Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews- Di dalam kehidupan ini, selain kesenangan kenikmatan dunia, tidak jarang kita merasa bahwa kehidupan dunia ini tidak bersahabat dan menghimpit kita. Musibah bencana alam terjadi, kesulitan ekonomi terasa makin berat, dan kegelisahan karena tekanan hidup dan sosial semakin menyesakkan hati.
Namun bagi seorang muslim yang beriman, dinamika adanya kesulitan ini harus dijadikan momentum untuk merenung akan perbuatan kita, memahami isyarat, dan berupaya memperbaiki diri. Allah subhanahu wataala berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 35).
Kesulitan Hidup adalah Bagian dari Pengingat
Kesenangan dan bencana yang terjadi adalah bagian dari ketetapan Allah, di mana tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa izin-Nya. Dalam pandangan Islam, kesulitan itu bukanlah berarti azab dari Allah.
Bencana alam, wabah atau krisis kekurangan terkadang merupakan “cambuk kecil” agar kita kembali sadar bahwa ada kekuatan Allah Yang Maha Kuasa yang mengatur semua yang terjadi. Hakikatnya peristiwa-peristiwa tersebut adalah pengingat agar manusia berbenah dan bersungguh sungguh bertaubat kepada Allah. Allah subhanahu wataala berfirman: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:2).
Allah subhanahu wata’ala memberikan ujian hidup, apakah manusia benar benar beriman kepada Allah dan beramal shaleh. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita benar benar beriman dan beribadah hanya kepada-Nya? Sudahkan meminta pertolongan hanya kepada Allah? Sudahkah kita mencontoh Rosululloh Muhammad shallahualaihi wasallam?. Allah subhanahu wataala berfirman: “Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ sementara ia tidak diuji oleh Allah?” (QS. Al-Ankabut: 2).
Langkah Menghadapi Kesulitan Ekonomi
Penulis rangkumkan dari berbagai sumber, langkah agar seorang muslim agar dapat melewati kondisi perekonomian yang sulit-krisis ekonomi, antara lain:
Memperkokoh Keimanan dan meningkatkan ketakwaan: Meyakini sesuai janji Allah bahwa setiap kesulitan pasti disertai dengan kemudahan. Dengan bertakwa kepada Allah, maka Allah berjanji akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan.
Sabar dan ridho akan takdir Allah: kesuksesan ekonomi dan sosial membutuhkan waktu, kesabaran, terus mau belajar dan beradaptasi, serta daya tahan tinggi.
Memperbanyak beramal Shaleh dan bertaubat dari dosa: beribadah sesuai tuntunan, memberikan manfaat, menolong sesama-tingkatkan kepekaan sosial, bersedekah dan membangun jaringan sosial-bisnis yang positif. Lawan hawa nafsu agar kita berhenti terus melakukan dosa dan kerusakan. Keluarkan zakat bagi yang kaya.
Terus berdoa dan bertawakal: memohon kepada Allah akan pertolongan dan diberikan rezeki yang luas (wasiah), halal, baik (thayyibah), dan berkah (mubarokah).
Sikap tunduk dan sujud bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pengakuan bahwa kita itu lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Tidak bergantung atau meminta-minta kepada makhluk lain kecuali dalam keadaan darurat.
Meningkatkan etos kerja dan profesionalitas: Bersungguh-sungguh dalam bekerja, ikhlas, dan tidak terburu-buru mengais rezeki lewat jalan hina/korupsi dan bisnis harom yang dilarang agama.
Melatih hidup Sederhana dan Qanâ’ah: Menerapkan gaya hidup sederhana dan memelihara sifat qanâ’ah (merasa cukup). Rezeki yang sedikit jika dibarengi kesederhanaan akan terasa lapang, sebab qanâ’ah adalah kekayaan batin yang tidak akan pernah habis.
Menjaga keharmonisan antara yang kaya dengan yang miskin: perbedaan kekayaan mengandung hikmah, agar manusia saling mengikat, saling membutuhkan, dan bisa saling memberikan manfaat. Islam mengajarkan agar manusia berinteraksi tanpa saling mengeksploitasi, agar terwujud persatuan dan kehidupan yang harmonis dan kemajuan bersama.
Mari Bertaubat dan Meningkatkan Ketakwaan.
Ujian dan kesulitan hidup, termasuk kondisi ekonomi yang semakin sulit sejatinya adalah pengingat bagi kita untuk kembali ke jalan Allah. Kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan apalagi marah (tidak ridho pada takdir Allah) terhadap keadaan yang menimpa.
Berkeluh kesah, marah, berontak kepada pemimpin, dan putus asa pada keaadanan tidak dapat menghilangkan kesulitan yang sedang kita hadapi ini. Setiap musibah bisa jadi merupakan akibat dari kesalahan dan dosa-dosa kita sendiri.
Oleh karena itu, mari bersabar, bertobat, serta terus berbenah diri. Allah subhanahu wataala berfirman: “Sungguh benar-benar Kami akan uji kalian sampai Kami mengetahui di antara kalian yang bersungguh-sungguh dan bersabar…” (QS. Muhammad: 31).
Mari meningkatkan ketakwaan kepada Allah, agar mendapat jalan keluar dan rejeki, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Demikian, semoga artikel ini menjadi pengingat bagi penulis pribadi dan pembaca sekalian.
Tetaplah bersemangat menjalani kehidupan, memohon pertolongan hanya kepada Allah ta’ala, mendoakan para pemimpin agar amanah dan senantiasa berprasangka baik kepada Allah, insya Allah kita akan mendapatkan jalan keluar dari Allah. Wallahu alam bishawab.







