Sab. Jan 17th, 2026

Transformasi Arunika Citra Satelit 2015 dan 2025, Dulu Dominasi Pertanian

CiremaiNews, Kuningan – Kawasan Arunika di Kabupaten Kuningan mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir. Dari lahan pertanian kering yang tak banyak tersentuh pembangunan, kawasan ini kini menjelma menjadi destinasi wisata populer yang memadukan panorama alam, kuliner, dan ruang publik yang tertata.

Perubahan tersebut tampak jelas melalui perbandingan citra satelit tahun 2015 dan 2025. Pada satu dekade lalu, wilayah Arunika masih berupa hamparan tanah terbuka dan kebun sederhana. “Hampir seluruh area masih berupa tanah kosong tanpa bangunan berarti,” ungkap catatan dokumentasi terkait kondisi kawasan pada tahun 2015.

Staf Pengembangan Bisnis Puspita Cipta, Mukhlis, menyebut bahwa jejak pertanian tradisional sangat dominan saat itu. “Waktu itu infrastrukturnya minim sekali, hanya mengandalkan jalur utama. Aktivitas masyarakat pun terbatas di lahan-lahan garapan,” ujarnya.

Kini, citra satelit terbaru menunjukkan perubahan signifikan. Kawasan Arunika telah berkembang dengan hadirnya bangunan fasilitas wisata, ruang publik, area hijau, serta akses jalan yang jauh lebih baik. Suasana yang dulu sepi kini berganti menjadi ruang aktivitas masyarakat dan wisatawan yang menikmati pemandangan perbukitan dan suasana kuliner terbuka.

Di balik pesatnya perkembangan tersebut, terdapat sisi konservasi lingkungan yang jarang diketahui publik. Sebidang area di Arunika difungsikan sebagai lokasi pembibitan tanaman endemik Kuningan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah bencana alam di wilayah perbukitan.

Mukhlis menegaskan bahwa aspek lingkungan tidak pernah ditinggalkan. “Keberadaan vegetasi yang diperbanyak melalui pembibitan terbukti membantu memperkuat struktur tanah, menambah tutupan hijau, dan mengurangi potensi bencana hidrometeorologi,” jelasnya.

Berbagai jenis tanaman dibibitkan di lokasi tersebut, seperti Pinus, Saninten (Castanopsis argentea), Jamuju (Dacrycarpus imbricatus), serta tanaman lokal bernilai ekologis lainnya. Upaya ini menjadi bagian dari pendekatan pariwisata berkelanjutan yang diterapkan di kawasan Arunika.

Transformasi ini kini menjadi contoh bahwa pengembangan wisata tak harus meninggalkan aspek kelestarian lingkungan. “Masyarakat yang menikmati suasana hangat dan estetis di Arunika mungkin tidak menyangka bahwa satu dekade lalu area ini hanyalah hamparan lahan tandus,” tutupnya.

Berita Terkait