Kam. Apr 30th, 2026

Lembah Cilengkrang Terancam, Warganet Tuntut Penghentian Pembangunan Arunika

CiremaiNews.com, Kuningan – Sebuah longsor yang terjadi di jalur menuju objek wisata Lembah Cilengkrang, Desa Pajambon, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, memantik diskusi luas di media sosial. Peristiwa longsor terjadi pada Rabu (14/5/2025) siang, tepat setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Dalam video yang diunggah akun TikTok @omjjeee, terlihat batu dan lumpur menutupi jalur hiking yang biasa digunakan pengunjung. Akses jalan sempat tertutup dan berubah licin, membahayakan pengguna jalan.

Hingga Kamis (15/5/2025), video tersebut telah ditonton lebih dari 392 ribu kali dan memancing ratusan komentar. Warganet menyoroti akar persoalan yang lebih dalam, yaitu pembangunan masif kawasan wisata Arunika Palutungan yang berada di dataran lebih tinggi dari lokasi longsor. Banyak yang khawatir bahwa pembangunan tersebut tidak memperhatikan kelestarian lingkungan dan dapat memicu bencana lebih besar di masa depan.

“Plis stop pembangunan Arunika, sudah membabad habis,” tulis akun @Activity.kt, yang mendapat banyak dukungan dari pengguna lainnya. Akun lain, @pengembarajiwa80, menyoroti dampak ekologis yang dirasakan warga. Ia menyebut bahwa air yang mengalir ke permukiman tiga desa di bawah Arunika menjadi keruh dan tak layak konsumsi sejak pembangunan dimulai.

Pemerhati lingkungan Avo Juhartono, melalui unggahan di Facebook pribadinya, menyatakan bahwa kapasitas daya dukung lingkungan di kawasan Palutungan telah melebihi ambang batas. “Daya dukung lingkungan kawasan Arunika melebihi kapasitasnya, diduga menjadi pemicu terjadinya longsor ke arah Cilengkrang,” tulisnya. Ia juga mendesak pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap izin dan pengawasan pembangunan wisata di kawasan lereng Gunung Ciremai.

Menanggapi peristiwa ini, Anggota DPRD Kuningan dari Fraksi Gerindra, Sri Laelasari, turut angkat bicara. Ia dikenal sebagai legislator yang aktif menyuarakan isu lingkungan dan konservasi kawasan pegunungan di Kuningan. “Ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Ada jejak aktivitas manusia yang perlu dievaluasi, terutama pembangunan besar-besaran yang mengabaikan prinsip kelestarian. Pemerintah harus tegas melakukan audit lingkungan dan moratorium sementara pembangunan di kawasan rentan bencana seperti Palutungan,” ujarnya.

Sri juga menegaskan keselamatan warga dan keberlanjutan alam harus menjadi prioritas di tengah geliat industri pariwisata. “Kami di DPRD akan mendorong rapat dengar pendapat dengan dinas terkait dan pengelola wisata. Jangan sampai kita mengorbankan masa depan lingkungan demi keuntungan sesaat,” tambahnya.

Peristiwa ini menjadi cermin dari dilema yang dihadapi banyak daerah wisata di Indonesia, antara menggenjot ekonomi lewat pariwisata dan menjaga harmoni dengan alam. Lembah Cilengkrang sendiri selama ini dikenal sebagai jalur favorit pecinta alam dan pendaki yang ingin merasakan ketenangan alam pegunungan.

Saat dikonfirmasi hingga saat ini belum ada jawaban dari pihak Arunika soal komentar video longsor yang terjadi di Arunika hingga Lembah Cilengkrang. Namun, masyarakat berharap bahwa pemerintah dan pengelola wisata dapat lebih memperhatikan kelestarian lingkungan dan keselamatan warga dalam mengembangkan industri pariwisata di daerah tersebut.

Berita Terkait