
CiremaiNews.com, Kuningan – Langit Ciremai Institute (LCI) secara resmi menyelenggarakan forum diskusi strategis bertajuk “Refleksi Pemilu 2024 dan Harapan Pemilu 2029” di Kabupaten Kuningan. Forum ini menjadi ruang krusial bagi berbagai pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi mendalam, membedah hambatan, serta merumuskan proyeksi masa depan demi mewujudkan demokrasi yang lebih berintegritas di Kabupaten Kuningan.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Fachrial Ikhsan, S.H., M.H., menegaskan pentingnya evaluasi sebagai bentuk tanggung jawab konstitusional. Ia menuturkan, “Harapan tentu yang kami inginkan dari kegiatan forum ini adalah kita ingin berdialog secara objektif tentunya dengan konstruktif pemikirannya dan solutif atas segala permasalahan yang ada. Tentu hasil dari buah pemikiran tersebut kita ingin menjadikan penyempurna dari demokrasi kita.”
Founder Langit Ciremai Institute, Eka Febrian Nugraha, menambahkan bahwa kegiatan ini bukan dimaksudkan untuk menunjuk hidung pihak tertentu, melainkan sebagai upaya kolektif untuk membenahi sistem. Ia menegaskan, “Refleksi bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk menemukan apa yang harus kita perbaiki. Demokrasi yang kuat lahir di masyarakat yang kritis, beridentitas, dan berkebutuhan. Kita harap partisipasi masyarakat tidak hanya tinggi secara kuantitas, tetapi juga berkualitas, didasarkan pada kesadaran intelektual politik dan pertimbangan yang rasional.”
Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Nuzul Rachdy, S.E., memberikan pandangan yang sangat kritis terkait pelaksanaan Pemilu 2024. Berdasarkan pengalamannya selama 30 tahun berpolitik praktis, ia menganggap penyelenggaraan pemilu tahun lalu sebagai yang paling brutal sejak era reformasi. Ia menyoroti fenomena politik uang, keterlibatan pihak-pihak yang tidak netral, hingga sulitnya mengontrol praktik-praktik kecurangan yang tak terlihat. Menghadapi tantangan Pemilu 2029, Nuzul menekankan pentingnya peran generasi muda. “Kaum muda, mahasiswa, harus menjadi pelopor, harus menjadi agen perubahan dari sistem Pemilu yang harus dilakukan. Mengingat 60 persen pemilih di 2029 nanti adalah pemuda, maka jika kaum muda diam, kita tidak bisa berharap Pemilu akan berkualitas,” tegasnya.
Di sisi lain, akademisi Dr. Eman Sualeman, M.Ag., menyoroti anomali partisipasi masyarakat di Kabupaten Kuningan yang sangat kontradiktif. Ia mencatat adanya angka golongan putih (golput) yang justru lebih tinggi dibandingkan perolehan suara pemenang Pilkada. “Ada 100.000 lebih orang yang tidak memilih dibandingkan dengan yang memilih. Jadi catatan ke depan, kayaknya harus ada calon golput ke depannya karena ini menurut saya agak menarik. Kita harus membaca nih, ada apa dengan masyarakat Kuningan. Kok tidak tertarik memilih pemimpinnya sendiri?” ungkapnya mempertanyakan efektivitas pendidikan politik selama ini.
Menanggapi dinamika lapangan, Dadan Yuardan Firdaus dari Bawaslu Kabupaten Kuningan memaparkan tantangan teknis yang dihadapi pengawas pemilu, mulai dari keterbatasan anggaran yang mempengaruhi pengawasan hingga kerumitan proses penanganan laporan pelanggaran. Namun, ia menyambut optimis penguatan kewenangan lembaga pengawas ke depan. Ia menjelaskan, “Makanya kita melihat bahwa ke depan akan ada dinamika dan tantangan baru. Apalagi setelah putusan MK 145 menyatakan bahwa Bawaslu dapat memutuskan sanksi administratif untuk penyelenggaraan Pilkada atas pelanggaran yang terjadi. Ini adalah instrumen baru agar aturan benar-benar ditegakkan.”
Forum ini berhasil menjadi jembatan dialog bagi penyelenggara, akademisi, dan masyarakat sipil. Seluruh pihak yang hadir sepakat bahwa untuk menuju Pemilu 2029, diperlukan sinergi yang lebih solid. Evaluasi kritis yang dilakukan dalam forum ini diharapkan mampu menekan angka pelanggaran, meminimalkan anomali partisipasi, dan pada akhirnya melahirkan pemimpin yang benar-benar memiliki integritas serta keberpihakan tulus kepada kepentingan bangsa dan masyarakat luas. Momentum dua tahun pasca-Pemilu 2024 ini menjadi pengingat bahwa perbaikan sistem demokrasi adalah kerja maraton yang membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa.(Hildan Alfaisal)






