CiremaiNews.com, Kuningan – Serangan ajag (anjing hutan) di Desa Wano, Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan, menyebabkan belasan kambing warga mati secara mengenaskan. Kejadian yang berlangsung pada Jumat malam (15/2/2025) ini menimbulkan keresahan di kalangan peternak yang mengalami kerugian besar akibat kehilangan ternak mereka.
Salah satu peternak yang menjadi korban, Yoyon, mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendengar suara gaduh dari kandangnya sekitar pukul 02.00 dini hari. Namun, karena takut, ia tidak berani keluar rumah. Ketika pagi harinya hendak memberi makan ternak, ia menemukan empat ekor kambingnya sudah mati dengan luka gigitan di bagian leher dan perut.
“Awalnya saya dengar suara ribut, tapi takut untuk mengeceknya. Paginya saat mau kasih makan, ternyata kambing sudah mati,” ujar Yoyon.
Nasib serupa juga dialami oleh Wahidin, warga lainnya, yang menemukan lima ekor kambingnya tewas dalam kondisi mengenaskan. Kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi, karena serangan serupa juga dilaporkan terjadi di desa tetangga sehari sebelumnya.
Menanggapi insiden ini, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Wawan Setiawan, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan di lokasi kejadian dan menduga kuat bahwa serangan memang dilakukan oleh ajag. Dinas Peternakan telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ciamis untuk mencari solusi dalam penanganan ancaman ini.
“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BKSDA dan masih menunggu tindak lanjutnya. Saat ini, belum ada keputusan terkait kompensasi bagi peternak, namun kami terus melakukan koordinasi. Untuk sementara, kami mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan ronda malam guna mencegah serangan berikutnya,” ujar Wawan.
Selain berkoordinasi dengan BKSDA, Dinas Perikanan dan Peternakan juga tengah mengkaji langkah-langkah perlindungan bagi peternak agar kejadian serupa tidak terus berulang. Beberapa upaya yang tengah dipertimbangkan termasuk pembuatan kandang yang lebih aman, pemasangan penerangan di sekitar area peternakan, serta edukasi kepada peternak mengenai metode pencegahan serangan satwa liar.
Dinas juga berencana mengadakan sosialisasi bersama warga dan aparat desa mengenai pola pergerakan ajag serta strategi mitigasi agar peternak dapat lebih siap menghadapi potensi serangan di masa mendatang.
Tokoh masyarakat Desa Wano, Dadang Hermawan, mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera bertindak guna melindungi mata pencaharian peternak.
“Kami sangat berharap kejadian ini mendapat perhatian serius dari pihak berwenang. Peternak sudah bersusah payah membesarkan ternaknya, jangan sampai mereka terus-menerus menjadi korban. Perlu ada solusi konkret untuk mengatasi ancaman ini,” tegas Dadang.
Serangan ajag yang terus berulang membuat warga semakin resah. Mereka berharap adanya langkah nyata dari pemerintah untuk menanggulangi permasalahan ini sebelum lebih banyak ternak yang menjadi korban. Dengan koordinasi antara Dinas Perikanan dan Peternakan, BKSDA, serta masyarakat, diharapkan dapat ditemukan solusi terbaik untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan di Kuningan.

