Sab. Jan 17th, 2026

Menelusuri Jejak Sunyi Keraton Gebang Cirebon. Gajah Putih Simbol Identitasnya

CiremaiNews.com, Cirebon– Di tengah bayang-bayang kemegahan tiga keraton utama Cirebon, Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan tersimpan sebuah narasi sejarah yang belum banyak terungkap.

Ada satu keraton yang seolah luput dari perhatian khalayak, sebuah permata masa lalu yang kini berusaha dituturkan kembali oleh penjaganya, Pangeran Elang Gesang di Keraton Gebang, Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon. Rabu (2/7/2025).

Ia mengisahkan, berbeda dengan anggapan umum, Cirebon sejatinya memiliki empat keraton. “Banyak yang tidak tahu bahwa Keraton Gebang memiliki jejak sejarahnya sendiri yang sangat penting,” tuturnya.

Mengutip laman resmi Cirebonkota.go.id, dijelaskan kehadiran tiga keraton besar di Cirebon menandakan adanya tiga sultan. Namun, di luar keraton-keraton tersebut, Keraton Gebang seolah terlepas dari sorotan. Padahal, kisah Pangeran Sujatmaningrat, atau yang dikenal sebagai Pangeran Penganten, adalah pangkal pendirian kembali keraton ini.

Seperti yang dilansir dari direktoripariwisata.id, Pangeran Penganten mendirikan sebuah rumah di Desa Gebang Kulon yang kini dikenal sebagai Keraton Gebang, dengan lambang ikonik patung gajah putih. Saat ini, keraton tersebut menjadi tempat tinggal keturunan keluarga Pangeran Penganten.
Pangeran Elang Gesang merunut jauh ke belakang, ke masa ketika kakek moyangnya, Pangeran Sutajaya, mendirikan keraton ini. “Keraton Gebang mulanya didirikan untuk menjadi pusat pemerintahan, dan juga berfungsi vital sebagai gudang logistik Kesultanan Mataram, dalam rangka penyerbuan ke Batavia melawan tentara VOC Belanda,” jelasnya.

Namun, nasib tragis tak terhindarkan. Peran strategis Keraton Gebang terendus oleh VOC. “Kemudian, oleh pasukan Gubernur Jenderal VOC Jan Peterzoon Coen, keraton tersebut dihancurkan,” kisah Pangeran Elang Gesang, mengutip lembaran sejarah yang ia pahami.

Kisah Keraton Gebang tak berhenti di situ. Pada tahun 1860, Pangeran Sujatmaningrat, atau Pangeran Penganten yang berasal dari Keraton Kanoman dan merupakan menantu Pangeran Sutajaya karena menikah dengan putrinya, Ratu Agung membangun kembali keraton ini. Sejak saat itu, Keraton Gebang menjadi rumah tinggal bagi para keturunannya hingga kini.

Pangeran Elang Gesang tidak hanya menuturkan sejarah keraton, tetapi juga memaparkan silsilah yang mengukuhkan posisinya sebagai bagian tak terpisahkan dari garis keturunan penguasa Gebang. Ia menyebutnya sebagai “dahan raja.”
“Kalau alur ke Gebang gini,” Pangeran Elang Gesang memulai penjelasannya, Sutajaya dalam kebon punya anak lelaki pertama, Pangeran Ruslan.

Pangeran Ruslan, lanjutnya, memiliki dua anak lelaki, yaitu Pangeran Mesir (yang tidak memiliki keturunan) dan Pangeran Tursina, serta seorang anak perempuan bernama Ratu Esa. “Nah, Pangeran Tursina punya anak dengan Ratu Nurin Kanoman,” tambahnya.

Ia kemudian merinci garis keturunannya. “Anak lelaki pertama Pangeran Tursina pindah agama atau dicoret. Anak kedua perempuan adalah nenek kandung saya, dan anak ketiga keturunannya di Jakarta,” tuturnya.

Nenek Pangeran Elang Gesang, Ratu Kencana Mulya, memiliki anak dengan Pangeran Yamin bin Sultan Nurbuat. “Yaitu ibu, mamang (keturunannya pindah agama), serta bibi,” paparnya. Dengan demikian, Pangeran Elang Gesang menegaskan, lelaki tertua dari dahan raja (Pangeran Tursina) ya saya, adik, serta anak lelaki dari bibi.

Pangeran Elang Gesang juga menyinggung tentang kemungkinan klaim terhadap Keraton Gebang. “Kalau sekarang pihak yang ingin klaim Gebang, ya habisi dulu dahan raja dari Pangeran Tursina,” tegasnya, menunjukkan komitmennya terhadap garis silsilah tersebut. “Begitu… alur penerus raja,” terangnya.

Ciri khas Keraton Gebang yang mencolok adalah patung Gajah Putih yang megah di depan pintu masuk, yang juga menjadi lambang keraton. Patung ini bukan sekadar ornamen, melainkan penanda identitas dan bagian tak terpisahkan dari narasi sejarahnya.

Pangeran Elang Gesang sangat berharap agar Keraton Gebang memperoleh perhatian yang layak. “Keberadaan situs sejarah ini perlu dilestarikan,” katanya.

“Karena selain terkait dengan sejarah Cirebon, juga bisa menjadi tempat wisata sekaligus untuk pengembangan ilmu sejarah.”
Ia tidak menampik bahwa Keraton Gebang masih kalah populer dibandingkan Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Namun, dengan upaya pelestarian yang gigih dan promosi yang efektif, Pangeran Elang Gesang optimis.

“Keraton Gebang akan menemukan tempatnya dalam daftar kekayaan sejarah dan budaya Cirebon yang patut dibanggakan,” pungkasnya, mengakhiri perbincangan dengan sebuah asa.***

Berita Terkait