Oleh : Riki Irfan ST M.Si (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews- Pada beberapa waktu ini, bangsa kita sedang mengalami tekanan ekonomi yang cukup berat. Nilai rupiah makin melemah terhadap dolar, mulai terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup juga semakin meningkat. Tidak bisa dipungkiri, hal ini tentu menimbulkan banyak kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya krisis ekonomi, jika pemerintah tidak segera mencarikan solusi.
Banyak masyarakat menjadi cemas, ada yang mulai pesimis dan ada yang marah kecewa, bahkan menghujat pemerintah, sungguh kita tidak sedang baik baik saja, perlu berbenah. Bagi seorang muslim, kondisi ini sebenarnya bukan hanya persoalan ekonomi semata, melainkan kejadian yang pastinya mengandung akan hikmah dan sebagai ujian keimanan bagi yang menyadarinya.
Sebagai seorang muslim, penulis merasa penting untuk mengingatkan diri pribadi dan saudara muslim, bahwa umat Islam wajib menyikapi kondisi yang Tengah terjadi ini dengan cara yang benar sesuai tuntunan syariat. Berikut ini beberapa catatan yang penulis rangkumkan dari berbagai sumber, bagaimana seharusnya kita muslim bersikap.
1. Perlu Menyadari Semua Hal Terjadi dengan Takdir Allah
Islam mengajarkan bahwa rezeki, kelapangan, dan kesempitan hidup terjadi atas izin Allah Ta’ala. Bahkan, naiknya harga dan melemahnya nilai mata uang bukanlah kejadian di luar kehendak-Nya, tetapi pasti sudah ditakdirkan. Allah menguji manusia dengan berbagai cara, termasuk melalui kesulitan ekonomi. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta. Sikap seorang muslim bukanlah berlebihan dalam kekhawatiran, melainkan bersabar, tetap berprasangka baik kepada Allah, dan yakin bahwa setiap kesulitan akan disertai kemudahan, sebagaimana firman Allah: “Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
2. Tetap Tenang dan Bertawakal
Ketika ekonomi tidak stabil, barang kebutuhan mahal atau langka, maka seringkali terjadi kepanikan seperti: memborong barang dan menyebarkan ketakutan, atau berita negatif. Islam melarang sikap seperti itu. Seorang muslim diajarkan untuk tetap tenang, tidak panik dan senantiasa bertawakal kepada Allah. Sebagaimana firman Allah: ““Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QS. At-Thalaq : 3). Ketenangan hati justru menjadi kekuatan terbesar dalam menghadapi situasi sulit.
3.Memperbaiki Diri dan Bertaubat
Orang beriman mengetahui bahwa musibah tidak jarang berkaitan dengan perbuatan manusia itu sendiri. Kondisi ekonomi yang sulit seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi diri, memperbanyak istighfar, memperbaiki ibadah dan meninggalkan dosa dan praktik yang tidak halal (bertaubat). Bisa jadi kesulitan ekonomi disebabkan oleh maraknya riba, kecurangan/korupsi, atau kelalaian manusia dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, solusi spiritual menjadi sangat penting selain solusi kebijakan ekonomi.
4. Hidup Sederhana dan Qana’ah
Gaya hidup yang berlebihan, lalu berhutang, sering menjadi penyebab tekanan ekonomi bertambah bukan sekadar hanya karena kurang penghasilan. Syariat Islam mengajarkan sikap qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Langkah yang bisa dilakukan: memetingkan prioritas kebutuhan (bukan keinginan), mengurangi konsumsi yang tidak penting, menghindari berhutang dan atur keuangan secara bijak. Hidup sederhana adalah cara untuk menjaga kestabilan sekaligus ketenangan hidup.
5. Berikhtiar Secara Halal
Berserah diri kepada Allah itu bukan berarti tidak berusaha, karena seorang muslim tetap wajib berusaha, meskipun menyadari bahwa hasilnya ditentukan oleh Allah. Dalam kondisi sekarang yang cukup sulit, muslim perlu terus bekerja dan mencari nafkah halal, belajar dan menambah keterampilan, bekerja dengan professional dan tekun, mengelola usaha dengan baik. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar kerja keras dan tawakal penuh kepada Allah.
6. Bersedekah dan Kepedulian Sosial
Di tengah kesulitan ekonomi, justru kepedulian terhadap sesame dan terhadap yang lebih lemah itu sangat dibutuhkan, Islam tidak mengajarkan muslim menjadi pelit. Dalam Islam, sedekah tidak mengurangi harta, membantu sesama mendatangkan keberkahan dan Allah akan menolong hamba yang menolong saudaranya. Kepedulian sosial dapat menjadi penopang kuat untuk menghadapi krisis bersama.
7. Berniaga dengan Jujur dan tidak Zalim
Kondisi kesulitan ekonomi suatu negara, memicu kenaikan harga. Namun hal ini tidak boleh dijadikan alasan bagi pengusaha/pedagang muslim untuk berbuat curang dan zalim. Islam melarang melakukan penimbunan barang, manipulasi harga dan menipu. Pedagang muslim harus Jujur, Amanah dan tidak mengambil keuntungan berlebihan secara tidak adil dari kesulitan Masyarakat. Selain keuntungan materi, pedagang muslim berupaya mengejar keberkahan dari bisnisnya.
8. Memahami Peran Pasar dan Pemerintah
Dalam padangan Islam, harga pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar. Namun tentu pemerintah tetap memiliki peran penting untuk mengawasi agar tidak terjadi monopoli (persaingan tidak sehat), mencegah penimbunan dan memgupayakan keadilan ekonomi. Pemerintah dalam kondisi tertentu, intervensi dapat dilakukan untuk mencegah kezaliman terhadap Masyarakat dan kemaslahatan orang banyak.
9. Ingat Selalu Bahwa Kehidupan Dunia Hanya Sementara
Kegelisahan, kepanikan akan suatu kondisi biasanya terjadi saat manusia menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya. Sedangkan dalam syariat Islam, kita mengetahui bahwa Dunia adalah tempat sementara, tempat ujian dan tujuan utama adalah kebahagiaan abadi di akhirat. Dengan Kembali pada perspektif ini, insya Allah tekanan ekonomi, tekanan hidup akan dirasakan lebih ringan karena manusia faham bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya pada materi, tapi pada hati yang senantiasa mengingat Allah.
Kenaikan harga, sulitnya kondisi ekonomi dan kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi adalah ujian berat bagi kita semua. Agar bisa berhasil melewatinya, sebagai orang yang beriman, kita yakin bahwa semua sudah ditakdirkan, kita perlu hadapi dengan berbekal pada arahan syariat Islam yang sempurna. Semoga kondisi sulit ini segera diberikan jalan keluar oleh Allah dan sekaligus menjadi kesempatan kita semua untuk memperbaiki diri, bertaubat, memperkuat iman dan takwa, serta bisa kompak membangun masyarakat yang lebih adil dan peduli. Aamiin.

