Rab. Feb 11th, 2026

Bunga Mahoni: Sebuah Kisah Takdir

“Aku pikir takdir itu seperti roda—berputar, melaju lurus, atau malah melingkar. Aku tak pernah bisa menebaknya, apalagi mengendalikannya. Meski begitu, aku tetap mencoba mengubahnya, walau akhirnya hanya menyerah pada apa yang sudah digariskan.” (Ki. Pandita)

Gerimis turun sebentar saja, menghapus debu yang lama membeku di tanah. Di antara butirannya, bunga mahoni berjatuhan. Kau bisa merindukan hujan, tapi jangan terlalu dalam. Jika tidak, ingatan yang tumpukannya sudah cukup berat bisa menghimpit dadamu hingga sulit bernapas. Bersyukurlah jika sebagian ingatan mulai terkikis; melupakan adalah anugerah yang membebaskan. Mari belajar melupakan, sebagaimana orang tua belajar menerima pikun. Tapi aku? Aku pikun tentang banyak hal, kecuali tentang dirimu.

Fuad membuka laci mejanya dan mengambil kotak kecil berisi cincin pertunangan. Beberapa bulan terakhir, hatinya tertambat pada Suci. Bersama, mereka melewati malam-malam panjang dan pagi-pagi penuh cerita yang sulit didefinisikan dengan pikiran—hanya hati yang bisa memahami. Di depan laptop yang tak terlalu baru, Fuad mengetikkan hipotesis untuk skripsi Suci. Jari-jemarinya menari di atas tombol keyboard, sesekali bersentuhan dengan jemari Suci, lalu saling menggenggam. Seperti bulan dan bintang yang saling memandang dalam malam panjang, ada momen-momen tak terkatakan yang menjadi saksi cinta mereka.

Namun, seperti takdir yang penuh pilihan, hati manusia pun begitu. Takdir adalah narasi dengan logika yang kadang dapat dituliskan, kadang hanya menjadi catatan kaki dalam hidup.

Fuad menatap kamar yang mulai kusam. Cat dinding mengelupas, kusen jendela lapuk dimakan waktu. Skripsi Suci telah selesai, dan esok adalah hari yang dijanjikan. Dengan harapan menggebu, cincin di tangannya siap ia pasangkan di jari manis Suci sebagai tanda ikatan cinta.

Di parkiran Alfamart, Fuad menunggu. Tempat yang sudah disepakati untuk bertemu, walau hanya sebentar. Tapi Suci tak kunjung datang. Fuad tahu, jauh di lubuk hatinya, ada lelaki lain yang kini mengisi hidup Suci. Meski begitu, ia tetap bertahan, menggenggam erat kotak cincinnya agar tak terjatuh bersama serpihan harapan. Hujan mulai turun, menyelimuti tubuhnya yang mematung, menggigil oleh dingin yang menusuk hingga ke ujung saraf.

Dari kejauhan, Suci sebenarnya ada di sana, bersembunyi di balik bayang. Air matanya mengalir perlahan, bercampur dengan debu yang beterbangan. Ia telah memilih jalan lain. Fuad bukan pilihan terbaik, dan ia harus mengakui itu dengan jujur sebelum semuanya menjadi terlalu dalam. Bersama angin kemarau yang mengeringkan hati, Suci pergi meninggalkan Fuad, memutuskan segala hubungan dan harapan yang pernah ada.

Di bawah pohon mahoni yang rimbun, Fuad mengubur kotak cincin itu di antara akar-akar yang mencuat dari tanah. Setiap kali bunga mahoni jatuh, udara di sekitarnya mengembuskan rasa pahit yang seakan abadi.

Suci mungkin telah melangkah pergi, tetapi perempuan selalu punya cara untuk menyembunyikan perasaannya. Ada nama-nama yang tetap mereka simpan di hati, meski tak pernah diungkapkan, bahkan kepada orang yang mereka cintai. Semua untuk menjaga hati atau menutupi kelemahan yang tak ingin dilihat siapa pun. Suci memilih takdir lain yang menurutnya lebih baik. Dan Fuad? Ia hanya bisa menerima dan mencoba melupakan.

“Apakah kau bisa mengerti? Sudahlah, lupakan saja.”

Ditulis untuk Bude Fuad dan Suci Tengah September 2024, saat hujan tiba.

Berita Terkait