Ciremainews, Kuningan — Pegiat sosial sekaligus Inisiator Gerakan KITA, Ikhsan Marzuki, mengkritisi narasi publik terkait klaim keberhasilan penghijauan kawasan Gunung Ciremai.
Ia menilai, klaim tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekologis yang sebenarnya dan berpotensi menyesatkan pemahaman masyarakat.
Ikhsan menyatakan bahwa pengambilan sebagian contoh kawasan hijau untuk menggambarkan kondisi keseluruhan Gunung Ciremai merupakan kesalahan berpikir.
“Mengambil sebagian kecil contoh untuk menyimpulkan keseluruhan adalah bentuk kesalahan berpikir. Klaim seperti itu bukan hanya menyesatkan, tetapi juga mengaburkan fakta ekologis yang lebih besar,” ujarnya.
Menurut Ikhsan, narasi yang menyebut kawasan Ciremai yang dahulu gundul kini telah hijau kembali akibat program rehabilitasi dalam satu dekade terakhir tidak sepenuhnya benar.
Ia mencontohkan wilayah Palutungan, Kecamatan Cigugur, yang sejak lama merupakan sentra pertanian sayuran. Kondisi lahan terbuka di kawasan tersebut, kata dia, merupakan konsekuensi dari aktivitas pertanian yang membutuhkan paparan sinar matahari.
Ia mengakui adanya upaya reboisasi di sejumlah lahan bekas ladang dan perkebunan. Namun, Ikhsan menilai di sisi lain justru terjadi alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan wisata dan bangunan komersial, terutama di wilayah kaki Gunung Ciremai.
Kondisi tersebut, lanjut Ikhsan, sejalan dengan hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebutkan bahwa Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) termasuk kawasan konservasi dengan tingkat degradasi tinggi akibat alih fungsi lahan dan kebakaran hutan.
Bahkan, berdasarkan kajian lanjutan, lebih dari 50 persen kawasan TNGC dinyatakan terdegradasi dan membutuhkan restorasi ekosistem.
“Restorasi bukan hanya menanam pohon, tetapi memulihkan fungsi ekologis, keanekaragaman hayati, serta sistem penyangga kehidupan. Proses ini belum sepenuhnya berjalan di Ciremai,” kata Ikhsan.
Menanggapi anggapan bahwa pembangunan di kaki Gunung Ciremai berada di luar kawasan TNGC dan berdiri di atas lahan milik pribadi, Ikhsan menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan semata status kepemilikan lahan. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah daya dukung ekologis kawasan secara menyeluruh.
Ia juga menyoroti penggunaan citra satelit sebagai dasar klaim keberhasilan penghijauan. Menurut Ikhsan, data tersebut justru menunjukkan terjadinya perubahan besar fungsi lahan dari kawasan pertanian dan perkebunan menjadi kawasan wisata buatan.Ikhsan mengingatkan agar tidak ada pihak yang menggiring opini publik melalui narasi sepihak.
Ia menilai kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia berbeda dengan siklus alami yang dimiliki bumi. “Kerusakan akibat tangan manusia tidak bisa disembuhkan oleh bumi dengan sendirinya,” ujarnya.Ia mencontohkan kondisi di Kecamatan Cigugur, yang berada di kaki Gunung Ciremai dan memiliki banyak sumber mata air.
Namun, masyarakat di wilayah tersebut kerap mengalami kekeringan. “Ibarat ayam mati di lumbung padi,” kata Ikhsan.Ikhsan menegaskan bahwa persoalan lingkungan di Gunung Ciremai perlu dilihat secara jujur dan menyeluruh. Menurutnya, keseimbangan ekologis harus menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan dan aktivitas pembangunan di kawasan tersebut.

