Kam. Apr 30th, 2026

Peran Influencer Muda Bangun Narasi Persatuan Bukan Provokasi

Ciremainews – Peran influencer muda dalam membangun narasi persatuan di tengah derasnya arus informasi digital menjadi sorotan dalam dialog kebangsaan yang digelar pada 15 Desember pukul 07.00 WIB di Aula MAN 2 Kediri. Kegiatan tersebut diikuti ratusan pelajar yang antusias membahas bagaimana media sosial dapat menjadi ruang edukatif, bukan arena provokasi.

Dalam forum tersebut, Anggota MPR RI, KH. An’im Falahuddin Mahrus, menegaskan bahwa influencer muda memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, khususnya di kalangan generasi Z. Karena itu, arah narasi yang dibangun di ruang digital sangat menentukan kualitas persatuan bangsa.

“Influencer hari ini bukan sekadar pembuat konten, tetapi pembentuk cara pandang. Kalau narasinya provokatif, dampaknya luas. Tapi kalau narasinya menyejukkan dan mempersatukan, dampaknya juga besar bagi stabilitas sosial,” ujarnya.

KH. An’im menilai, di tengah dinamika politik dan isu-isu sensitif, media sosial sering kali dipenuhi konten yang memancing emosi dan memperuncing perbedaan. Ia mengingatkan bahwa konten provokatif memang cepat viral, namun berisiko merusak harmoni sosial.

Sebaliknya, narasi persatuan yang dibangun dengan pendekatan kreatif, edukatif, dan relevan justru dapat memperkuat solidaritas kebangsaan. Influencer muda dinilai mampu mengemas pesan toleransi, moderasi, dan kebangsaan dalam format yang ringan dan mudah diterima generasi sebaya.

“Jangan tergoda popularitas sesaat dengan membuat konten yang memecah belah. Jadilah influencer yang membawa manfaat. Viral itu bonus, tapi nilai persatuan adalah tanggung jawab,” tegasnya.

Ia juga mendorong pelajar untuk menjadi kreator konten yang cerdas dan beretika, serta memahami dampak jangka panjang dari setiap unggahan. Menurutnya, literasi digital dan kesadaran kebangsaan harus berjalan seiring.

Dialog berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari siswa terkait batas kebebasan berekspresi di media sosial dan cara membedakan kritik yang konstruktif dengan provokasi. KH. An’im menjelaskan bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi harus disampaikan secara santun dan berbasis data, bukan ujaran kebencian.

Kegiatan di Aula MAN 2 Kediri tersebut ditutup dengan ajakan agar para pelajar berani menjadi agen perubahan di ruang digital. Influencer muda, kata KH. An’im, bukan hanya soal jumlah pengikut, tetapi tentang seberapa besar pengaruh positif yang ditinggalkan bagi masyarakat dan bangsa.

Berita Terkait