Kam. Apr 30th, 2026

Sudjatmiko: Sosialisasi 4 Pilar Harus Libatkan Pemuda Secara Aktif dan Kontekstual

Ciremainews – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Sudjatmiko, S.T., menegaskan pentingnya pendekatan edukasi partisipatoris dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, khususnya bagi generasi muda. Hal tersebut disampaikannya dalam forum sosialisasi bertajuk “Pemuda dan Kedaulatan Bangsa dalam Pengamalan Pancasila” yang digelar pada [nama tempat/kegiatan].

Dalam pemaparannya, Sudjatmiko menekankan bahwa kegiatan sosialisasi tidak boleh bersifat satu arah dan monoton. “Pemuda harus dilibatkan secara aktif, bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek dalam proses sosialisasi. Diskusi terbuka, debat kebangsaan, serta studi kasus nyata merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan daya serap dan keterlibatan intelektual mereka,” ujar Sudjatmiko melalui pernyataan tertulisnya, Rabu (14/0

Ia juga menyoroti pentingnya kontekstualisasi nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus globalisasi dan era digital. Menurutnya, tantangan seperti radikalisme daring, politik identitas, dan disinformasi menuntut pemuda memiliki kompas moral yang kuat, dan Pancasila harus menjadi landasan etik dalam bersikap dan bertindak.

“Nilai persatuan, keadilan, dan kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila sangat relevan untuk menjadi penuntun dalam ekosistem digital saat ini. Pemuda perlu memahami bahwa pengamalan Pancasila tidak berhenti pada hafalan, tetapi menjadi pijakan dalam berinteraksi di ruang publik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sudjatmiko menekankan pentingnya membentuk pemuda sebagai agen perubahan. Ia mendorong adanya program lanjutan seperti pelatihan kepemudaan berbasis Pancasila, beasiswa kebangsaan, dan forum aksi pemuda untuk memperkuat kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa.

“Pemuda dari berbagai latar belakang—baik santri, mahasiswa, pelajar, maupun pekerja kreatif—perlu dirangkul melalui pendekatan yang inklusif dan berbasis lokalitas. Ini harus menjadi gerakan lintas sektor yang melibatkan kampus, pesantren, organisasi masyarakat sipil, hingga tokoh muda inspiratif,” tambahnya.

Di era komunikasi digital, Sudjatmiko juga menilai bahwa strategi sosialisasi perlu beradaptasi. Ia mendorong pemanfaatan media sosial, video pendek, podcast, serta narasi kultural sebagai alat untuk menyampaikan pesan kebangsaan secara kreatif dan dekat dengan keseharian pemuda.

Tak kalah penting, Sudjatmiko menyarankan adanya evaluasi menyeluruh dan riset akademik terhadap dampak sosialisasi yang dilakukan. Menurutnya, hanya dengan data yang terukur dan analisis objektif, program sosialisasi 4 pilar bisa dikembangkan secara tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Sosialisasi Pancasila harus menjadi gerakan yang hidup dan terus bertumbuh bersama dinamika zaman. Pemuda adalah kunci keberlanjutan bangsa—jika mereka memahami dan mengamalkan Pancasila dengan utuh, maka kedaulatan bangsa akan tetap terjaga,” tutupnya.

Berita Terkait