Kam. Apr 30th, 2026

Generasi Muda Garda Depan Ketahanan Nasional, Sudjatmiko: Bela Negara Harus Berbasis Aksi Nyata

Ciremainews – Anggota MPR RI, Sudjatmiko, menegaskan bahwa peran generasi muda dalam bela negara harus diterjemahkan dalam langkah konkret, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan, energi, dan stabilitas sosial di tengah ancaman krisis global. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan dialog kebangsaan bersama pemuda dan organisasi masyarakat di Kota Bekasi.

Menurut Sudjatmiko, bela negara tidak lagi bisa dimaknai secara sempit sebagai konsep pertahanan fisik semata. Ia menjelaskan bahwa dalam konteks kekinian, bela negara mencakup kontribusi aktif generasi muda dalam menjaga kemandirian bangsa dari sisi ekonomi, pangan, energi, hingga ketahanan informasi.

“Anak muda hari ini harus menjadi motor inovasi. Ketahanan pangan dan energi adalah bagian dari kedaulatan bangsa. Jika kita bergantung pada pihak luar, maka kita rentan secara strategis,” ujarnya.

Ia menilai generasi muda memiliki potensi besar sebagai penggerak pertanian modern berbasis teknologi, pengembang energi terbarukan, hingga pelaku usaha kreatif yang memperkuat ekonomi lokal. Dalam pandangannya, semangat bela negara harus diwujudkan melalui produktivitas dan inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat.

Sudjatmiko juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bela negara dengan pendekatan dialogis dan partisipatif. Ia mengingatkan agar pendidikan kebangsaan tidak bersifat indoktrinatif, melainkan memberi ruang bagi generasi muda untuk berpikir kritis dan terlibat langsung dalam pemecahan masalah bangsa.

“Kesadaran tidak tumbuh karena paksaan, tetapi karena pemahaman dan keterlibatan. Ketika pemuda merasa memiliki bangsa ini, maka mereka dengan sendirinya akan menjaganya,” tegasnya.

Dalam menghadapi potensi konflik kawasan dan dinamika global, ia menilai generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga kohesi sosial. Literasi digital, kemampuan menyaring informasi, dan komitmen menjaga persatuan menjadi fondasi penting dalam mencegah polarisasi akibat disinformasi.

Lebih lanjut, Sudjatmiko mendorong adanya sinergi kuat antara pemerintah, sekolah, pesantren, dan organisasi kepemudaan dalam membangun budaya bela negara yang berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor, menurutnya, menjadi kunci agar nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi ekosistem yang hidup dalam keseharian.

“Bela negara adalah kerja kolektif. Pemerintah menyiapkan kebijakan, lembaga pendidikan membentuk karakter, dan organisasi kepemudaan menjadi ruang aktualisasi. Jika semua bergerak bersama, kita memiliki fondasi kuat menghadapi krisis global apa pun,” pungkasnya.

Dialog tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat peran generasi muda sebagai garda terdepan dalam menjaga stabilitas nasional dan membangun masa depan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berdaya saing global.

Berita Terkait