CiremaiNews, Kuningan – Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menyimpan kekayaan flora dan fauna yang saling terhubung dalam satu sistem ekologi pegunungan yang kompleks.
Keberadaan pohon-pohon raksasa, vegetasi khas, hingga anggrek hutan menjadi penopang utama kehidupan satwa liar seperti Surili Jawa, Elang Jawa, dan Macan Tutul Jawa di atap tertinggi Jawa Barat tersebut.

Sekretaris DPD Gerakan Masyarakat Jawa Barat Hejo (Gema Jabar Hejo) Kuningan, Nanang Subarna, S.Hut., menjelaskan bahwa hutan Ciremai tersusun oleh vegetasi berumur panjang dengan fungsi ekologis yang saling bergantung.
Sebagai rimbawan dan alumni Fakultas Kehutanan IPB yang pernah melakukan riset di kawasan ini, ia menyebut Ciremai sebagai laboratorium alam yang memperlihatkan hubungan utuh antara flora dan fauna.
“Gunung Ciremai memiliki struktur hutan yang khas. Pohon-pohon besar bukan hanya elemen lanskap, tetapi menjadi rumah dan sumber kehidupan bagi banyak satwa,” ujar Nanang, Kamis (11/12/2025).
Menurutnya, jenis pohon seperti Saninten (Castanopsis argentea) dan Sundaicus Oak (Lithocarpus sundaicus) dari famili Fagaceae merupakan penyusun utama kanopi hutan.

Biji yang dihasilkan kedua jenis ini menjadi sumber pakan penting bagi berbagai satwa. Pada zona pegunungan, vegetasi tersebut sering berdampingan dengan Kijamuju atau Jamuju (Dacrycarpus imbricatus), pohon konifer khas montana yang menandai ekosistem hutan pegunungan atas.
“Kijamuju biasanya tumbuh di kawasan yang relatif masih stabil. Batangnya tinggi dan lurus, sehingga sering dimanfaatkan burung pemangsa sebagai tempat bertengger atau bersarang,” kata Nanang.
Struktur hutan Ciremai juga diperkuat oleh pohon-pohon berakar besar dan kuat, seperti Jabon Putih (Engelhardia spicata) serta berbagai jenis Ara atau Beringin (Ficus spp.). Akar papan dari pohon-pohon ini membantu menjaga kestabilan lereng sekaligus mempertahankan sistem resapan air.
“Pohon ara bisa disebut bank makanan hutan. Buahnya tersedia hampir sepanjang tahun dan dimanfaatkan burung, primata, hingga mamalia lainnya,” jelasnya.
Selain pohon kanopi, kekayaan flora Ciremai juga tercermin dari vegetasi bawah yang tumbuh bergantung pada pohon-pohon besar, salah satunya dari kelompok anggrek hutan (Orchidaceae). Anggrek-anggrek ini tumbuh sebagai epifit di batang pohon tua maupun sebagai anggrek tanah di lantai hutan yang lembap dan teduh.
“Anggrek merupakan indikator kesehatan hutan. Ia sangat sensitif terhadap perubahan kelembapan, cahaya, dan keberadaan pohon inang,” ungkap Nanang.
Ia menyebut beberapa marga anggrek yang dijumpai di kawasan Ciremai antara lain Dendrobium, Bulbophyllum, Eria, dan Coelogyne, yang menempel pada Saninten, Beringin, serta pohon besar lainnya. Anggrek tanah juga ditemukan tumbuh di kawasan dengan serasah tebal dan kondisi mikroklimat yang masih alami.
“Anggrek tidak bisa hidup sendiri. Ia bergantung pada pohon inang, jamur mikoriza, dan keseimbangan ekosistem. Ketika pohon besar hilang, anggrek biasanya ikut menghilang,” kata Nanang.
Keanekaragaman flora lain seperti Huru atau Medang (Litsea spp.) turut memegang peran penting sebagai pakan utama Surili Jawa (Presbytis comata). Primata endemik ini memerlukan kanopi rapat dan kesinambungan vegetasi untuk bergerak dan mencari makan.

“Surili sangat bergantung pada daun muda dari jenis Litsea. Hutan yang rapat menjadi syarat utama kelangsungan hidupnya,” ujarnya.
Jenis pohon lain seperti Peusitan (Syzygium spp.), Kesemek (Diospyros sp.), dan Ki Asem (Tamarindus indica) melengkapi keragaman vegetasi dengan menyediakan buah dan habitat bagi satwa di berbagai strata hutan. Sementara itu, vegetasi penutup seperti Kaliandra Merah (Calliandra calothyrsus) berperan dalam menjaga kondisi lereng dan menutup area terbuka.
Nanang menjelaskan bahwa keterpaduan flora tersebut membentuk habitat yang mendukung kehidupan fauna tingkat tinggi. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), sebagai predator puncak, bergantung pada keberadaan satwa mangsa seperti kijang dan ayam hutan yang hidup di kawasan dengan vegetasi bawah yang sehat.
“Flora dan fauna di Ciremai membentuk satu sistem. Pohon menyediakan ruang dan pakan, sementara satwa berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.
Ia menambahkan, Gunung Ciremai tidak hanya menyimpan keindahan lanskap, tetapi juga merekam hubungan alam yang saling menguatkan antara pohon raksasa, anggrek hutan, dan satwa liar.
“Hutan Ciremai adalah potret ekosistem pegunungan Jawa yang utuh. Pohon-pohon besar, anggrek, dan satwa hidup dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan,” tutupnya.

