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya operasional peternakan hingga distribusi hewan ternak.
Pedagang hewan kurban Akang Gaya, H. Yusuf, mengatakan kenaikan harga sapi pada musim kurban tahun ini mencapai sekitar Rp2 juta per ekor dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu masih ada sapi di harga Rp13 juta sampai Rp15 juta, sekarang harga paling rendah mulai Rp16 juta hingga Rp30 juta per ekor,” kata H. Yusuf saat ditemui di Kandang Sapi Akang Gaya, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, sapi dengan harga Rp16 juta rata-rata berbobot sekitar 250 kilogram. Ia menyebut kenaikan harga dipicu naiknya biaya pakan, transportasi, dan kebutuhan operasional lainnya akibat melemahnya rupiah.
“Pengaruh kurs dolar cukup terasa, terutama untuk biaya distribusi dan operasional peternakan yang ikut meningkat,” ujarnya.
Meski harga mengalami kenaikan, pihaknya memastikan kualitas dan kesehatan hewan kurban tetap terjaga. Pemeriksaan kesehatan ternak dilakukan secara rutin oleh dinas peternakan setempat.
“Sebulan sekali ada pemeriksaan kesehatan dari dinas peternakan supaya sapi dan kerbau tetap sehat dan layak untuk kurban,” ucapnya.
H. Yusuf menambahkan, hewan kurban dari Kuningan dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Serang dan Banten hingga Purworejo dan Demak.
Namun di tengah kenaikan harga tersebut, penjualan hewan kurban tahun ini justru mengalami penurunan. Hingga H-3 Idul Adha, jumlah hewan yang terjual belum mencapai 100 ekor.
“Biasanya sebelum Idul Adha sudah lebih dari 100 ekor terjual, sekarang masih belum sampai. Banyak masyarakat sekarang lebih selektif karena harga kebutuhan sehari-hari juga ikut naik,” tuturnya.
Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat serta kenaikan harga kebutuhan pokok membuat daya beli masyarakat terhadap hewan kurban menurun.(Tatang Budiman)

