CiremaiNews, Kuningan – Upaya Pemerintah Kabupaten Kuningan meningkatkan kualitas gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya berpihak pada produsen lokal. Hingga kini, dapur-dapur MBG belum menggunakan ikan dari Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Darma, meski produksi di kawasan tersebut melimpah dan berpotensi menjadi sumber protein hewani utama.Ketua Satgas MBG Kabupaten Kuningan, Uu Kusmana, menegaskan perlunya dapur MBG mulai memprioritaskan ikan lokal dalam penyusunan menu.“Saya menghimbau seluruh SPPG atau dapur MBG untuk memanfaatkan potensi ikan dari Keramba Darma,” ujarnya, Jumat, (14/11/2025).Menurut Uu, keterlibatan pelaku perikanan lokal dapat memperkuat rantai pasok sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar waduk.Uu juga meminta penggunaan ikan dilakukan secara terjadwal. “Tidak harus setiap hari, tetapi minimal ada rotasi mingguan,” katanya. Namun ia mengakui pendataan mengenai kapasitas produksi dan distribusi ikan dari pembudidaya masih belum tuntas, sehingga dapur MBG belum dapat memastikan pembelian.Kondisi tersebut membuat pelaku KJA menunggu kepastian. “Kalau MBG benar-benar melibatkan kami, itu sangat membantu. Produksi ada, yang kurang itu pasarnya,” kata Dedi, pembudidaya ikan asal Desa Jagara.Kepala Desa Jagara, Umar Hidayat, menilai dapur MBG dapat menjadi pasar stabil bagi ribuan KJA di Waduk Darma.“Selama ini ikan banyak dijual keluar daerah. Jika pemerintah melakukan pembelian langsung, pembudidaya tentu lebih bersemangat meningkatkan produksi,” ujarnya.Di tingkat teknis, sorotan tertuju pada Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan. Dinas tersebut menjadi penentu karena memegang data produksi, jumlah pembudidaya, serta kemampuan pasokan KJA. Tanpa data tersebut, dapur MBG tidak memiliki dasar untuk mengambil keputusan pembelian.Sementara itu, variasi menu dapur MBG juga mendapat catatan dari SPPI Kuningan. Perwakilan SPPI, Nisa Rahma, menilai penggunaan ikan sebagai sumber protein hewani masih minim.“Kami mendorong dapur MBG agar protein seperti telur, ikan, ayam, dan daging diselang-seling. Menu variatif penting untuk pemenuhan nutrisi anak,” ujarnya.Ia menambahkan, kendala penggunaan ikan masih berkaitan dengan teknik pengolahan di lapangan.“Banyak yang khawatir bau amis jika tidak diolah dengan benar. Kami akan mengevaluasi hal tersebut dan memberikan arahan agar menu lebih beragam, termasuk penggunaan ikan,” tegasnya.Dengan potensi besar di Waduk Darma, keterlibatan ikan lokal dalam MBG dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan daerah. Namun tanpa keputusan dan pendataan yang jelas, dapur MBG tetap sulit memanfaatkan kesempatan tersebut. Pelaku perikanan kini menunggu langkah konkret pemerintah daerah untuk memastikan mereka menjadi bagian dari rantai pasok MBG.






