Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews,- Umat Islam adalah umat yang penuh semangat dan tidak boleh bermalas malasan, karena salah satu karakter yang sangat ditekankan dalam Islam adalah kesungguhan dalam menjalani setiap urusan kehidupan, terutama dalam ibadah dan perjuangan menegakkan kebenaran.
Dalam Syariat Islam dikenal istilah Tajarrud, yaitu kemurnian dan totalitas dalam beramal karena Allah Subhanahu wataala. Tajarrud bukan sekadar bekerja keras, tetapi juga membersihkan hati dari berbagai penghalang seperti syubhat (kerancuan pemahaman), syahwat (hawa nafsu), dan ghaflah (kelalaian), sehingga seluruh aktivitas hidup terarah hanya untuk mencari ridha Allah.
Secara bahasa, tajarrudu lil amri berarti bersungguh-sungguh dan memberikan perhatian penuh terhadap suatu urusan. Dalam konteks dakwah dan kehidupan seorang mukmin, tajarrud merupakan sikap melepaskan diri dari kepentingan pribadi, fanatisme golongan, ataupun ambisi duniawi demi tegaknya kebenaran dan kemaslahatan umat. Allah Subhanahu wataala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).
Hakikat Tajarrud bagi Seorang Mukmin
Tajarrud adalah akhlak yang harus dimiliki setiap mukmin yang ingin berkontribusi bagi kemajuan Islam. Orang yang memiliki tajarrud akan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar dalam menilai berbagai persoalan, bukan hawa nafsu atau kepentingan kelompok. Ia mencintai orang-orang saleh karena Allah, mendukung perjuangan kebaikan, serta tetap bersikap adil kepada siapa pun.
Terhadap sesama muslim yang sedang berjuang menegakkan agama, ia memberikan dukungan dan loyalitas. Terhadap muslim yang masih lemah semangatnya, ia menasihati dan membangkitkan motivasi. Sedangkan terhadap muslim yang melakukan kemaksiatan, ia tetap mengedepankan sikap kasih sayang, nasihat, dan keadilan.
Prinsip ini sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: “Agama itu adalah nasihat.” Lalu para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim). Seorang muslim wajib memiliki kepedulian dan ketulusan kepada sesama, bukan kebencian ataupun permusuhan yang tidak dibenarkan.
Mari Murnikan Niat dan Bersungguh sungguh dalam beramal
Setiap amal dalam Islam sangat bergantung pada niat. Kesungguhan tanpa niat yang benar dapat kehilangan nilai di sisi Allah. Oleh karena itu, tajarrud dimulai dengan memurnikan niat.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keberhasilan seorang mukmin bukan hanya ditentukan oleh hasil kerja, tetapi oleh keikhlasan dan tujuan amalnya. Karena itu, seorang muslim hendaknya selalu bertanya kepada dirinya: Apakah yang saya lakukan ini untuk Allah?, Apakah saya mencari pujian manusia? Atau Apakah saya menginginkan keuntungan dunia semata?, karena semakin murni niat seseorang semata mata karena mengharap keridhoan Allah, maka semakin besar pula keberkahan amalnya.
Mari Latih terus Totalitas dalam Beramal
Kesungguhan dalam Islam bukanlah sesuatu yang bersifat sementara dan sebentar, ikut trend atau musim. Seorang mukmin dituntut untuk istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam hingga akhir kehidupannya. Allah Subhanahu wataala berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS. Al-Hijr: 99). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesungguhan sejati tercermin dari kemampuan menjaga amal dalam jangka Panjang, syariat Islam lebih menghargai amal shaleh yang konsisten terus menerus dibandingkan semangat beribadah banyak yang menggebu namun hanya sesaat (musiman).
Salah satu contoh terbaik tentang tajarrud adalah sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Beliau mengorbankan harta, tenaga, dan kedudukannya demi perjuangan Islam. Ketika banyak budak muslim mengalami penyiksaan di Makkah, Abu Bakar menggunakan hartanya untuk membebaskan mereka, termasuk Bilal bin Rabah radhiallahu anhu.
Semua itu dilakukan bukan untuk mencari pujian, melainkan karena keimanan dan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertakwa dari neraka itu, yaitu orang yang menafkahkan hartanya untuk membersihkannya… tidak ada seseorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.”(QS. Al-Lail: 17-20).
Keutamaan bagi yang Bersungguh sunggu dalam Beramal
Berikut ini beberapa keutamaan bagi muslim yang beramal dengan sungguh-sungguh karena Allah:
“Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat.” (QS. An-Nisa’: 95)
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim)
“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim).
Perlu kita ingat bahwa setiap amal memiliki nilai. Senyum, bantuan kecil, nasihat yang baik, maupun pengorbanan besar seluruhnya tercatat sebagai ibadah apabila dilakukan karena Allah Subhanahu wataala. Allah tidak akan menyia-nyiakan sekecil apa pun amal kebaikan kita.Syariat Islam telah mengajarkan produktivitas, semangat, dan optimisme.
Seorang mukmin tidak boleh menjadi pribadi yang pasif, apalagi menyerah terhadap keadaan. Agama Islam sangat mendorong dan menganjurkan semua muslim untuk berjuang dengan sungguh-sungguh, sehingga Allah akan melebihkan derajat mereka.
Tajarrud adalah kemurnian hati dan totalitas pengabdian kepada Allah Subhanahu wataala. Seorang mukmin yang memiliki tajarrud akan senantiasa berusaha memperbaiki niat, menguatkan keikhlasan, bersungguh-sungguh dalam amal, serta istiqamah hingga akhir hayat.
Kesungguhan bukan hanya ditunjukkan pada saat semangat sedang tinggi, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan, tantangan, dan ujian. Orang yang benar-benar bertajarrud akan terus bergerak dalam ketaatan, karena ia yakin bahwa setiap pengorbanan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh, profesional dan sebaik-baiknya).” (HR. Al-Baihaqi).
Demikian rangkuman tentang tajarrud (bersungguh sungguh dalam beramal), mari kita menjadikan tajarrud sebagai karakter hidup, memurnikan niat, memperbaiki amal, dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan demi meraih ridha Allah Subhanahu wataala, sehingga kita dapat diberikan kebahagiaan dunia serta akhirat. Wallahu alam bishawab.






