Ming. Mei 31st, 2026

Terkait Pemanfaatan Sumber Mata Air Gunung Ciremai,Ini Solusi dari KDM 

CiremaiNews,Kuningan- Momen mediasi terkait persoalan pemanfaatan sumber mata air Gunung Ciremai yang melibatkan warga Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon, dan PDAM Tirta Kamuning Kabupaten Kuningan terekam jelas di Kanal You Tube Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM yang tayang pada Senin (19/1/2026) malam.

Dalam tayangan tersebut, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM terlihat turun langsung ke lokasi mata air di wilayah perbatasan Kuningan–Cirebon, Kamis (15/1/2026). Kunjungan itu sempat diwarnai perdebatan terbuka antara Kepala Desa Cikalahang, sejumlah warga, dan Direktur PDAM Tirta Kamuning terkait dampak pengambilan air terhadap kebutuhan pertanian dan air bersih warga.

Kepala Desa Cikalahang, Kusnan, menyampaikan bahwa sejak adanya pengambilan air oleh PDAM, lahan pertanian warga mengalami kekeringan.

“Sejak ada pengambilan air oleh PDAM, sawah warga kami kekurangan air. Dampaknya sangat terasa,” ujar Kusnan dalam dialog yang terekam di video tersebut.

Menanggapi keluhan itu, KDM meminta penjelasan langsung dari Direktur Utama PDAM Tirta Kamuning, Ukas Suharfaputra. Ukas menyatakan bahwa operasional PDAM telah sesuai dengan perizinan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

“Proses izin yang memberikan kami itu BBWS, Pak. Semua sudah dianalisis. Kami hanya mendapatkan porsi 20 persen, 50 persen dikembalikan ke alam, dan 30 persen untuk masyarakat,” kata Ukas.

Namun, KDM menegaskan bahwa kondisi di lapangan tidak mencerminkan pembagian tersebut. Ia menilai masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Ciremai justru masih mengalami kesulitan air.

“Tidak ada kalimat gunung itu milik kabupaten siapa. Semua orang berhak menikmati air dari gunung. Dan yang paling pertama punya hak adalah mereka yang ada di kaki gunung itu,” tegas KDM.

Selain distribusi air, KDM juga mengkritik pemasangan pipa PDAM yang dinilai menutup aliran sungai alami dan berpotensi merusak siklus air.

“Sebenarnya BBWS-nya juga menyalahi. Sungai itu harus terbuka. Ketika sungai menjadi tertutup, itu sudah salah. Pemasangan pipa tidak boleh mengganggu siklus air,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, warga menyebut dampak pengalihan aliran air telah menyebabkan penurunan hasil pertanian hingga sekitar 20 persen. Kepala Desa Cikalahang juga mengungkapkan bahwa kekurangan air memaksa pemerintah desa menggunakan dana desa.

“Kami kekurangan air, Pak. Bahkan untuk kebutuhan dasar, kami sampai menggunakan dana desa,” ungkapnya.

“Pak Kepala Desa, hitung berapa rumah. Nanti tim PU Provinsi turun ke sini untuk menghitung kebutuhan biaya. Sebelum air mengalir ke tempat lain, warga di sini harus terpenuhi dulu,” kata KDM.

Untuk solusi jangka panjang, KDM menegaskan akan menggelar rapat koordinasi lintas wilayah antara Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dengan melibatkan BBWS dan seluruh pemangku kepentingan. Ia juga menyampaikan rencana pembebasan lahan seluas 12 hektare di kaki Gunung Ciremai untuk konservasi dan reboisasi.

“Itu 12 hektare lahan milik warga nanti kita bebaskan. Kita persiapkan reboisasi di kaki gunung. Kalau tidak dibebaskan, masalah ini tidak akan pernah beres,” ujarnya.

Di sela kunjungan yang juga terekam dalam tayangan YouTube tersebut, KDM memberikan bantuan tunai sebesar Rp5 juta kepada seorang buruh tani setempat, Sakim.

“Ini buat beli domba sendiri. Nanti dititipkan lewat rekening Bumdes Telaga Biru, supaya Abah punya domba sendiri,” ucap KDM.

“Persoalan ini akan kita selesaikan sampai tuntas. Jangan ribut lagi, semuanya harus ditata dengan benar,” imbuhnya.

Menutup dialognya, KDM meminta seluruh pihak menahan diri dan memastikan persoalan pemanfaatan air di Gunung Ciremai diselesaikan secara adil dan berkelanjutan.(Tatang Budiman)

Berita Terkait