Ciremainews – Dalam mendekati hari pelaksanaan Pilkada Kuningan, dukungan besar semakin mengalir kepada Paslon No. 03, H. Yanuar Prihatin-Udin Kusnedi. Dukungan ini datang dari berbagai kalangan, terutama dari komunitas santri, ulama, dan kyai alumni.
Salah satu tokoh penting yang menyuarakan dukungannya adalah KH. Maman Ridwan, seorang ulama kharismatik yang dikenal di Kabupaten Kuningan.
Dalam keterangannya, KH. Maman Ridwan mengungkapkan bahwa Paslon No. 03 merupakan pilihan yang tepat untuk memimpin Kuningan. “H. Yanuar Prihatin memiliki latar belakang yang sangat kuat dalam komunitas pesantren. Ia tidak hanya memahami dunia pesantren, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai Nahdliyyin. Itu sebabnya kami yakin, H. Yanuar adalah yang paling santri di antara calon lainnya,” ujar KH. Maman.
KH. Maman juga menambahkan bahwa dari ketiga pasangan calon yang bertarung di Pilkada Kuningan, Paslon No. 03 dinilai paling mewakili kalangan santri. “Yanuar memahami nilai-nilai yang dipegang teguh oleh para santri dan ulama. Ini yang membuat kami, komunitas santri, mendukung penuh beliau,” tegasnya.
Lebih jauh, KH. Maman mengingatkan bahwa Yanuar Prihatin adalah putra dari KH. Ahmad Bagja, tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU di era kepemimpinan Gus Dur dan KH. Hasyim Muzadi. “Keturunan dari tokoh sebesar KH. Ahmad Bagja menjadi alasan kuat kami yakin Yanuar akan meneruskan perjuangan NU, tidak hanya di Kuningan tetapi juga di level nasional,” terangnya.
Yanuar, lanjut KH. Maman, juga memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi NU. “Beliau pernah menjabat di berbagai organisasi, mulai dari IPNU hingga PB PMII. Pengalamannya dalam organisasi ini menunjukkan dedikasi dan komitmennya terhadap nilai-nilai Nahdliyyin,” tambahnya.
KH. Maman menyebut H. Yanuar Prihatin sebagai aset nasional, terutama bagi kalangan Nahdliyyin. “Beliau tidak hanya dikenal di Kuningan, tapi di tingkat nasional. Yanuar sering menjadi motivator di berbagai perguruan tinggi dan seminar di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Dalam hal program, KH. Maman sangat mengapresiasi fokus Yanuar terhadap pengembangan pesantren, salah satunya adalah dengan membangun puluhan Balai Latihan Kerja (BLK) di pesantren-pesantren. “Program ini sangat bermanfaat bagi para santri untuk menambah keterampilan dan membuka akses lebih luas dalam dunia kerja,” katanya.
KH. Maman juga menekankan komitmen Yanuar terhadap dunia pesantren dan pendidikan agama. “Bukan hanya bicara, tapi beliau sudah menunjukkan tindakan nyata dalam mendukung lembaga-lembaga pendidikan agama di Kuningan,” tambahnya.
Selain dekat dengan santri dan ulama, H. Yanuar juga dikenal dekat dengan masyarakat umum tanpa memandang latar belakang. “Yanuar selalu berusaha menjalin silaturahmi dengan semua tokoh masyarakat. Ini bukti bahwa kepemimpinannya nanti akan inklusif dan merangkul semua pihak,” tambah KH.
Salah satu program konkret yang disorot KH. Maman adalah rencana Yanuar untuk memfasilitasi pembangunan gedung MWC NU di seluruh kecamatan di Kuningan. “Ini penting untuk memperkuat jaringan dan sinergi antarorganisasi di tingkat kecamatan,” ucap Maman.
Yanuar juga menawarkan program penguatan ekonomi pesantren, yang menurut KH. Maman akan membawa pesantren menjadi lebih mandiri dan berkontribusi lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat.
KH. Maman Ridwanullah mengakhiri keterangannya dengan menegaskan bahwa komunitas santri, ulama, dan kyai alumni di Kuningan sepakat memberikan dukungan penuh kepada H. Yanuar Prihatin.
“Dengan latar belakang dan komitmen yang dimilikinya, Yanuar adalah sosok yang paling cocok memimpin Kuningan. Dia memiliki darah biru pesantren, baik secara biologis maupun ideologis,” pungkasnya
Sementara sosok H. Udin Kusnedi juga seorang politisi ulung yang sudah melalang buana. KH. Maman menyebut keterlibatan H. Udin di NU tak diragukan lagi keaktifan. Tercatat, H. Udin merupakan anggota Himpunan Pengusaha Nadhlatul Ulama (HPN) Kabupaten Kuningan.
“Pasangan yang tidak diragukan lagi, keduanya Santri dan pengusaha mampu kolaborasi tentunya tidak melupakan nilai kesantrian dalam mengelola Kuningan,” tuturnya.

