CiremaiNews, Kuningan – Upaya memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda terus digencarkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui pendekatan yang lebih relevan dengan karakter Gen Z.
Pembelajaran berbasis alam dan penguatan literasi digital menjadi strategi yang kini dikembangkan untuk mencegah kejenuhan sekaligus menghadapi ancaman radikalisme.Kegiatan pendidikan kebangsaan berbasis alam berlangsung di Villa De La Tina, Kuningan.
Peserta diajak mengikuti aktivitas luar ruang dan diskusi bersama pegiat alam, pecinta satwa, hingga aktivis lingkungan. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai dengan pola belajar Gen Z yang kritis dan dinamis.
Anggota DPRD Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, menilai metode ceramah konvensional tidak lagi efektif bagi generasi muda saat ini.
“Gen Z itu kritis dan dinamis. Kalau masih pakai pola duduk mendengarkan ceramah, lama-lama mereka pasti bosan. Materinya tidak akan masuk,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Ia menegaskan hubungan antara kecintaan alam dan nasionalisme dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat karakter kebangsaan.“Jika mereka sudah cinta pada alam dan satwa Indonesia, otomatis tumbuh kesadaran untuk menjaga tanah airnya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Jawa Barat, Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si., menyoroti bahwa tantangan utama generasi saat ini tidak hanya terkait rendahnya minat terhadap materi kebangsaan, tetapi juga ancaman radikalisme yang menyusup melalui ruang digital.
“Sekarang terorisme bukan hanya dilakukan kelompok tertentu, tetapi sudah masuk melalui berbagai game yang dimainkan anak-anak,” jelasnya.
Wahyu mengungkapkan adanya tren penyebaran ide kekerasan melalui model permainan digital yang mengarahkan generasi muda pada pemahaman terorisme bahkan simulasi pembuatan bom. Karena itu, pihaknya tengah mempersiapkan program pencegahan bersama Densus 88 Anti Teror.
“Tahun depan, insyaallah kita akan re-fokus ke arah sana. Tahun ini sedang merancang program dengan Densus 88,” ungkapnya.
Program tersebut akan menyasar siswa yang dinilai rentan, serta ibu-ibu sebagai pihak yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak.
Menanggapi tantangan era post-truth, Wahyu menegaskan pentingnya membangun jati diri yang kuat agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi negatif.
“Kalau jati dirinya sudah kuat, maka pengaruh dari luar, seberapa besar pun, tidak akan menggeser konsep yang mereka yakini benar,” pungkasnya.
Melalui metode yang lebih segar dan pendekatan yang adaptif terhadap budaya digital, pemerintah berharap pendidikan kebangsaan tidak lagi dianggap membosankan, tetapi menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus memperkuat ketahanan ideologi generasi muda.






